Dr. Terawan Dipecat, IDI Enggan Berkomentar

Dr. Terawan Dipecat, IDI Enggan Berkomentar

Internet

CYBER88 | Jakarta - Anggota Komisi IX DPR RI Saleh Daulay menyesalkan pemecatan mantan Menteri Kesehatan dokter Terawan Agus Putranto dari anggota Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Menurutnya, Terawan adalah salah satu dokter terbaik yang dimiliki Indonesia. Banyak prestasi yang sudah ditorehkannya sebagai anggota dokter dan TNI. Senin, (28/03/22).

"Sebagai dokter dan anggota TNI, banyak prestasi yang sudah ditorehkan. Bahkan tidak berlebihan bila disebut bahwa RSPAD menjadi salah satu rumah sakit besar yang berkualitas baik berkat tangan dingin dokter Terawan," kata Saleh lewat pesan tertulis, Minggu (27/3).

Untuk diketahui, Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) Ikatan Dokter Indonesia (IDI) telah memutuskan memberhentikan mantan Menteri Kesehatan Prof. dr. Terawan Agus Putranto sebagai anggota IDI. Keputusan itu diambil dalam Muktamar ke-31 IDI di Banda Aceh, Jumat 25 Maret 2022.

"Saya benar-benar terkejut dengan keputusan itu. Muktamar semestinya dijadikan sebagai wadah konsolidasi dan silaturrahim dalam merajut persatuan. Kok ini malah dijadikan sebagai wadah pemecatan. Permanen lagi. Ini kan aneh ya?" sambungnya.

Anggota DPR Pertanyakan Pemecatan Dokter Terawan dari Keanggotaan IDI
Wakil Ketua DPR soal Dampak Pemberhentian Terawan: Dokter Bisa Takut Berinovasi

Saleh mendorong Kementerian kesehatan memfasilitasi pertemuan IDI dengan dokter Terawan. Berbagai persoalan dan isu yang beredar harus diselesaikan melalui dialog yang baik dan semua masalah diharapkan selesai. Menurut politisi PAN ini, Terawan bekerja secara profesional.

"Saya kira, baru di Indonesia ini ada seorang dokter profesional yang dipecat. Tidak tanggung-tanggung, yang dipecat itu adalah seorang dokter berpangkat Letnan Jenderal dan pernah memimpin RSPAD bertahun-tahun lamanya. Bahkan, beliau pernah menjabat sebagai menteri kesehatan RI," ujarnya..

Menurutnya, pemecatan seperti ini tidak bisa dibiarkan dan bisa menjadi preseden buruk ke depan. Dikhawatirkan akan menyusul lagi pemecatan-pemecatan berikut dengan berbagai alasan lain.

"Bagaimana tidak? Mantan menteri kesehatan saja bisa dipecat? Apalagi yang lain. Menteri kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, tidak boleh tinggal diam. Mohon ini difasilitasi dan didamaikan. Itu pasti lebih baik bagi semua," tutupnya.

Adakah Hubungan Antara Pemecatan Dr Terawan, Teroris Dr Sunardi serta Pamer Kekuasaan?!

Tulisan dari Ninoy Karundeng yang beredar mengatakan bahwa IDI memecat Terawan menunjukkan kebencian akut. Pamer kekuasaan, merasa bahwa titah IDI adalah fatwa. Dan, IDI membahayakan masyarakat. IDI memiliki kode etik, ternyata IDI tanpa etika ketika memecat dokter Terawan.

Saat menjadi menkes, Terawan juga memicu perhatian setelah menggagas vaksin dalam negeri dengan nama Vaksin Nusantara. Namun dalam perjalanannya vaksin itu banyak menuai kritik.

Pada tahap uji klinis fase II, Vaksin Nusantara tak mendapat mendapat restu Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Keputusan itu sempat menimbulkan kontroversi antara BPOM dan komisi IX DPR RI. Sebagian besar anggota legislatif menilai BPOM berusaha menghalangi vaksin buatan anak bangsa hingga disebut tidak lagi independen.

IDI menjadi mesin kekuatan yang menentukan hitam putih-nya kesehatan, obat, peredaran obat, dan sejak tahun 2014 masuk ke ranah politik, IDI makin kehilangan wibawa karena unsur bisnis besar lebih kuat daripada kemanusiaan.

Kegilaan teroris Sunardi yang di tembak mati Tim Antiteror Densus88 yang ditembak mati karena melawan petugas di peristiwa KM 50 Tol Cikampek menggunakan profesi dokter juga sebagai anggota organisasi teroris Jamaah Islamiyah. IDI Sukoharjo membela teroris IDI Pusat diam. IDI membuat hoaks bahwa teroris dokter Sunardi lemah. pakai tongkat segala. Faktanya CCTV menunjukkan dia bisa jalan normal. Bahkan nyetir pun bisa ngebut. IDI  juga menyebut Sunardi sebagai orang baik.

Namun, meski putusan sidang tersebut telah beredar, IDI hingga kini menolak berkomentar terkait kabar pemecatan Terawan. **

Komentar Via Facebook :