Habib Rifqi Soroti Etika Komunikasi LASQI Kota Ambon: “Tidak Bisa Begitu Saja”

Habib Rifqi Soroti Etika Komunikasi LASQI Kota Ambon: “Tidak Bisa Begitu Saja”

CYBER88 | AMBON — Ketua Yayasan Ar Rahmah Ambon sekaligus Penasihat DPP FPMM, Habib Rifqi Alhamid, S.Kom., M.Si., menyoroti etika komunikasi dalam pembahasan rencana kerja sama dengan Lembaga Seni dan Qasidah Indonesia (LASQI) Kota Ambon.

Bagi Habib Rifqi, persoalan tersebut bukan tentang apakah kerja sama akhirnya disetujui atau tidak. Ia mempersoalkan proses komunikasi setelah dua kali pertemuan dilakukan dan konsep kegiatan telah dibahas.

Menurut dia, ketika seseorang telah meluangkan waktu, mengarahkan, serta hadir dalam pertemuan berdasarkan Etika komunikasi sebelumnya, proses tersebut semestinya tidak berakhir tanpa kepastian.

“Yang saya tekankan bukan soal disetujui atau tidaknya kerja sama, melainkan etika dan tata cara berkomunikasi. Ketika sudah membuka komunikasi dengan seseorang, maka wajib selesaikan dengan jawaban yang jelas: ya atau tidak. Cukup itu saja,” kata Habib Rifqi dalam konferensi pers di Ambon, Rabu (2/9/2026).

Ia mengatakan dirinya bekerja berdasarkan jadwal. Karena itu, setiap pertemuan maupun agenda yang telah disepakati menjadi bagian dari komitmen profesional yang harus dihargai.

“Habib ini bekerja sesuai jadwal. Tidak bisa begitu saja, sudah bertemu, sudah membahas konsep, kemudian tidak ada kabar. Kami juga punya waktu, punya pekerjaan, dan punya tanggung jawab,” ujarnya.

Habib Rifqi menjelaskan komunikasi tersebut bermula ketika pihak yang disebutnya dari LASQI menghubunginya dan meminta untuk bertemu.

Pertemuan pertama berlangsung pada 14 Agustus sekitar pukul 14.00 WIT di Cafe Pelangi. Dalam pertemuan tersebut, kata dia, turut hadir Ibu Devi Bin Umar.

Saat itu, Habib Rifqi mengaku memaparkan gagasan dan ide kegiatan keagamaan yang meliputi pembacaan Maulid, Mahalil, dan Hadrah Banjariyah.

“Semua ide dan gagasan saya susun dan saya ajarkan kepada mereka, ketika mereka meminta tangapan” katanya.

Pembahasan kemudian berlanjut pada 17 Agustus saat sarapan pagi di Hotel Santika. Pembahasan kegiatan kembali dibicarakan dalam pertemuan kedua tersebut.

Menurut Habib Rifqi, sejak awal dirinya juga telah menyampaikan bahwa pihaknya tidak memungut biaya dalam kegiatan tersebut.

“Bahkan saat kami diundang pada acara syukuran 17 Agustus di kediaman Wakil Wali Kota Ambon, kami tidak meminta dan tidak menerima bayaran. Itu ada buktinya,” ujarnya.

Habib Rifqi menegaskan, dirinya tidak mempersoalkan apabila LASQI Kota Ambon pada akhirnya memilih untuk tidak melanjutkan rencana kerja sama.

Baginya, sebuah kerja sama dapat diterima ataupun ditolak. Namun, keputusan tersebut menurut dia perlu disampaikan secara terbuka agar tidak menimbulkan ketidakjelasan.

“Kalau konsepnya mau dipakai tetapi tidak jadi bekerja sama, cukup sampaikan dengan sopan. Mohon maaf, kita tidak jadi bekerja sama, tetapi konsepnya kami pakai. Terima kasih. Itu saja,” katanya.

Ia mengaku hingga kegiatan selesai tidak memperoleh pemberitahuan mengenai kelanjutan komunikasi tersebut.

Habib Rifqi juga menyebut masih menyimpan bukti komunikasi terkait pembahasan tersebut, termasuk percakapan pada 23 Agustus. Menurut dia, dalam komunikasi itu terdapat janji bahwa dirinya akan kembali dihubungi setelah proses audisi selesai.

“Kalau dibantah, saya punya bukti lengkap, percakapan tanggal 23 Agustus, termasuk janji akan ditelepon kembali setelah audisi. Sampai sekarang tidak ada kejelasan,” ujarnya.

Ia menegaskan, persoalan tersebut bukan mengenai kontrak atau perjanjian tertulis.

“Ini bukan soal perjanjian atau kontrak tertulis. Kami sudah bertemu dua kali dan itu menyita waktu. Tidak gampang begitu saja ditinggalkan tanpa jawaban,” katanya.

Menurut Habib Rifqi, komunikasi dalam membangun kerja sama bukan sekadar pertukaran pesan atau pertemuan. Ada waktu, tenaga, pemikiran, dan komitmen yang ikut diberikan oleh masing-masing pihak.

Karena itu, ia meminta agar pihak yang membuka komunikasi dengan seseorang dapat menyelesaikan komunikasi tersebut secara baik, termasuk ketika keputusan akhirnya adalah tidak melanjutkan kerja sama.

“Kalau tidak cocok, katakan tidak cocok. Kalau tidak jadi, katakan tidak jadi. Kami fleksibel. Tetapi hargai waktu dan dedikasi kami,” ujarnya.

Ia juga membuka ruang apabila Ketua LASQI Kota Ambon ingin menyelesaikan persoalan tersebut secara kekeluargaan.

“Kalau Ketua LASQI Kota Ambon berniat menyelesaikan masalah ini secara kekeluargaan, pintu saya tetap terbuka,” katanya.

Habib Rifqi meminta persoalan tersebut tidak dikaitkan dengan Pemerintah Kota Ambon maupun pihak lainnya.

Ia menegaskan hubungan baik dengan Pemerintah Kota Ambon, termasuk dengan Wakil Wali Kota Ambon, tetap berjalan.

“Kalau bersalah, akui dan minta maaf. Jangan membenarkan diri lalu melempar ke sana kemari,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan agar lembaga maupun organisasi yang berhubungan dengan tokoh agama tetap mengedepankan etika, moral, dan adab dalam berkomunikasi.

“Jangan anggap karena kami bukan pejabat, hanya memakai kopiah, maka kami bisa diinjak-injak. Menghargai kami berarti menghargai agama,” katanya.

Habib Rifqi berharap persoalan ini tidak berkembang menjadi konflik, melainkan menjadi pengingat bahwa membangun kerja sama membutuhkan komunikasi yang jelas dan saling menghargai.

“Kami berharap tokoh agama dihargai, tidak dipermainkan. Kami berniat memberikan yang terbaik untuk Kota Ambon. Kalau tidak cocok, bicarakan. Kami fleksibel. Tetapi hargai waktu dan dedikasi kami,” ujarnya.

Menutup keterangannya, Habib Rifqi mengutip pepatah Arab mengenai pentingnya adab dan etika dalam kehidupan.

“Barangsiapa ingin hidupnya selamat, hendaklah ia memiliki etika, adab, dan moral. Meskipun ilmunya sedikit, dengan adab ia akan selamat. Tanpa adab, sekalipun berilmu, ia akan merugikan diri sendiri.”

“Yang saya pertanyakan hanya satu: etika, moral, dan adab komunikasi,” pungkasnya.

Komentar Via Facebook :