Revolusi Hijau Dimulai dari Cilegon: Yayasan Bhakti Bela Negara bersama Pemerintah dan Warga Bahu-Membahu Wujudkan Lompatan Besar Pertanian
CYBER88 | CILEGON — Sebuah tonggak sejarah baru tengah ditorehkan di Kota Baja. Pemerintah Kota Cilegon bersama Yayasan Bhakti Bela Negara (YBBN) resmi menggulirkan revolusi pertanian modern, sebagai langkah strategis menjawab tantangan ketahanan pangan nasional dan meningkatkan kesejahteraan petani lokal.
Program ini bukan sekadar jargon atau seremonial belaka. Melainkan gerakan masif, konkret, dan terukur—dengan dukungan nyata dari lintas sektor, termasuk TNI-POLRI dan masyarakat akar rumput. Pemerintah Kota bahkan telah menyiapkan alat-alat pertanian modern seperti traktor dan fasilitas penunjang lainnya untuk mendongkrak produktivitas.
Targetnya pun tak main-main: hasil panen yang sebelumnya hanya 3–4 ton per hektare, kini dibidik melonjak menjadi 9–10 ton per hektare. Ini akan menjadi capaian luar biasa jika berhasil diwujudkan dalam waktu dekat.
Anggota DPRD Kota Cilegon, H. Saefudin, menyatakan tekadnya untuk terus mengawal dan mendukung penuh agenda ini. “Program ini bukan mimpi. Ini langkah nyata menuju kemandirian pangan dan ekonomi yang berpihak pada petani. Kami akan terus bersinergi bersama Pak Wali Kota dan seluruh elemen,” tegasnya, Kamis (31/7/2025).
Hal senada juga ditegaskan perwakilan Pemerintah Kota Cilegon. “Kami hadir bukan hanya dalam simbol, tetapi turun langsung ke lapangan. Petani harus merasakan dampaknya secara langsung,” ujarnya.
Tak ketinggalan, semangat juga dikobarkan dari tingkat kecamatan. Camat Cilegon, Maman Herman, dalam pernyataan penuh optimisme menyampaikan apresiasi luar biasa terhadap YBBN dan seluruh pemangku kebijakan.
“Syukur Alhamdulillah, ini bukan hanya bicara benih dan lahan, tapi juga soal motivasi, edukasi, dan keadilan bagi petani. Kami semua—Pak Wali, Danramil, Forkopimda, hingga Pak Lurah—siap mendukung total,” katanya.
Ia bahkan telah menyiapkan lahan-lahan potensial di beberapa kelurahan, termasuk Ciwedus, Bendungan, Ketileng, hingga potensi lahan tidur di Bagendung yang dapat dimanfaatkan.
“Total bisa sekitar tujuh hektare yang siap diberdayakan. Ini bukan hal kecil di tengah gempuran betonisasi kawasan,” ungkap Maman.
Program ini diharapkan tak hanya melahirkan pertanian yang produktif, tetapi juga ramah lingkungan, berbasis teknologi, dan membuka ruang partisipasi luas bagi generasi muda.
Dengan semangat gotong royong, Cilegon kini melangkah mantap menuju pertanian masa depan—lebih cerdas, lebih hijau, dan lebih menjanjikan bagi kesejahteraan warganya. Revolusi hijau tak lagi impian. Ia telah dimulai. Dan pusatnya: di Cilegon.


Komentar Via Facebook :