Lagi-lagi MBG, Siswa MIM di Ceper Diduga Alami Gangguan Kesehatan Usai Santap Makanan
CYBER88 | KLATEN — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi sorotan. Sejumlah siswa Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah (MIM) di Kecamatan Ceper, Kabupaten Klaten, diduga mengalami gangguan kesehatan setelah menyantap makanan MBG.
Kejadian ini menambah daftar persoalan yang muncul dalam pelaksanaan program MBG, khususnya terkait jaminan keamanan dan kualitas makanan yang dikonsumsi para siswa.
Meski demikian, penyebab pasti gangguan kesehatan tersebut belum dapat dipastikan.
Pemerintah Kecamatan Ceper menegaskan masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium untuk mengetahui apakah keluhan siswa berkaitan dengan makanan MBG atau faktor lainnya.
Direktur Yayasan penyedia makanan MBG,
Bambang Sridaya, mengatakan pihaknya tidak ingin gegabah menyebut kejadian tersebut sebagai keracunan makanan. Namun, evaluasi terhadap bahan pangan yang digunakan tetap dilakukan. Salah satu bahan yang menjadi perhatian adalah ikan dori yang digunakan sebagai menu MBG pada hari kejadian.
Menurut Bambang, ikan tersebut dibeli dalam kondisi kemasan. Setelah kemasan dibuka, pihaknya menemukan kondisi bahan di bagian tengah yang dinilai tidak sesuai dengan kondisi bagian luarnya.
“Kalau dari standar kebersihan dan pemasakan sudah kami pantau. Tetapi untuk ikan dori ini dibeli dalam bentuk kemasan. Setelah dibuka, ternyata kondisi di bagian tengah tidak seperti yang terlihat dari luar,” ujarnya, Kamis (3/9/2026).
Bambang mengakui sebelumnya dirinya telah mengarahkan agar bahan pangan, terutama daging dan ikan, menggunakan bahan yang segar serta diperiksa terlebih dahulu sebelum masuk proses pengolahan.
“Selama ini saya sudah menganjurkan jangan membeli bahan dalam kemasan. Lebih baik bahan yang fresh dan sudah diperiksa. Ini baru kali pertama menggunakan ikan dori kemasan dan ternyata muncul persoalan,” katanya.
Menu MBG yang dibagikan pada saat kejadian antara lain ikan dori dan buah semangka dengan jumlah sekitar 2.500 porsi.
Namun, hingga kini jumlah pasti siswa yang mengalami keluhan belum diketahui. Data tersebut masih dalam proses pendataan dan belum dinyatakan valid oleh pihak pemerintah.
Bambang menegaskan, pihaknya masih menunggu pemeriksaan dari instansi terkait untuk memastikan penyebab kejadian.
“Jangan langsung menyimpulkan keracunan. Yang pasti ada evaluasi terhadap bahan yang digunakan. Untuk penyebab pastinya kita menunggu pemeriksaan dari pihak terkait,” ujarnya.
Sementara itu, Camat Ceper Aris Munandar mengatakan pemerintah kecamatan belum menerima data final mengenai jumlah siswa yang mengalami gangguan kesehatan maupun kondisi masing-masing siswa.
“Ini baru dugaan sementara. Data yang kami terima juga belum valid karena masih dalam proses pendataan,” kata Aris.
Aris mengatakan Dinas Kesehatan dan kepolisian telah turun melakukan pengecekan. Pemeriksaan juga dilakukan terhadap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) sebagai penyedia makanan MBG.
Menurutnya, pemerintah tidak boleh gegabah mengambil kesimpulan. Namun, dugaan gangguan kesehatan tersebut juga tidak boleh dianggap sepele, mengingat makanan MBG dikonsumsi oleh ribuan siswa.
“Teman-teman dari Dinas Kesehatan sudah datang ke sini, dari kepolisian juga sudah melakukan pengecekan. Kita tetap menunggu hasil pemeriksaan laboratorium,” ujarnya.
Pemerintah Kecamatan Ceper meminta masyarakat dan orang tua siswa tetap tenang sembari menunggu hasil pemeriksaan resmi.
Di sisi lain, kejadian ini kembali menyoroti pentingnya pengawasan ketat terhadap program MBG. Makanan yang diperuntukkan bagi anak-anak tidak cukup hanya dipastikan bergizi, tetapi juga wajib memenuhi standar keamanan pangan secara ketat.
Mulai dari pemilihan bahan baku, proses penerimaan dan penyimpanan, pemeriksaan kualitas, pengolahan, hingga distribusi harus benar-benar diawasi. Sebab, ketika makanan dikonsumsi ribuan anak, kelalaian sekecil apa pun dalam rantai penyediaan pangan dapat berisiko menimbulkan dampak yang jauh lebih besar.
Kini, publik menunggu hasil laboratorium untuk menjawab satu pertanyaan penting: apa sebenarnya yang menyebabkan sejumlah siswa MIM di Ceper mengalami gangguan kesehatan setelah menyantap MBG?
Hasil pemeriksaan tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai formalitas, tetapi menjadi dasar evaluasi dan langkah perbaikan agar kejadian serupa tidak kembali terulang.


Komentar Via Facebook :