Korban Meninggal Covid 19 di Cirebon Tak Dapat Pelayanan Sesuai Aturan, Ahli Waris mengeluh

Keluarga ahlli Waris Korban Covid-19 di Cirebon Terpuruk Sampai Mau Jual Rumah

Keluarga ahlli Waris Korban Covid-19 di Cirebon Terpuruk Sampai Mau Jual Rumah

CYBER88 I Cirebon -- Program pemerintah sebagai bentuk kepedulian dalam membantu korban yang meninggal karena terjangkit virus corona (Covid-19). Kementerian Sosial (Kemensos) Republik Indonesia memberikan bantuan sebesar Rp15 juta per jiwa.

Hal itu sesuai surat edaran (SE) Direktorat perlindungan sosial dan bencana sosial, Kemensos RI Nomor: 427/3.2/BS.0102/06/2020. Tentang penanganan perlindungan bagi korban meninggal akibat covid-19.

Duka yang mendalam yang di rasakan windra Adyana warga Desa Jatiseeng Kec Ciledug Kab Cirebon, yang merupakan anak dari Alm Juraeni harus kehilang ibundanya dan terakhir menyusul neneknya kurang lebih satu bulan lalu meninggal dinyatakan Positif Covid -19.  Sebelumya, juga tantenya yang berdomisili di jakarta meninggal akibat positif terpapar Covid-19.

Ditemui di rumahnya Windra mengungkapkan, “Saya sangat terpukul atas kejadian yang menimpa keluarga saya. Saya harus kehilangan tante, ibu dan terakhir nenek. Sementara kakapun di rawat dirumah sakit namun alhmdulilah kaka sembuh dan di nyatakan sehat dan sekarang sudah di rumah dan beraktifitas seperti biasa," tuturnya.

Dikatakannya, “Sebelum kejadian di nyatakan positif Covid -19  Ibu yang pulang dari luar kota bersama sopirnya serta asisten rumah tangga dengan jumlah 10 orang di periksa di Dua orang di rawat di RSUD Waled  8 orang di isolasi Di Rumah sakit Ciremai dan pada semuanya dilakukan Swab dengan biaya swab satu orng 1 juta rupiah.

Hasil Swab dari 10 orang termasuk saya,5 orang di nyatakan positif yaitu nenek ,ibu, kakak, anaknya kaka 2 orang sisanya non reaktif, "jelasnya

Lanjutnya Windra, "akirnya nenek dan ibunya di rawat di rumah sakit  dan diisolasi pada tanggal 14 Agustus 2020 di ruangan yang sama yakni di ruangan bugenvil. Setelah tujuh hari di rawat ibu dipindah keruang soka.

Besoknya, ibu masih bisa ngobrol. Namun saat saya hendak sholat jum,at, belm sampai di masjid saya  di telpon dan diminta kembali ke ruangan ibudi rawat. Saya sangat kaget sekali ternyata ibu sudah meninggal dengan muka sudah di ikat.

"Setelah itu, saya di minta oleh pihak rumah sakit untuk mendatangi kepala desa untuk persiapan prosesi pemakaman. Saya juga harus mempersiapkan segala sesuatunya untuk pemakaman menggunakan prosedur Covid-19 dengan biaya yang ditanggung sendiri, “ Kata Windra.

Jelang sehari setelah pemakanan ibu, nenek yang masih di rawat harus di pindahkan ke ruang soka dan sempat di rawat agak lama. Untuk mengetahui perkembangan dan keperluan pasien saya hanya dapat berkomunikasi lewat HP.

Awal bulan september saya di beritahu pihak rumah sakit bahwa nenek boleh di bawa pulang tapi harus du bantu alat pernapasan portable dan harus di beli sendiri.

Akhirnya saya pun mencari alat bantu pernapasan tersebut dan setelah mendapatkan herannya justru saya yang harus melepaskan beberapa alat yang menempel dan memasang alat bantu lewat intruksi cara melepas dan memasang alat melalui Hp dari perawat.

Walaupun dalam kondisi heran karena saya pikir itu adalah tindakan medis yang harus dilakukan oleh peraawat, namun demi nenek, tanpa memperdulikan keselamatan saya, sayapun melakukan apa yang di intruksikan oleh perawat.

Yang membuat saya sedih, Kata Windra. Saat saya melihat kondisi nenek yang terlihat belum layak untuk pulang dengan kondisi yang belum normal. Parahnya lagi, saat minta disediakan mobil ambulanpun tidak ada. Semua terkesan menghindar.

Selain itu, tidak ada sehelaipun surat keterangan dari RSUD, akirnya dalam keadaan sedih sekitar Pukul 18.00 kami pulang dengan kendaraan teman saya. Nenek tidak diperlkukan seperti pasien-pasien Covid-19 di wilayah lain yang yang saya tau mendapatkan penanganan secara khusus.

Besok harinya, saya kembali terpukul dengan apa yang menimpa keluarga saya. Pagi-pagi nenek meninggal dunia," Ucapnya sembari meneteskan air mata.

Tidak cukup disitu, kesedihan yang saya alami. Setelah kematian nenek, warga di lingkunganpun menjauh. Usaha yang di jalankan sepi dan akhirnya tutup. Liat sendiri rumah di pasang spanduk Di Jual rumah, “Katanya kepada cyber88 co.id.

Windra juga mengatakan, “Kini, kondisi ekonomi saya sangat terpuruk. Minus lebih dari Minus ,makanya saya coba cari repernsi bahwa keluarga meninggal karen  Covid-19 dapat bantuan, akirnya saya membuat persyaratan dari mulai Desa, Kecamatan dan di Dinas Sosial untuk mencari tau informasi.

Jawabanya tidak ada anggaran dan di arahkan untuk ke kantor BNPB. Setibanya di sana justru lebih sedih. Jawaban petugas di instansi pemerintah daerah hanya mengatakan, “anda salah alamat," pungkasnya. (Iwan S)

Komentar Via Facebook :