Belum Lunasi Tunggakan, Ijazah Siswa di SMK Pelita Al- Ihsan Ujungjaya Diduga Ditahan
Masih ada Tunggakan, Siswa SMK Pelita Al-Ihsan Ujungjaya Sumedang Belum Terima Ijazah
CYBER88 | Sumedang -- Ditengah peliknya ekonomi akibat gencarnya serangan Covid-19, membuat kehidupan masyarakat kian melemah. Dalam kondisi seperti ini, derita malang seorang anak didik di SMK Pelita Al- Ihsan Ujungjaya Sumedang, Jawa barat. Pasalnya, hingga kini ia belum mendapatkan selembar ijazah yang didambakannya setelah menyelesaikan pendidikan.
Hal tersebut terjadi karena siswa bernama Edi Sonjaya waga (19), warga RT.13/6, No.39 Dusun Banggala, Desa Palasah, Kecamatan Kertajati, Kabupaten Majalengka-Jawabarat, hingga kini belum bisa melunasi tunggakan keuangan ke pihak sekolah.
Padahal, Disisi lain peran pemerintah didalam mencerdaskan kehidupan bangsa, sudah sangat jelas sebagaimana yang tercantum didalam UUD.45 pasal 31 ayat 1, 2, 3 dan 4.
Khusus untuk pasal 31 ayat 4 yang berbunyi " Negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya dua puluh persen dari anggaran pendapatan dan belanja negara, serta dari pendapatan belanja daerah untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional "
Dengan masih adanya penahan ijazah yang dilakukan disalah satu sekolah, baik itu disekolah Negri atau Swasta, apapun alasannya, selain bertentangan dengan UUD 45 pasal 31 tersebut, juga bertentangan juga dengan kebijakan pemerintah lainnya yang tercantum didalam Permen pendidikan Pasal 21 ayat 1 yang berbunyi.
"Peserta didik yang dinyatakan lulus dari satuan atau perogram pendidikan diberikan ijazah "
Ditemui Cyber.co.id, Edi Mengungkapkan, " Terus terang pak, saya sangat membutuhkan ijazah tersebut, buat dijadikan salah satu persyaratan untuk melamar kerja di bengkel daerah Karawang, kebetulan yang mau memasukan nya juga kakak sepupu saya, “ucapnya".
Lanjutnya, “Kalau jadi keterima di bengkel tersebut, saya sangat bangga pak, karena sesuai dengan jurusan yang saya ambil di SMK Pelita Al- Ihsan Ujungjaya, tempat saya sekolah, “Kata dia".
Tapi begitu saya datang ke sekolah mau mengambil ijazah tersebut, kebetulan pada waktu itu saya bertemu langsung dengan pak Urip Priyatno salah satu guru disekolah tersebut, harapan saya terasa sirna pak, karena ijazah saya ditahan, gara gara masih punya hutang Rp.2 juta kepihak sekolah, bekas uang bangunan yang belum dilunasi oleh orang tua saya, “Ungkapnya".
Dan, ketika saya minta Photo cofy nya yang dilegalisir tetap saja tidak bisa, kecuali ada uang Rp.1 juta, “ujarnya".
Sementara itu, Sona salah satu keluarga yang diminta bantuan untuk dapat mengambil ijazah tersebut menuturkan, “ Saya telah mencoba menghubungi pak Urip Priyatno yang menjabat sebagai guru disekolah tersebut, Via telepon seluler saya pak, tutur nya".
Tapi pihak sekolah masih tetap tidak mau memberikan ijazah tersebut, dengan alasan menurut pak Urip, "kalau ijazah tersebut diberikan, tanpa ada uang masuk Paling tidak 1 Juta dulu, pak Urip akan dipecat pemilik yayasan, "terangnya ".
Bahkan saya sempat dipersilahkan oleh pak Urip untuk ngobrol langsung dengan pengelola yayasan, kalau enggak salah namanya pak Agus ,yang kayanya pada waktu saya nelpon ada di samping pak Urip, " Terangnya"
Tapi tetap sama pak, pak Agus juga tidak bisa memberikan ijazah tersebut, malah saya disuruh datang kesekolah, untuk menemui kepala sekolah atau pegawai tata usaha, padahal kan sudah jelas pak,
Guru dan Tata usaha juga tidak bisa memutuskan, jadi terasa saya ini di Ulin cai keun kalau di bahasa Sunda mah, Tutup Sona.
Selanjutnya, Cyber88.co.id menghubungi Urip via WhatsApp dan mendapatkan keterangan yang berbeda dari yang disampaikan oleh Edi dan keluarganya Sona. Urip mengatakan bahwa pihak sekolah tidak pernah menahan ijazah siswanya.
“Tidak ada gunanya sekolah menahan-nahan ijazah siswa, “ kata Urip.
Urip menyayangkan keluarga Edi sampai membawa-bawa media dalam hal ini.
"Kenapa yah pak harus bawa bawa Media segala, padahal tadi siang Jam 11 saya sudah telepon ke Edi dan katanya Edi lagi tidur, kalaupun untuk masalah ijazah punya Edi, silahkan saja ambil kesekolah, "Ungkapnya.


Komentar Via Facebook :