Sekretaris Dirjen P2P Kesehatan RI, Achmad Yurianto Angkat Bicara

Kontribusi Hoaks Terhadap Pandemik Covid-19

Kontribusi Hoaks Terhadap Pandemik Covid-19

CYBER88.CO.ID | Jakarta - Dunia dihebohkan dengan pandemi Covid-19 (Coronavirus Disease 2019), lalu perlukah kita khawatir akan hal tersebut? Simak baik-baik informasi berikut ini. Jangan lupa baca hingga akhir untuk mendapatkan informasi yang akurat.

Dilansir dari channel Youtube Clarin Hayes dalam perbincangannya dengan Sekretaris Direktorat Jenderal P2P Kesehatan RI, Achmad Yurianto, pada posting-an 8 Maret lalu membahas tentang virus tersebut.

Mengapa virus tersebut tersebut dapat mematikan? Apakah yang diserang?

Covid-19 disebabkan oleh SARS Coronavirus Type 2, yang merupakan varian dari virus yang menyebabkan influenza, hanya saja virus ini tergolong baru. Kalau dibilang mematikan, ya, memang virus ini mematikan.

Pada tahun 2002, muncul virus SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome) dengan angka kematian hampir 13%. Kemudian tahun 2011 dari Timur Tengah dengan nama MERS (Middle East Respiratory Syndrome) dengan angka kematian antara 30% hingga 40%. Lalu yang terakhir, Covid-19 memiliki angka kematian di angka 2% sampai 3%.

Menurut Achmad Yurianto, tahun 2002 belum adanya smartphone, sehingga belum banyak yang tau. Lalu yang membuat gemparnya Covid-19 ini adalah booming-nya media sosial ditambah kreativitas yang arahnya tidak benar.

Yurianto menyebutkan, kreativitas tersebut disebarkan melalui jejaring sosial dengan memanfaatkan potongan film. Salah satu yang pernah ia lihat, yang positif terkena virus ditembak mati. ternyata, begitu ditelusuri adalah potongan film.

Menurutnya, virus corona lebih didominasi oleh teror informasi. Penyakit ini hanya influenza biasa. Fase awal gejala dan cara penularanya juga sama, kemudian yang harus disikapi pun sama.

“Dari zaman dahulu pun saat saya SD, kalau di kelas saya ada yang bersin dan batuk, guru saya langsung menganjurkan untuk pulang dan beristirahat dirumah. Jangan minum air dingin, harus mandi air hangat, dan sebagainya. Artinya, apa yang kita lakukan itu sudah benar,” tuturnya.

Apa yang membedakan gejala flu biasa dan corona?

Menurut Yurianto, untuk gejala tidak bisa dibedakan, karena keduanya sama influenza. Hal ini bisa dipastikan dengan hasil penelitian laboratorian untuk ditemukan virusnya.

Apa hubungannya penyakit saluran nafas dengan kontak tangan?

Yurianto menjelaskan, sering kali kita mengantarkan virus ini ke saluran nafas melalui tangan. Karena area wajah lah yang paling sering kita pegang. Oleh karena itu, bagi yang sakit disarankan mengunakan masker. Jadi saat bersin, tidak perlu ditutup dengan tangan, tapi sudah tersaring dengan masker.

Bagi yang sehat, tidak dianjurkan menggunakan masker apabila tidak diperlukan.

Video tersebut menuai banyak kontroversi, mengingat hebohnya pembahasan virus ini di sosial media dengan kemasan menyeramkan. Upaya pemerintah untuk membuat warganya tetap tenang dapat teralihkan dengan informasi hoaks yang membuat cemas, hingga berdampak menurunnya imunitas seseorang akibat sugesti tersebut.

Covid-19 memiliki keunggulan dengan agresivitas penyebarannya dibandingkan dengan virus lainnya. Upaya pemerintah melakukan Lock Down kepada masyarakat merupakan upaya untuk menekan angka penyebaran virus tersebut.

Penyebaran virus yang begitu cepat, mengakibatnya angka pasien yang terinfeksi membludak, sedangkan ketersediaan rumah sakit, tenaga medis, alat medis, dan obat-obatan yang terbatas- tak sangup memfasilitasi secara maksimal.

Komentar Via Facebook :

Berita Terkait :