Pergub Tunda Pembangunan Jembatan, Ancaman Telan Korban Jiwa Mengintai

Pergub Tunda Pembangunan Jembatan, Ancaman Telan Korban Jiwa Mengintai

CYBER88 | Aceh Timur - Impian harapan ribuan masyarakat Aceh Utara dan Aceh Timur akan dibangunnya jembatan beton, kandas akibat Pergub tahun 2019 untuk menangani covid-19. Akibatnya jembatan gantung yang sekarat menguhubungkan desa Meunasah Asan dan Glumpang Peung Uno justru menjadi ancaman keselamatan nyawa warga. Ketua Penasehat desa Glumpang Pung Uno atau disebut Tuha Peut, Usman kepada awak media Sabtu (11/06) menjelaskan, jembatan gantung berusia 40 tahun lebih itu, sangat memungkinkan dalam 1 bulan ke depan kondisinya putus total.

Karena besi penahan lantai papan banyak copot  dan tali gantungan rapuh di makan usia juga banyak disambung seadanya menggunakan tali. Kalau saya perkirakan pak, kondisi jembatan ini tidak sampai lebaran haji akan putus, kalau jembatan ini putus dan menelan korban lagi, itu yang kami takutkan karena jembatan ini sudah pernah menelan korban anak sekolah jatuh ke sungai," jelasnya. 

Kondisi kerusakan jembatan gantung penghubung 2 kabupaten itu, juga memungkinkan masyarakat dua kabupaten itu terisolir. Terkait adanya rencana di tahun 2019,  pemerintah provinsi berencana membangun jembatan plat beton, pihaknya mendukung rencana itu dengan menyiapkan lahan. Namun pihaknya sampai saat ini belum mengetahui mengapa proyek tersebut belum dikerjakan.

Mantan Anggota DPR Aceh asal pemilihan Aceh Timur Abu Bakar atau dikenal dengan sebutan Posmen, mengungkapkan sepengetahuan nya tahun 2019, anggaran proyek pengerjaan jembatan plat beton di ke 2 desa itu dianggarkan, dengan nilai Rp 3,6 Miliar.

Namun dalam perjalanan nya, anggaran fisik tersebut di Pergub oleh Gubernur Aceh Nova Iriansyah dengan alasan, Recofusing untuk dana Covid 19.

Setelah masa jabatanhya berahkir, Pos men tidak mengetahui lagi apakah anggaran pembangunan jembatan itu kembali diperjuangkan wakil rakyat di DPRA baik dari Aceh Timur maupun dari Aceh Utara.

Kepala Desa (Geuchik) Meunasah Asan Baktiar mengungkapkan, dirinya tidak lagi percaya  dengan sikap pemerintah propinsi. Apa-apa permintaan dari dinas PERKIM Aceh seperti sondir lahan disekitar jembatan gantung dipenuhi pihak desa. 

Termasuk pembuatan Data indetification Detail (DID) juga dipenuihi perancangannya. 
Diakuinya, pembuatan DID jembatan plat beton menelan anggaran belasan juta rupiah lebih. 

Dimana anggarannya bersumber dari dana Geuchik, Begitu juga dengan pembebasan lahan untuk tapak kaki jembatan telah disediakan dan disiapkan pihak desa.  

Namun sampai saat ini  semua itu sampai saat ini tidak ada informasi kejelasannya, dari pemerintah provinsi.

Lanjutnya, ribuan masyarakat 2 kabupaten lalu lalang tiap harinya diatas jembatan gantung itu, seperti petani, pedagang, pelajar, petani tambak, bahkan masyarakat luar yang menggunakan akses tersebut. 

“Saya sudah capek berurusan dengan pemerintah propinsi yang hanya janji tinggal janji, kalau alasan recofusing anggaran untuk covid, jembatan ini kondisi nya sekarat dan urat nadi, dan sudah pernah menelan korban jiwa," urainya. 

Soal perbaikan, Geuchik itu menegaskan, perbaikan seperti apa lagi harus dilakukan masyarakat di 2 kabupaten itu. Di tahun 2002 perbaikan pertama dilakukan pemerintah daerah, selanjutnya setelah di Pergub 2019, masyarakat dengan sukarela menyisihkan dana dan secara swakelola membantu memperbaikinya. 

Namun kini kondisi nya kini sekarat, rapuh, lapuk, besi lantai banyak copot, papan lantai tanpa alas, besi tiang pengikat tali gantungan banyak putus, dan memang tidak mungkin di perbaiki lagi.

Menyangkut adanya korban jiwa, akibat rusaknya jembatan gantung itu dibenarkan kepala dusun tanjung raya gampong Meunasah Asan Zakaria. 

Kepala dusun itu menjelaskan, korban tersebut bernama Rifki pelajar sekolah dasar anak dari orang tua bernama Abduulah, dimana sewaktu pulang sekolah saat melintasi jembatan gantung yang mulai heleng itu membuat pelajar itu jatuh ke sungai, untungnya nyawa Rifki masih dapat diselamatkan.Kejadian tragis itu terjadi di tahun 2018, Tandas Zakaria.

Jembatan Gantung menghubungi 2 kabupaten itu di huni penduduk dari desa Meunasah Asan kabupaten Aceh timur 413 kepala keluarga dan desa Glumpang Pueng Uno Kabupaten Aceh Utara 145 kepala keluarga. (Red/Marzuki)

Komentar Via Facebook :