Eko Prasetyo Robbyanto : Memetik Hikmah dari Bencana Longsor di Cimanggung Sumedang Jawa Barat
CYBER88 | Sumedang -- Kematian bisa datang kapan saja menghampiri dan takan bisa diprediksi sebelumnya. Kematian itu bak 'Alif Lam Mim' ayat pertama surat Al-Baqarah, yang berarti hanya Allah yang tahu, tidak memandang usia, jabatan, paras, dan waktu. Kematian akan menjadi pemutus segala kenikmatan dan kebahagiaan yang dirasakan di dunia.
"Masih sangat segar di benak saya, dalam tempo hitungan detik lumpur dan batu membuat puluhan orang menemui ajalnya di lokasi bencana longsor Desa Cihanjuang, Kecamatan Cimanggung, Kabupaten Sumedang, Jawa barat.
"Ada seorang anak kecil dengan kamera HP nya dengan serius merekam seluruh proses persiapan evakuasi longsor pertama oleh para petugas terkait seolah-olah ia seorang jurnalis professional. Namun, tiba- tiba dalam hitungan detik ia tergulung dan terkubur dalam tanah. Betapa sedihnya kedua orang tuanya yang sedang menanti di rumah.
"Ada pula seorang ibu bersama tiga anaknya yang menanti sang suami pulang mencari nafkah, namun alangkah kagetnya sang suami ketika melihat rumah yang ditempati istri dan ketiga anaknya telah rata dengan tanah tanpa menyisakan apapun. Dia pun tak kuat menahan air mata dan histeris sambil sesekali meronta merasakan kesedihan yang tak terkira.
"Lalu, Ada juga seorang bapak yang mencari kedua anaknya dan kedua orang tuanya. Dimana, anak-anaknya tersebut sedang dititipkan di kediaman orang tua bapak tersebut, atau kakek nenek dari anak anaknya yang saat itu seketika telah hilang di telan bumi.
"Yang lebih memprihatinkan lagi dalam bencana longsor tersebut ada satu keluarga besar yang tengah merapikan sisa-sisa hajatan pernikahan siang harinya sebelum bencana longsor terjadi. Tak disangka dalam hitungan detik lokasi hajatan sudah rata dengan tanah, tertimbun material longsor. Lokasi itulah yang menjadi zona 1 evakuasi, karena sebagian besar jenazah di temukan di titik tersebut.
"Masih terngiang dalam ingatan saya bagaimana sosok Danramil Cimanggung, anggota (BPBD) Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabuapen Sumedng, Kasi Trantib Kecamatan Cimanggung, beberapa anggota Pramuka, relawan dan anggota Basarnas yang menyambut kedatangan saya sembari kami bertukar salam dan menanyakan kabar situasi di lokasi kejadian. Namun, takdir berkata lain dalam hitungan detik saya harus melakukan proses evakuasi terhadap reka-rekan sejawat dan seperjuangan tersebut.
"Ketika kita sedang diskusi untuk melakukan evakuasi para korban tertimbun bencana longsor tersebut, tiba-tiba lumpur datang kira-kira semata kaki orang dewasa, seolah-olah menghambat kita untuk lari. Tak hanya itu, batu sebesar mobil yang bagai terbang kesana kemari seperti memilih ajal seseorang.
Peristiwa itu terjadi hanya dalam hitungan detik, sungguh bukanlah hal yang bisa dilupakan tanpa meninggalkan trauma dan diterima akal sehat. Namun semua itu adalah kehendah Tuhan Yang Maha Kuasa.
"Saya dapat membayangkan perasaan seorang komandan yang tengah menerima laporan dari stafnya namun tiba tiba hilang komunikasi tanpa ada kabar lanjutan. Itulah perasaan yang dirasakan rekan sejawat saya di Forkopimda Kabupaten Sumedang yakni, Dandim Sumedang dimana beliau sempat tertegun dan terdiam dilanda kekalutan ketika sang Danramil lost contact.
Saat itu tidak lagi terpikir siapa kita ataupun hal hal lainnya, yang terpikir hanya bagaimana bisa berlari menyelamatkan diri dari lokasi itu secepat mungkin. Dalam hitungan detik kita melupakan status sosial, jabatan, pangkat dan sebagainya dan kembali ke fitrah kita sebagai mahkluk Allah dan membiarkan ajal memilih siapa yang telah habis waktunya dan siapa yang belum tanpa bisa berbuat apa apa.
"Terakhir banyak yang menyampaikan, bahwa saya selamat karena mampu berfikir cepat dalam mencari jalan keluar alternatif untuk memecahkan kaca masjid. Karena memang cuma saya yang melakukan hal itu dan memberi jalan yang lain sehingga tanpa saya sadari banyak nyawa terselamatkan.
Namun, semua itu adalah rencana Allah. Saya menyaksikan beberapa yang mencoba lari mengikuti jalan saya dan ada yang tidak sempat sehingga akhirnya tersapu material tanah. Orang-orang yang mengikuti jalan lari yang saya buat bukanlah selamat karena hal itu. Tetapi, memang karena umur dan rezeki mereka masih ada sesuai ketentuan Allah.
Sungguh rencana Allah luar biasa dan mutlak sehingga taka da sipapapun yang dapat menghalanginya.
Mari kita doakan mereka semua yang berdiri di samping kiri dan kanan saya sewaktu kejadian itu, yang juga ingin menulis testimoni seperti ini, yang melaksanakan tugas dan kewajibannya untuk Indonesia agar termasuk golongan orang- orang yang khusnul khotimah di akhir hayatnya dan kita yang masih hidup di dunia dapat mengambil pelajaran berharga.
Harus selalu kita ingat bahwa kita hidup di dunia yang fana dan yakinlah kalau ajal itu begitu dekat dan cepat tanpa kita bisa berbuat apa apa saat ia menghampiri.
Keluarga yang selalu kita cintai, cepat atau lambat akan berpisah seiring dengan berjalannya waktu. Kita dulu yang meninggalkannya atau mereka yang mungkin meninggalkan kita. Hargai waktu dengan banyak menghabiskan waktu yang barokah dengan mereka. Beramal baiklah di sisa waktu kita dan bersedekahlah. Jadilah orang yang bermanfaat untuk orang lain. Bukankah itu sebaik baiknya manusia?.
Tidak perlu bangga dengan status sosial, kekayaan, jabatan dan lain sebagainya karena yakinlah ketika ajal mendekat tiada artinya dan tiada yang perduli dengan semua itu, Karena semuanya akan sirna di telan waktu tiada pesta yang tak pernah berakhir, siapkah kita memikul pertanggungjawaban di akherat yang kekal nanti, mari kita jawab dalam nurani yang terdalam masing masing.
Sungguh Allah Ta'ala Maha Kuasa, Kita sebagai manusia sangat..!! lemah tak berdaya dihadapan-Nya.
"Sebuah catatan kecil dari Kapolres Sumedang, Eko Prasetyo Robbyanto, S.H., S.I.K., M.P.I.C.T., M.I.S.S (Januar 2021)


Komentar Via Facebook :