Langgam Baru Emas Cokelat: Ikhtiar Maluku Memutus Rantai Ijon dan Merebut Pasar Dunia

Langgam Baru Emas Cokelat: Ikhtiar Maluku Memutus Rantai Ijon dan Merebut Pasar Dunia

CYBER88 | AMBON — Di balik rimbunnya hutan tropis Negeri Hitu dan Negeri Lima, aroma manis nan getir menyeruak di antara embusan angin laut Banda. Itulah wangi Myristica fragrans Houtt, sang primadona yang pernah memicu "perang darah" antar bangsa Eropa di abad ke-17. Kini, setelah berabad-abad menjadi saksi bisu kolonialisme, Pala Maluku tengah bersiap merebut kembali takhta "Emas Cokelat" di panggung global.

Provinsi Maluku adalah jantung sejarah rempah dunia. Namun, data menunjukkan kontradiksi tajam. Berdasarkan kajian Agro Ekologi Zona (AEZ), Maluku memiliki "harta karun" berupa lahan seluas 871.656 hektare yang sangat layak untuk pengembangan pala. Namun, realitas di lapangan tak seindah angkanya.

Laporan teknis Litbang Pertanian mencatat alarm kuning: sekitar 27,40% tanaman pala rakyat masuk kategori Tua/Rusak (TTR), sementara tanaman produktif hanya berkisar 44,74%. Masalah klasik lainnya adalah Sex Ratio; mayoritas bibit berasal dari biji (generatif), sehingga petani seringkali "berjudi" dengan alam tanpa tahu apakah pohon yang ditanam akan menjadi jantan (tidak berbuah) atau betina.

Di tengah kebuntuan sistem tata niaga yang sering memonopoli petani lewat sistem ijon, muncul titik terang dari PT Kabong Tanipala Maluku (KTM). Bermarkas di Siwabessy Warehouse, kawasan Gudang Arang Port, perusahaan ini memposisikan diri sebagai jembatan, bukan sekadar eksportir.

Kabong dalam bahasa lokal yaitu kebun. Ini bukan sekadar lahan, tapi ruang kehidupan. 

Sejak didirikan tahun 2020, KTM telah bermitra dengan lebih dari 500 petani. Mereka melakukan hilirisasi serius: memproses biji pala dengan standar mutu Eropa dan AS, memastikan kadar aflatoksin di bawah 4ppb syarat ketat yang selama ini sering menggagalkan ekspor nasional ke pasar Uni Eropa.

Di teras rumahnya di Negeri Lima, Abidin Talahatu (52) menyeka keringat. Pria yang pernah merantau jadi buruh toko dengan gaji Rp30 ribu per bulan ini, kini menggantungkan hidup pada pohon-pohon pala setinggi 10 meter.

"Dulu, kami jual campur. Semua masuk satu harga, sekitar Rp75 ribu sampai Rp80 ribu. Istilahnya sistem SS (Sound Shriveled). Petani rugi karena pala bagus tidak dihargai lebih," ungkap Abidin saat di wawancarai di negeri Lima, kecamatan leihitu, Rabu(13/5/26).

Sejak bermitra dengan PT KTM dua tahun terakhir, Abidin mulai mengenal sistem pemilahan kualitas. Pala kualitas AB kini bisa dihargai hingga Rp95.000/kg, jauh di atas harga campuran. "Sekarang harga lebih adil. Kami juga diajarkan cara petik dan penjemuran higienis agar tidak berjamur saat musim hujan," tambahnya.

Namun, Abidin memotret realitas pahit regenerasi. Anak tunggalnya tak tertarik meneruskan jejaknya di kebun. Sebuah tantangan besar bagi keberlanjutan sektor agrikultur Maluku di masa depan.

Selama ini, komoditas Maluku harus "mampir" ke Surabaya atau Jakarta sebelum terbang ke luar negeri. Hal ini mengakibatkan biaya logistik membengkak dan hilangnya potensi Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Kabar terobosan datang dari Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan (BKHIT) Maluku. Pada Juni 2026, PT Kabong Tanipala dijadwalkan melakukan Direct Export (Ekspor Langsung) menggunakan kontainer dari pelabuhan Ambon langsung ke Belanda.

Data Ekonomi Pala Maluku (Estimasi 2025-2026):
- Biji Pala ABCD: Rp30.000 - Rp40.000/kg (Biji Basah) | Rp90.000+ (Kualitas Ekspor AB).
- Fuli (Mace): Rp50.000 - Rp150.000/kg (Tergantung tingkat kekeringan).
- Minyak Atsiri: Rp300.000/kg (Pasar Farmasi & Parfum).

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menegaskan bahwa masa depan Maluku ada pada hilirisasi. Fokusnya ganda:
- Hulu: Rehabilitasi tanaman tua dengan bibit klonal (vegetatif) yang bisa mengatur rasio jantan-betina 1:20, meningkatkan produksi hingga 160%.
- Hilir: Diversifikasi produk. Daging buah pala yang dulu dibuang, kini diolah menjadi manisan, selai, hingga sirup. Sementara minyaknya diincar industri parfum Prancis dan kosmetik Korea.

Sejarah mencatat tahun 1667, Inggris menukar Pulau Run di Maluku dengan Pulau Manhattan di New York demi pala. Hari ini, Manhattan adalah pusat finansial dunia, sementara Pulau Run masih berjuang melawan isolasi.

Namun, kolaborasi antara petani seperti Abidin, kebijakan one-gate system pemerintah, dan agresivitas perusahaan seperti PT KTM, mengirim pesan kuat ke London dan Amsterdam: Sang Raja Rempah telah bangun. Langkah ekspor mandiri dari Ambon pada 2026 bukan sekadar transaksi dagang, melainkan simbol kedaulatan ekonomi dari Bumi Raja-Raja untuk dunia.

Komentar Via Facebook :