Viral Camat Manggarai Timur Protes Distribusi Bantuan Gempa, BNPB Akui Masih Ada Kekurangan
Ilustrasi warga terdampak gempa NTT di Pulau Flores membawa bantuan logistik yang disalurkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat pascabencana.
CYBER88 | Manggarai Timur – Video Camat Lamba Leda Utara, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), Agustinus Supratman, yang terlibat adu mulut dengan anggota Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terkait distribusi bantuan pascagempa viral di media sosial.
Dalam video tersebut, Agustinus menyampaikan keberatannya terhadap pola pembagian bantuan yang dinilainya belum adil. Ia mengaku berada dalam tekanan karena harus membagi bantuan yang terbatas kepada warga di 11 desa dengan jumlah penduduk mencapai 21.171 jiwa.
"Saya merasa tertekan sekali, terbebani. Saya harus membagi ke 11 desa, tapi bukan begitu caranya. Semua desa sekarang protes ke saya, semua bertanya di mana bantuannya. Sementara bantuan yang ada jumlahnya sedikit, tapi harus dibagi ke banyak orang. Bagaimana caranya?" ujar Agustinus dengan nada tinggi, dikutip dari video viral, Jumat (21/8/2026).
Agustinus juga mempersoalkan anggapan bahwa bantuan yang telah diterima dalam jumlah besar. Menurutnya, kondisi di lapangan menunjukkan persediaan bantuan belum sebanding dengan kebutuhan masyarakat yang terdampak.
"Bapak bilang bantuan banyak sekali, padahal yang ada hanya ini. Saya tidak suka ditekan untuk membagi rata ke 11 desa padahal jumlahnya sedikit. Saya stres, laporan ke kementerian dan telepon dari mana-mana terus masuk. Saya tidak tahan lagi," tegasnya.
Ia kemudian meminta agar penyaluran bantuan dilakukan secara terbuka dengan mempertimbangkan tingkat kebutuhan masing-masing wilayah. Menurutnya, pembagian bantuan tidak semestinya hanya dilakukan dengan cara merata, tetapi harus melihat kondisi warga yang paling membutuhkan.
"Kita urus masyarakat ini bersama-sama. Jangan ada tekanan-tekanan. Saya hargai setiap bantuan yang datang, tapi harus adil dan tepat sasaran. Jangan sampai warga yang paling membutuhkan justru tidak mendapatkannya," tambah Agustinus.
Hingga Jumat, pihak BNPB yang hadir dalam pertemuan tersebut belum menyampaikan tanggapan resmi mengenai perdebatan yang terekam dalam video tersebut.
Di sisi lain, Kepala BNPB Letjen Suharyanto mengakui masih terdapat sejumlah kekurangan dalam penanganan bencana gempa NTT. Pemerintah saat ini terus mempercepat pemenuhan kebutuhan dasar bagi masyarakat yang berada di lokasi pengungsian.
"Kami terus bekerja keras dan cepat untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat di pengungsian dan memperbaiki kekurangan-kekurangan yang terjadi di lapangan," kata Suharyanto dalam keterangan tertulis, Jumat.
Menurut Suharyanto, penanganan dampak gempa masih menghadapi berbagai tantangan, termasuk persoalan ketersediaan air bersih dan listrik di sejumlah lokasi pengungsian. Salah satunya dilaporkan terjadi di Posko Pengungsian Reo, Kabupaten Manggarai.
"Kami memahami kesulitan yang dialami saudara-saudara kita di pengungsian. Bantuan logistik presiden telah didistribusikan dengan total bantuan yang dikirimkan sebanyak 411 ton dari tanggal 15 sampai 19 Agustus 2026," ujarnya.
BNPB mencatat, pada 19 Agustus 2026 distribusi bantuan logistik melalui jalur udara mencapai 72,77 ton. Pengiriman tersebut antara lain mencakup 5.000 paket sembako untuk Posko Maumere dan 2.900 paket sembako bagi Posko Labuan Bajo.
Distribusi bantuan juga dilakukan melalui jalur laut. KRI Bung Hatta telah diberangkatkan dari Pelabuhan Labuan Bajo menuju Pelabuhan Reok, Kabupaten Manggarai, dengan membawa bantuan Presiden RI, sembako, tenda keluarga, tenda pengungsi serta donasi masyarakat untuk disalurkan ke Kabupaten Manggarai dan Manggarai Timur.
TNI AL turut mengerahkan KRI dr. Soeharso untuk memberikan dukungan pelayanan kesehatan. Bantuan yang dibawa meliputi beras, sembako, air mineral, obat-obatan, matras, selimut, tenda, hygiene kit, bahan bakar minyak, genset dan sejumlah kebutuhan lainnya.
Selain itu, pemerintah telah menyiapkan 882 unit tenda, terdiri dari 215 tenda pengungsi berukuran 6×12 meter dan 667 tenda keluarga berukuran 4×4 meter. Dua unit rumah sakit lapangan juga telah disiapkan untuk mendukung penanganan warga terdampak.
"Kami memastikan distribusi terus berjalan ke wilayah terisolasi, termasuk melalui jalur laut dan udara, agar kebutuhan dasar warga di pengungsian dan daerah terdampak terpenuhi," kata Suharyanto.
Sementara itu, BNPB kembali memperbarui data korban gempa NTT. Hingga Jumat (21/8/2026) pukul 16.00 WIB, jumlah korban meninggal dunia tercatat mencapai 83 orang, bertambah delapan orang dibandingkan data sebelumnya yang mencapai 75 orang.
"Pada hari ini pukul 16.00 WIB, Jumat, 21 Agustus 2026, jumlah yang meninggal menjadi 83 jiwa. Yang semula, yang kemarin kami sampaikan 75 jiwa bertambah 8 jiwa dengan rincian bahwa yang meninggal adalah akibat dampak tidak langsung dari gempa," ujar Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan dalam konferensi pers daring.
Tambahan korban meninggal tersebut terdiri dari dua orang di Kabupaten Manggarai, dua orang di Manggarai Timur, dua orang di Nagekeo dan satu orang di Ngada.
Untuk korban luka-luka, BNPB mencatat sebanyak 986 orang atau bertambah 79 orang dari laporan sebelumnya. Sementara jumlah warga yang mengungsi mencapai 110.785 orang, meningkat 18.050 orang dibandingkan data sebelumnya sebanyak 92.735 orang.
Kerusakan rumah juga terus diperbarui. BNPB mencatat sebanyak 44.946 unit rumah terdampak, dengan rincian 17.176 unit rusak berat, 9.758 unit rusak sedang dan 18.013 unit rusak ringan.
Tiga wilayah dengan jumlah rumah rusak terbanyak adalah Kabupaten Manggarai Timur, Manggarai Barat dan Manggarai.
Gempa utama berkekuatan magnitudo 7,7 yang terjadi pada Sabtu (15/8/2026) juga masih diikuti gempa susulan. Hingga Jumat pukul 16.00 WIB, BMKG mencatat sebanyak 4.258 gempa susulan.
Gempa susulan terbesar tercatat bermagnitudo 6,2, sedangkan yang terkecil bermagnitudo 1,1. Dari ribuan gempa susulan tersebut, sebanyak 118 kejadian dirasakan oleh masyarakat.


Komentar Via Facebook :