Direktur RSD Gunung Jati : Pasien Covid-19 Meninggal Ditangani Sesuai Protokol, Keluarga dan Kuwu Astana Bantah Hal Itu

Keluarga dan Kuwu Astana, Bantah Keterangan Direktur RSD Gunung Jati Cirebon Tangani Pasien Covid-19 Meninggal Sesuai Protokol

Keluarga dan Kuwu Astana, Bantah Keterangan Direktur RSD Gunung Jati Cirebon Tangani Pasien Covid-19 Meninggal Sesuai Protokol

CYBER88 | Cirebon -- Setelah sebelumnya adanya pemberitaan terkait pasien dinyatakan positif Covid-19 meninggal yang menurut pihak keluarga tidak disucikan sebelum pemakaman, kemudian pihak Rumah Sakit Daerah (RSD) Sunan Gunung Jati memberikan bantahan bahwa penanganan jenazah yang dinyatakan positif Covid-19 sudah sesuai dengan prosedur.

Keluarga korbanpun menanggapi apa yang di sampaikan oleh Direktur Rumah Sakit Daerah (RSD) Gunung Jati Cirebon, dr Ismail Jamaludin seperti yang telah diberitakan sebelumnya

Ratna, istri korban mengatakan, “jika  memang sudah di sucikan kenapa pakaian lamanya masih melekat seperti waktu pertama kali masuk di rumah sakit.  Padahal pasien selama 5 hari dirawat dan pakaian ganti yang bersih sudah dikirim beserta pampers. Jadi, apakah memang pakaianya tidak boleh di lepas sampai almarhum meninggal meninggal dunia?  Kata Ratna, "selasa(6/10/2020).

Ratna menyebut, banyak tetangga dan orang lain juga menyaksikan jenazah almarhum tidak bersih saat peti di buka. Masih banyak kotoran dan juga yang namanya di sucikan di mandikan  itu pakaian lama itu harusnya di lepas.

Katanya sudah sesuai prokes penanganan Covid-19 tapi kenapa jenazah yang di antar menggunakan ambulan cuma satu orang sopir saja, tidak ada petugas yang lain seperti umumnya petugas Covid -19 yang menggunakan APD,” tuturnya.

Ditambahkannya, ketika di periksa di RS Putra Bahagia Perum, tidak di jelaskan reaktif atau tidak. Kalau memang almarhum positif kenapa kami tidak pernah diperiksa atau di isolasi.

Baca Juga : Cegah Penolakan Dalam Penanganan Jenazah Terpapar Covid, Bupati Cirebon Minta Libatkan MUI

Diitemui di kantornya, Kepala Desa Astana, Nuril Anwar mengatakan," bahwa betul ada warganya yang di makamkan disini, walaupun sebenarnya dia tinggal di rumah istrinya di Desa Grogol Kec.Gunung Jati. Namun karena permintaan keluarga orang tua, almarhum di makamkan di Desa Astana,” terangnya.

Menurutnya, terkait proses pemulasaraan Jenazah itu, juga kami merasa kecewa. Karena, sepertinya tidak diperlakukan secara manusiawi. Yang menjadi penasaran dan curiga, setibanya mobil jenazah tiba terlihat hanya sopir sendiri yang datang.

Dikatakannya, saat kedatangan jenazah, dilokasi ada dari polsek, Koramil dan bidan puskesmas. Mereka dihimbau untuk menjauh tidak melihat dari dekat saat jenazah tiba. Semuanya melihat sekitar pukul 11.00 WIB jenazah datang, ternyata tidak ada petugas lain atau tim khusus Covid-19.

“Akirnya keluarga bersama warga lainya mengeluarkan peti jenazah dari mobil dan membawanya ke depan liang lahat, karena curiga pihak keluarga minta ijin membuka peti jenazah dan memang kondisinya prihatin. Makanya keluarga bergegas dibawa pulang untuk dibersihkan dan disucikan layaknya orang muslim meninggal," ungkapnya.

Lanjutnya ," Kami pihak Pemerintah Desa Astana tidak terima atas statement direktur rumah sakit yang mengatakan sudah berkoordinasi dengan pihak desa untuk mempersiapkan sega sesuatunya. Itu yang membuat kami tidak terima sampai hari ini pun tidak ada komunikasi atau koordinasinya.

Menurut kami penangan Covid-19 itu semua menjadi tanggung jawab petugas Covid-19. Bahkan harusnya, pihak Gugus Covid-19 yang pro aktif. Karena kami bukan bidangnya. Bahkan pa Camat sendiri tidak tau karena memang tidak ada yang memberi tau, "jelasnya.

Komentar Via Facebook :