Jurnalis Hilang
Operasi SAR Diperpanjang Tiga Hari, Basarnas Belum Bisa Lakukan Penyelaman
Kepala Kantor SAR Banten, Al Amrad (narsum)
CYBER88 | Pandeglang - Tim SAR gabungan kembali memperpanjang operasi pencarian terhadap lima jurnalis dan tiga awak speedboat Arupadhatu 1 yang hilang di perairan Selat Sunda. Setelah tujuh hari pencarian belum membuahkan hasil, operasi kini dilanjutkan selama tiga hari ke depan.
Kepala Kantor SAR Banten, Al Amrad, mengatakan tim masih menyiapkan sejumlah metode pencarian. Namun, penyelaman belum dapat dilakukan karena lokasi speedboat maupun keberadaan korban belum diketahui secara pasti.
"Kalau untuk metode penyelaman, karena titik korban belum kita temukan, titik untuk speedboat belum kita temukan, itu belum bisa kita pastikan untuk menggunakan penyelaman," kata Amrad saat konferensi pers di Posko SAR, Senin (14/9/2026).
Menurutnya, tim SAR tetap menyiapkan berbagai kemungkinan dalam proses pencarian, termasuk langkah-langkah yang diperlukan apabila nantinya ditemukan petunjuk terkait keberadaan korban maupun kapal.
"Dan tim kami tetap siap sampai dengan hal terburuk yang harus kita lakukan," ujarnya.
Dalam pencarian sebelumnya, tim gabungan juga telah berupaya mendekati kawasan Gunung Anak Krakatau. Tim bahkan melakukan penyisiran hingga radius sekitar tiga kilometer dari kawasan tersebut setelah berkoordinasi dengan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).
Langkah itu dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi aktivitas Gunung Anak Krakatau. Berdasarkan informasi yang diterima tim SAR ketika itu, kondisi gunung dinilai memungkinkan untuk dilakukan pencarian di area tersebut.
"Kami mencoba masuk sampai ke sana," kata Amrad.
Untuk tiga hari tambahan operasi SAR, pencarian akan kembali dimaksimalkan dengan mengevaluasi wilayah yang telah disisir. Tim juga akan menggunakan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta PVMBG untuk memperkirakan kemungkinan perpindahan posisi target akibat arus maupun angin.
Amrad menyebut pencarian tetap akan dilakukan melalui jalur laut dan udara, dengan pelaksanaannya menyesuaikan kondisi cuaca.
"Tetap kita menggunakan metode menggunakan kapal, termasuk juga pemantauan melalui udara. Semua itu tergantung nanti kondisi cuaca seperti apa," kata Amrad.


Komentar Via Facebook :