Anton Charliyan: Insiden Penembakan di Mabes Polri Gambarkan Lemahnya SOP Pengamanan

Anton Charliyan: Insiden Penembakan di Mabes Polri Gambarkan Lemahnya SOP Pengamanan

CYBER88 | Tasikmalaya – Belum lama berselang insiden pengeboman di tempat ibadah yang dilakukan kelompok teroris telah menggemparkan Negara ini. Kali ini terjadi lagi terduga teroris melakukan aksi koboy dengan mengacungkan pistol jenis airsoft di Pos Penjagaan Markas Besar Polisi Republik Indonesia, Rabu (31/3) Kemarin.

Mantan Kadiv Humas Mabes Polri, DR. Anton Charliyan M.P.K.N. turut mengecam aksi pengeboman dan koboy tersebut. Ia mengatakan, terjadinya penembakan oleh seorang wanita muda yang teridentifikasi bernama Zakiah Aini membuat terkejut seluruh masyarakat di Republik ini.

Beliau merasa prihatin atas kejadian tersebut. Menurutnya, ini merupakan kejadian yang ketiga dilakukan oleh golongan radikal yang beraksi di Markas Besar Kepolisian. Pertama, mereka melakukan pemboman gedung Bhayangkari, yang kedua penyanderaan di Mako Brimob, dan yang ketiga saat ini penembakan ruang jaga Mabes Polri.

“Hal ini perlu disikapi sangat-sangat serius oleh Polri dan seluruh elemen Bangsa. Karena, dengan terjadinya hal tersebut menunjukkan satu bukti yang nyata di depan mata. Mabes Polri saja sudah berani diserang secara terang-terangan", ungkapnya.

"Artinya, mengisyaratkan kelompok mereka sudah berani menantang Polri sampai disatroni ke kandangnya. Mereka seolah menantang Polri sebagai aparat negara untuk perang secara terbuka,” beber Purnawirawan Jendral bintang dua yang kerap disapa Abah Anton ini.

Kelompok radikalisme dan terorisme ini, menurut Abah Anton, sudah masif mengakar dan menyebar ke segala arah dan lapisan, tua-muda, laki-laki, dan perempuan, bahkan terbukti pelaku penembakan ternyata seorang wanita yang masih berumur 26 tahun.

“Hal ini menunjukan lemahnya standar operasional sistem keamanan markas komando di Mabes Polri. Artinya, setingkat mabes Polri saja ada orang bawa senjata sampai tidak terdeteksi, dan ini pun bisa juga sebagai sebuah pesan, satu pelecehan terhadap marwah harkat dan wibawa Mabes Polri. Ternyata Mabes Polri saja sebagai "Rajanya Polri" sistem keamanannya begitu mudah ditembus dan ditaklukan, apalagi di tempat lain,” tutur dia.

Mantan Kadiv Humas Polri ini pun sangat prihatin dengan teknik dan taktik penanganan dalam melumpuhkan penyerang. Beliau menegaskan, "Seharusnya bisa dilumpuhkan dan ditangkap hidup-hidup sehingga bisa dikorek keteranganya untuk menggali dari kelompok mana dan siapa dalang yang menggerakkan di balik semua ini."

“Dengan tewasnya pelaku yang memang sengaja dipasang seorang wanita memberi pesan juga seolah-olah Polri bertindak tidak Profesional dan telah membunuh seorang wanita. Hal ini justru yang sangat diharapkan oleh kelompok radikal tersebut untuk mengundang simpati agar masyarakat dunia mencemooh Polri,” kritik Anton.

Ia menduga, ada kesan sebagai satu mediodrama aksi balas dendam tertembaknya anggota FPI.

Apapun juga yg terjadi dengan Peristiwa ini, menunjukan bahwa kelompok radikal sudah ada di zona "Lampu Merah", bukan hanya untuk Polri tapi untuk seluruh masyarakat dan Bangsa Indonesia.

“Untuk hal ini tidak bosan-bosannya kami ingatkan, mari kita buka mata dan hati kita dengan jernih, bahwa musuh kita sudah ada di depan mata, mari kita lawan bersama. Saat inilah kita betul-betul harus kompak menabuh genderang untuk melawan kelompok radikal ini dengan super serius,” tegas Anton.

“Kikis habis sampai ke akar-akarnya. Sejalan dengan pesan Presiden RI, Pak Jokowi, beberapa waktu yang lalu. Karena kalau tidak dikikis habis setiap saat, pasti akan terus merongrong bangsa dan negara ini dengan segala cara, ibarat penyakit sudah jadi penyakit Kronis. Bahkan saat ini kelompok radikal tersebut bukan hanya sebagai penyakit, tapi sudah jadi Habitus Kronis di Indonesia,” imbuhnya.

"Kemudian, mohon waspadai juga Keamanan internal Polri, tidak menutup Kemungkinan di tubuh Polri pun sudah terpapar gerakan ini. Karena gerakan ini kita amati sudah begitu masif masuk ke segala lini," ucap beliau khawatir.

Anton menjelaskan, salah satu alternatif solusinya, penanganan masalah ini bukan hanya bersifat operasi lapangan secara fisik saja, tapi gerakan ini lebih kepada Indoktrinasi secara ideologi, maka cara memerangi dan mengantisipasinya pun harus dengan war Ideologi.

Perang Ideologi secara masif dan terstruktur, karena merekapun bila kita amati sudah melakukan indoktrinasi secara masif dan terstruktur ke segala lini, tidak tekecuali mahasiswa, dosen, BUMN, ASN, dan lainnya. Bahkan, menurut Purnawirawan Jenderal bintang dua tersebut, TNI-Polri tidak menutup kemungkinan sudah ada yang terpapar. Jika TNI-Polri sudah terpapar pertanda Negara akan mengalami sakit kronis yang panjang.

Salah satu upaya yang pernah dilakukan untuk antisipasi war ideologi ini, kami pantau pernah dilakukan oleh Polda Jabar pada tahun 2017 dengan mengadakan "Sawala Kebangsaan" (semacam pelatihan singkat camping out bond, selama 3 hari namun khusus masalah radikalisme dan intoleransi) dengan mengikutsertakan elemen inti kader-kader masyarakat, mulai dari kader tokoh-tokoh sentral kelompok LSM, Ulama, Dai Kamtibmas, Ahli IT, Dosen, Mahasiswa, Budayawan, dan lainnya agar sadar arti penting bahaya radikalisme.

Demi menangani masalah ini, sebagaimana kita sadari bersama, bukan hanya tanggung jawab Polri semata, tapi harus menjadi tanggung jawab seluruh elemen masyarakat karena Polri tidak bisa Bekerja sendiri. Mutlak harus dibantu seluruh elemen masyarakat, namun baru 3 kali dilaksanakan tidak sempat berlanjut karena pola ini membuat gerah dan ketakutan kelompok-kelompok radikal.

Seperti biasanya, mereka melakukan pembusukan melalui hoaks terhadap upaya-upaya yang pernah dilakukan Polda Jabar tersebut, sehingga program yang dilakukan Polda jabar mendapat respon kurang positif baik dari pihak internal maupun dari Mabes Polri sendiri.

"Maka dengan adanya Kejadian ini, semakin banyak PR Polri di awal tahun 2021 ini. Lalu, apakah semua peristiwa yang terjadi akhir-akhir ini ada keterkaitan satu dengan yang lainya?"

"Mulai dari tertembaknya anggota FPI, sidang HRS, pemboman di Makassar, ledakan Pertamina Balongan, dan sekarang penembakan di Mabes Polri. PR besar Polri dan PR yang harus kita jawab Bersama," tukasnya.

“Masih akan munculkah aksi-aksi lain yang akan terjadi? Mudah-mudahan dengan kebersamaan TNI-Polri dan seluruh elemen masyarakat, semua akan teratasi. Semoga kejadian penembakan penjagaan Mabes Polri ini merupakan yang terakhir dari yang terakhir,” pungkas DR. H. Anton Charliyan M.P.K.N. mengakhiri. [Astra]

Komentar Via Facebook :