Korban Bullying dan Kekerasan di Salah Satu SDN di Cipeundeuy Alami Trauma Mendalam

Korban Bullying dan Kekerasan di Salah Satu SDN di Cipeundeuy Alami Trauma Mendalam

CYBER88 | Bandung Barat - Beberapa kali mengalami kekerasan fisik dari kakak kelasnya seorang siswa sebut saja A kelas V SDN Sukabetah Kecamatan Cipeundeuy Kabupaten Bandung Barat terpantau mengalami trauma berat, sehingga dia tidak mau masuk sekolah lagi. 

Diduga pelaku sebut saja B adalah siswa kelas VI dan sudah sering melakukan tindakan kekerasan tersebut, tidak hanya kepada A tapi kepada siswa lain juga dan sebelumnya terduga pelaku dikeluarkan dari sekolah lain karena melakukan tindakan serupa. 

Pihak sekolah telah melakukan mediasi dengan memanggil wali murid terduga pelaku dan pihak kepolisian dari Polsek Cipeundeuy, namun sangat disayangkan perwakilan keluarga dari pihak korban tidak di ikut sertakan, rabu (15/04). 

Isah Maryati, kepala sekolah SDN Sukabetah membenarkan hal tersebut dan dia menyayangkan bahwa dia tidak sempat hadir karena mediasi tersebut inisiatif guru-guru dan dia sedang bertugas di sekolah lain. 

Saya sudah berusaha secepatnya menuju sekolah tapi mereka keburu bubar dan keluarga terduga pelaku tidak mau menunggu, jelasnya. 

Saya juga menegur guru yang membuat perjanjian tanpa memakai materai sehingga tidak memiliki payung hukum yang jelas ungkapnya. 

Rencana besok kita akan melakukan mediasi lagi yang dihadiri juga dari pihak kepolisian tapi tetap tanpa menghadirkan pihak korban, terangnya. 

Orang tua A berinisial Uj tadinya menganggap hal ini biasa saja sebagai kenakalan anak-anak, namun setelah melihat anaknya mengalami luka dalam yang serius serta ketika mediasi tidak di ikut sertakan sebagai orang tua korban dan ada ucapan yang cukup kasar dari pihak keluarga terduga pelaku, akhirnya dia buka suara. 

Saya sangat menyayangkan hal ini terjadi di lingkungan sekolah, seolah tidak ada guru di sekolah tersebut dan pada saat mediasi saya sebagai orang tua korban tidak dilibatkan, sementara anak saya sampai saat ini merasakan sakit di sekitar punggung dan tangannya, ungkap Uj. 

Saya juga tersinggung dengan perkataan keluarga terduga pelaku yang seolah-olah merasa benar padahal jelas-jelas anaknya yang salah dan untuk mediasi besok saya juga diharuskan menunggu mediasi antara pihak terduga pelaku dengan pihak sekolah, cetusnya. 

Ini menjadi pertanyaan besar karena kalau mediasi biasanya menghadirkan pelaku dan korban serta saksi sehingga akan dicapai kesepakatan, keluh Uj. 

Hal ini tentunya harus mendapatkan perhatian serius dari pihak sekolah dan Dinas terkait karena Bullying dan kekerasan di SD marak terjadi, mencakup fisik, verbal, relasional, dan cyberbullying.

Dampaknya serius, memicu trauma, stres, depresi, hingga penurunan prestasi. Tindakan tegas seperti edukasi, pengawasan ketat, pelaporan, dan pendampingan psikologis sangat diperlukan untuk menciptakan lingkungan aman bagi siswa.

Anak yang menjadi korban sering mengalami stres, ketakutan, penurunan prestasi akademis, tidak percaya diri, dan dalam kasus ekstrem dapat menyebabkan cedera fisik berat atau trauma psikologis jangka panjang. (yus')

Komentar Via Facebook :