Besar Hati Seluas Samudra
CYBER88 | Sukabumi -- Ujian terbesar dalam diri manusia adalah mengendalikan hawa nafsu, jika nafsu dalam jiwa sudah takluk dan bisa dikendalikan, maka akan melahirkan prilaku positip dalam menjalani hidup dan kehidupan dunia ini.
Sejogjanya, hati dan jiwa tetap selalu terjaga dengan mengingat nama Allah dalam hari dan rasa , hal ini berdampak pada mengendalikan hawa nafsu yang bisa diarakan dan dikendalikan pada hal-hal baik, namun jika hati dan rasa sudah lupa menyebut nama Allah, hawa nafsu menjadi dominan mengendalikan hati dan rasa. Hal ini yang akan menjadi malapetaka dalam diri manusia berefek pada hidup dan kehidupannya.
Menjaga hati dan rasa agar tetap terjaga mengingat asma Allah merupakan hadiah dan anugrah terbesar dalam kehipun manusia dari Allah. Sejatinya akan menjadi cermin kebeningan hati, rasa dan jiwa dalam hatinya setia menghamba kepada sang pencipta.
Jika hati sudah dikuasai syahwat hawa nafsu dan tak terkendali maka akan melahirkan noda hitam dalam hati, rasa dan jiwa menghasilkan prilaku kurang baik dalam mejalani kehidupannya.
Pembeningan hati adalah prioritas dengan selalu mengingat nama Allah, menyebut namanya melakukan segala perintah dan menjauhi segala larangannya, sampai tertanam mengakui dan menyakini rasa dalam diri, bahwa saya adalah hamba yang harus menyembah kepada pemilik diri dan pemilik alam dunia yaitu Allah Subhanahu wataala.
Kita mengetahui dan menyekini, bahwa akhir dari sebuah perjalan umat manusia adalah kematian kemudian menjadi manusia hina, menjadi bangkai, tulang belulang hingga habis tubuh pasca nyawa dicabut oleh Allah menjasi makan belatung, makanan empuk cacing tanah kemudian melebur menjadi tanah kecuali mereka para kekasih Allah.
Sebuah fakta manusia ada dalam kehinaan setelah ajal menjemput. Semua kehidupan ditinggalkan, Istri, keluarga, harta, tanah, mobil, sawah, uang dan semua yang ada disekeliling nya ditinggalkan tidak berarti apa-apa dunianya tidak bisa menjadi penolong kecuali kekasinya.
Semua manusia akan kembali menjadi hina dihadapan Allah, karena Allah maha qohar (memaksa) maha kuasa atas kehidupan dan kematian Mahluk ciptaanya.
Merasa Hina depan Allah sebelum mati datang, merasa malu ketika jiwa raga tidak nurut kepada Allah atas apa yang sudah diperintahkan dan menghentikan segala perbuat yang dilarangnya. Bahwa manusia adalah hamba dipaksa harus menyembah Allah. Menyembah dengan menghinakan diri taat kepadanya sebelum kehinaan abadi datang yaitu kematian.
Kita menyakini pada sang Khalik Allah SWT Maha Besar, Maha Agung, Maha Rahman, Maha pemberi rizki, maha pengampun, Maha memaksa, maha mengurus, maha memelihara, maha penolong, maha penyelamat, maha dari segala maha. Sungguh anugrah yang sangat luar biasa, sangat berharga bagi hambanya yang diberikan nikmat Iman mengenal kepada Allah.
Hilangkan, hancur leburkan jangan sampai terbesit sediditpun kecil hati kepada Allah dengan hati ragu. Karna itu merupakan musuh terbesar dari rasa, hati dan jiwa manusia. Selamanya tanamkan dalam hati harus senantiasa besar hati bahwa semua kehidupan ini merupakan Anugrah terindah, sehingga yakin pada Allah, dan nikmat yakin merupakan anugrah terbesar pembereriannya maka berbagga hati punya Allah tuhan semesta alam.
Jika sahwat bisa dikendalikan maka lahirlah sifat berani pada kebenaran sejati seperti sifat dermawan, sayang pada fakir miskin, pemaaf karna penguasaan nafsu dikalahkan.(Jumhi)


Komentar Via Facebook :