Konflik Hebat Manusia dengan Satwa dan Hutan Sumatera yang Memilukan

Konflik Hebat Manusia dengan Satwa dan Hutan Sumatera yang Memilukan

Ilustrasi

CYBER88 MEDAN — Konflik manusia dan satwa di Sumatera kian masif akibat degradasi hutan yang menjadi habitat satwa. Selain mengancam keselamatan warga, sejumlah satwa endemik yang dilindungi juga terancam punah.

Konflik terjadi dengan sejumlah satwa, seperti gajah sumatra (Elephant maximus sumatranus), harimau sumatra (Panthera tigris sumatrae), orangutan sumatra (Pongo abelii) dan orangutan tapanuli (Pongo tapanuliensis), serta badak sumatra (Dicerorhinus sumatrensis). 

Berdasarkan data yang dilansir dari Kompas, dari sejumlah pihak, hingga Senin (18/02/2020), ratusan konflik satwa terjadi selama tiga tahun terakhir. Puluhan warga tewas dan sejumlah satwa mati.

Di Sumatera Selatan, misalnya, pada 2017 terjadi enam kasus konflik manusia dan satwa, dua orang tewas. Pada tahun berikutnya meningkat menjadi 10 kasus, menelan dua korban tewas. 

Pada 2019 naik lagi menjadi 24 kasus, dengan korban tewas mencapai enam orang. Kasus yang menjadi sorotan adalah konflik harimau di Muara Enim, Lahat, dan Pagar Alam. Dalam tiga bulan terakhir ada tujuh kasus yang menewaskan lima orang dan dua orang terluka.

Konflik terbaru terjadi akhir Januari lalu saat Darmawan (42), penebang kayu di Kecamatan Pelangiran, Kabupaten Indragiri Hilir, tewas diterkam harimau. 

Sementara di Aceh, harimau dalam beberapa hari terakhir juga terdeteksi berkeliaran di kawasan permukiman di Desa Darul Makmur, Kota Subulussalam. Dua sapi dimangsa harimau. Warga resah hingga tak berani ke kebun, takut bertemu harimau.

”Selama habitat satwa masih terganggu, konflik antara satwa dan manusia tidak akan pernah berhenti,” kata Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumsel Genman Suhefti Hasibuan.

Gangguan itu meliputi penebangan liar, alih fungsi hutan menjadi perkebunan dan permukiman, serta perburuan satwa.

Di Sumatera Utara, misalnya, konflik beberapa tahun terakhir bermula dari harimau yang terkena jerat. Pada Mei-Juli 2019, satu orang tewas dan satu orang lainnya terluka parah akibat diterkam harimau. Keduanya merupakan warga desa penyangga Suaka Margasatwa Barumun di Kabupaten Padang Lawas. Harimau itu berhasil ditangkap petugas pada Juli 2019.

”Setelah diperiksa, ternyata kaki kanan harimau mulai membusuk karena terbelit jerat kawat,” kata Kepala BKSDA Sumut Hotmauli Sianturi.

Konflik dengan gajah tak kalah masif. Sepanjang 2016 hingga 2019, tercatat 322 kali konflik gajah dan manusia di Aceh. Sebanyak 39 gajah mati.

Terputusnya jalur jelajah, misalnya, membuat kawanan gajah terkurung di kawasan Kecamatan Pintu Rime Gayo, Bener Meriah. Akibatnya, kawanan gajah merusak tanaman dan rumah warga. 

Bahkan, pada 16 Januari 2020, seekor gajah liar masuk ke pekarangan sekolah.

Kelompok gajah yang berada di kawasan Kecamatan Ketol, Aceh Tengah, juga terisolasi karena jalur jelajahnya terputus perkebunan sawit di Kabupaten Bireuen. Padahal, ruang jelajah kelompok gajah tersebut meliputi Aceh Tengah-Bener Meriah-Bireuen-Pidie Jaya.

(***)

Komentar Via Facebook :