Peti Mati Dibuka, Keluarga Marah. Jenazah Covid-19 di Cirebon Tidak Disucikan, Pakaian Lama Masih Melekat

Peti Mati Dibuka, Keluarga Marah. Jenazah Covid-19 di Cirebon Tidak Disucikan, Pakaian Lama Masih Melekat

CYBER88 I Cirebon -- Suasana sedih yang luar biasa dialami oleh Ratna, istri Sugiharto, seorang pasien yang dinyatakan oleh pihak medis, meninggal dunia karena terpapar virus corona (Covid-19) pada hari sabtu 3 Oktober 2020. Sebelumnya, korban dirawat selama 5 hari di Rumah Sakit Gunung Jati Cirebon, Jawa Barat.

Pihak keluargapun memakamkan korban virus corona tersebut dikampung orang tuanya di Desa Astana blok parid  Rt14/04 kec Gunung Jati Kab Cirebon.

Ditemui Cyber88, Senin (5/10) Ratna tidak percaya bahwa almarhum positif Terkena Covid-19. Ia menuturkan, "Sebelum masuk ke Rumah Sakit Gunung Jati suaminya sudah sering berobat karena sering sesak. Suaminya setelah berobat dan di Rotgen, menurut keterangan dokter di Rumah Sakit Putra Bahagia Perum, suaminya terkena paru - paru dan harus segera di rawat ke rumah sakit yang memadai dan dibuatkanlah surat rujukan untuk di rawat lebih lanjut.

“Akirnya dengan menggunakan sepeda motor hari selasa tanggal 28 September 2020, suami saya di bawa keruang UGD Rumah Sakit Gunung Jati. Setelah diperiksa, suami saya dinyatakan positif Covid-19 dan harus segera di rawat. Pihak rumah sakit mengatakan, keluarga tidak boleh satupun masuk atau menemani di ruangan karena, bahaya dan bisa tertular, Tutur Ratna.

Lanjutnya, "Setelah itu suami saya di bawa keruangan flu burung dan keluarga hanya bisa nunggu di luar. Sayapun hanya berkomunikasi lewat hp komunikasi lewat HP dalam berapa hari.

Namun, setelah tiga hari sudah tidak bias lagi berkomunikasi dengan suami saya. Saat itu keluarga panik dan mempertanyakan ke pihak rumah sakit. Tapi, jawabanya lagi ditangani dan harus bersabar.

Hari sabtu tanggal 3 Oktober 2020 saya dikabari bahwa suami saya telah meninggal dunia. Setelah datang di rumah sakit, saya meminta untuk terakir kalinya dapat melihat suami saya sebelum di masukan ke peti. Namun tidak diperbolehkan oleh pihak rumah sakit karena mereka mengatakan berbahaya.

Akirnya kami di suruh segera mempersiapkan pemakaman. Pukul 17.00 harus segera di makamkan dan keluargapun segera menghubungi pihak Desa.

Sayapun beranggapan, jenazah suami saya, sebelum di masukan ke peti mati semelumnya disucikan dan dipakaikan kain kapan layaknya orang meninggal. Akirnya pihak kami juga sementara menerima keputusan dari Rumah Sakit," ungkapnya.

Berhubung hari sudah sore dan yang menggali kuburanpun tidak bias, akhirnya pemakaman akan dilaksanakan besok hari minggu 4 Oktober 2020. Sekitar jam 11.00 jenazah datang di bawa oleh satu orang sopir ambulance saja tampa ada yang lain. Melihat itu keluargapun kaget sebelumnya beberapa orang di suruh menjauh kalau jenazah tiba.

Karena tidak ada orang lagi untuk mengangkat peti jenazah akirnya pihak keluarga merasa bertanggung jawab dengan tidak menginndahkan tertular atau tidak.

Sehingga kami pihak keluarga merasa penasaran akirnya sebelum di masukan ke liang kubur kami minta untuk membuka peti kepada sopir pengantar jenazah. Sebelumnya sopir melarang, tapi kami memaksa dan akirnya petipun dibuka.

Kami sangat kaget dan merasa kesal, ternyata jenazah hanya di bungkus pelastik dan masih menggunakan pakaian sebelum masuk ke rumah sakit. Jenazahpun terlihat kotor dan tidak bersih seperti tidak disucikan sama sekali.

Melihat hal itu, spontan Jenazah almarhum di bawa ke rumah dan kemudian kami sucikan. Dibersihkan layaknya jenazah yang meninggal seperti umumnya. Lalu kami makamkan,” Ungkapnya.

Lebih Lanjut Ratna mengatakan, Kami meras dibohongi, oleh pihak Rumah Sakit Gunung Jati, kalau memang suami saya positif Covid-19, kenapa keluarga terdekat tidak diperiksa atau disuruh mengisolasi. Tidak ada sama sekali anjuran itu.

Anehnya lagi, surat kematian pun tidak jelas positif atau tidak dan yang mengantar jenazah cuma satu orang sopirnya saja tanpa di damping oleh tim medis,” Tutup Ratna.

Komentar Via Facebook :