Dari Tawuran ke Persatuan: Sanyoto Edi Karyanto dan Semangat "Nandur Pakerti" di Paguyuban Bangun Rukun

Dari Tawuran ke Persatuan: Sanyoto Edi Karyanto dan Semangat "Nandur Pakerti" di Paguyuban Bangun Rukun

Sanyoto (kanan) bersama salah satu anggota Paguyuban

CYBER88 | YOGYAKARTA – Lingkungan yang dulu dikenal rawan konflik kini berubah menjadi komunitas yang rukun, produktif, dan saling mendukung. Di balik perubahan itu, berdiri sosok Sanyoto Edi Karyanto, Ketua Paguyuban Bangun Rukun, yang sejak 2010 menggagas gerakan sosial berbasis nilai luhur Jawa: “Nandur Pakerti” atau menanam kebaikan.

Paguyuban Bangun Rukun adalah organisasi sosial yang berfokus pada penanggulangan konflik warga, pemberdayaan masyarakat, dan penciptaan lapangan kerja non formal, khususnya di sektor parkir. Paguyuban ini juga aktif dalam kegiatan sosial seperti donor darah, pembagian sembako, hingga jalan sehat.

Awalnya, paguyuban ini dibentuk untuk merespons maraknya tawuran antar warga. Sanyoto yang menyaksikan langsung situasi konflik itu tergerak membina para pemuda yang sering terlibat dalam kekerasan jalanan untuk diarahkan ke kegiatan produktif. 

“Kalau terus di jalan, sampai tua hidupnya bagaimana? Makanya harus mulai menanam kebaikan,” ujar Sanyoto saat ditemui di salah satu parkiran Soto Bakso Kirana . Pleret Bantul Yogyakarta Minggu, 12 Juli 2025.

Tokoh utama dalam gerakan ini adalah Sanyoto Edi Karyanto, yang sejak awal memimpin paguyuban dengan penuh dedikasi. Ia merekrut dan membina ratusan anggota—sebagian besar berasal dari kalangan yang dulu tidak memiliki pekerjaan tetap dan sering berkonflik.

Paguyuban ini juga menjalin kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk pemerintah desa, kelurahan, hingga instansi seperti Dinas Perhubungan. Saat ini, kepengurusan paguyuban melibatkan sedikitnya 12 orang yang bertugas mengelola wilayah timur, barat, utara, dan selatan.

Paguyuban Bangun Rukun lahir di wilayah Banguntapan, Kabupaten Bantul, DIY. Seiring waktu, aktivitas paguyuban ini meluas hingga ke Sleman, Kota Yogyakarta, dan bahkan Batu, Jawa Timur. Perluasan ini menunjukkan besarnya pengaruh pendekatan sosial yang dilakukan Sanyoto dan timnya.

Paguyuban ini resmi berdiri pada tahun 2010, dan mulai diakui secara resmi oleh pemerintah pada tahun 2015, saat Bupati Bantul dijabat oleh Sri Widati, istri dari mantan Bupati Idham Samawi. Pengukuhan ini menjadi titik balik penting dalam eksistensi paguyuban.

Gerakan ini lahir dari keprihatinan terhadap banyaknya pemuda yang kehilangan arah, terlibat konflik, dan tak memiliki mata pencaharian tetap. Sanyoto ingin membuktikan bahwa orang-orang yang dulu dianggap “bermasalah” justru bisa berubah dan menjadi aset bagi masyarakat, jika diberi kesempatan dan diarahkan dengan baik.

Menurutnya, slogan “Nandur Pakerti” bukan sekadar kata, tapi prinsip hidup yang harus dijalankan: menanam nilai-nilai kebaikan agar berbuah manfaat bagi banyak orang.

Melalui pendekatan komunitas dan pembinaan langsung, Sanyoto mengajak para pemuda untuk bergabung dalam sistem yang tertib dan terorganisir. Paguyuban ini memiliki AD/ART, jadwal rapat bulanan, serta sistem kontribusi dan tanggung jawab yang jelas.

Para anggota dilatih untuk mengelola parkir, membayar pajak, serta diajarkan pentingnya menabung dan merencanakan masa depan. “Kami bukan cuma ngurus parkiran, tapi juga ngajarin mereka cara hidup yang benar, supaya nanti nggak nyesel saat tua,” tutur Sanyoto.

Saat pandemi melanda, paguyuban tetap bertahan meskipun penghasilan menurun. Sanyoto tetap menjaga semangat para anggota dan mendorong kerja sama dengan pihak pemerintah dan swasta agar keberlanjutan program tetap terjaga.

Paguyuban Bangun Rukun bukan hanya organisasi biasa. Di baliknya, ada ketulusan dan keteguhan seorang pemimpin yang percaya bahwa setiap orang punya peluang untuk berubah. Di tangan Sanyoto Edi Karyanto, semangat “Nandur Pakerti” telah tumbuh menjadi gerakan yang nyata—mengubah konflik menjadi harmoni, dan menciptakan harapan baru bagi banyak orang.


 

Komentar Via Facebook :