Lawan Gempuran Gadget, SDN 2 Bulurejo Juwiring Hidupkan Kembali Permainan Jadul di Hari Pramuka
CYBER88. I. KLATEN- Di tengah derasnya arus teknologi dan semakin lekatnya anak-anak dengan telepon pintar, SD Negeri 2 Bulurejo, Juwiring, Kabupaten Klaten, memilih langkah berbeda. Momentum Hari Pramuka 2026 dimanfaatkan sekolah untuk menghidupkan kembali permainan tradisional yang mulai tergerus zaman.
Bukan sekadar perlombaan, kegiatan tersebut menjadi upaya sekolah mengenalkan kembali permainan warisan leluhur kepada generasi muda sekaligus mengajak siswa meninggalkan sejenak layar gawai dan menikmati permainan yang sarat nilai kebersamaan.
Kepala SD Negeri 2 Bulurejo, Juwiring, Widodo, mengatakan rangkaian kegiatan dalam memperingati Hari Pramuka tahun 2026 diisi dengan berbagai kegiatan, mulai dari malam tirakatan, ulang janji, upacara Hari Pramuka hingga berbagai perlombaan bernuansa tradisional.
“Dalam rangka Hari Pramuka 2026, sekolah kami melaksanakan sejumlah kegiatan, di antaranya malam tirakatan, ulang janji, upacara Hari Pramuka, kemudian dilanjutkan berbagai lomba untuk anak-anak,” ujar Widodo, Sabtu (15/8/2026).
Menurutnya, pemilihan permainan tradisional bukan tanpa alasan. Di tengah perkembangan teknologi yang membuat anak-anak semakin akrab dengan gadget, permainan tradisional dinilai penting untuk tetap diperkenalkan dan dilestarikan.
Widodo menyebut permainan tradisional memiliki nilai edukasi yang tidak kalah dengan permainan modern. Anak-anak dapat belajar bekerja sama, bersosialisasi, berkompetisi secara sehat sekaligus mengenal budaya yang diwariskan oleh generasi sebelumnya.
“Kenapa kami memilih kegiatan tradisional? Karena di zaman sekarang permainan tradisional hampir dilupakan anak-anak. Mereka lebih banyak bermain HP, gadget dan sebagainya. Kami ingin tetap menghidupkan permainan tradisional agar anak-anak tidak melupakan apa yang diwariskan nenek moyang,” tegasnya.
Beragam permainan pun disiapkan untuk memeriahkan kegiatan. Di antaranya permainan tangkle, permainan kelompok, bola kecil, memecahkan balon serta berbagai permainan tradisional lainnya.
Menariknya, antusiasme siswa justru sangat tinggi. Anak-anak yang selama ini lekat dengan permainan digital ternyata tetap menikmati permainan sederhana yang dilakukan secara langsung bersama teman-temannya.
“Alhamdulillah, anak-anak sangat antusias mengikuti lomba tradisional. Ternyata tidak kalah dengan kegiatan model zaman sekarang yang menggunakan HP. Mereka sangat menikmati permainan tersebut,” kata Widodo.
Bagi pihak sekolah, antusiasme siswa tersebut menjadi bukti bahwa permainan tradisional sebenarnya masih memiliki tempat di hati generasi muda apabila dikemas secara menarik.
Lebih dari sekadar hiburan, kegiatan tersebut juga menjadi sarana pendidikan karakter. Siswa belajar sportivitas, kerja sama, kedisiplinan, keberanian, komunikasi dan menghargai teman.
Widodo berharap generasi muda tidak kehilangan akar budaya akibat perkembangan teknologi yang begitu pesat. Ia mengajak para orang tua, sekolah dan masyarakat bersama-sama menjaga keberadaan permainan tradisional agar tidak hilang ditelan zaman.
“Pesan kami, khususnya kepada generasi muda dan anak-anak, mari kita tetap nguri-uri apa yang telah ditinggalkan leluhur dan nenek moyang kita. Jangan sampai hal-hal tradisional yang baik kita tinggalkan. Sampai kapan pun harus tetap kita uri-uri,” pungkasnya.
Momentum Hari Pramuka di SD Negeri 2 Bulurejo, Juwiring itu sekaligus menjadi pengingat bahwa kemajuan teknologi tidak harus membuat permainan tradisional tersingkir.
Di tengah dunia yang semakin digital, permainan jadul justru kembali menjadi jembatan untuk memperkuat kebersamaan, karakter dan kecintaan anak-anak terhadap warisan budaya bangsa.


Komentar Via Facebook :