Hormati Leluhur, Raden Bambang Sridaya Lestarikan Tradisi Tutupan Suro di Makam Ki Ageng Balak Sukoharjo

Hormati Leluhur, Raden Bambang Sridaya Lestarikan Tradisi Tutupan Suro di Makam Ki Ageng Balak Sukoharjo

CYBER88 | Sukoharjo – Sebagai wujud penghormatan kepada para leluhur, pengusaha asal Klaten, Raden Bambang Sridaya, kembali menggelar tradisi Tutupan Suro di kompleks Makam Ki Ageng Balak, Sukoharjo, pada Sabtu–Minggu (11–12 Juli 2026).

Rangkaian kegiatan diawali dengan pagelaran wayang kulit semalam suntuk pada Sabtu (11/7/2026) malam. Pementasan menghadirkan dalang Ki Galuh Purwo Sardjana yang membawakan lakon "Wahyu Katentreman", sebagai simbol harapan akan ketenteraman dan kesejahteraan masyarakat.

Memasuki Minggu (12/7/2026) pagi, acara dilanjutkan dengan arak-arakan gunungan hasil bumi menuju kompleks makam. Prosesi tersebut menjadi simbol ungkapan rasa syukur atas limpahan rezeki sekaligus doa agar hasil pertanian dan kehidupan masyarakat senantiasa diberkahi.

Puncak rangkaian kegiatan ditandai dengan prosesi Pulung Langse, yaitu pergantian kain penutup makam Ki Ageng Balak dan Kyai Simbarjo sebagai bentuk penghormatan kepada para leluhur yang telah berjasa bagi masyarakat.

Bagi Raden Bambang Sridaya, pelaksanaan tradisi ini memiliki makna yang sangat mendalam. Berdasarkan silsilah keluarga, ia merupakan trah keturunan Pajang yang memiliki garis keturunan dengan Ki Ageng Balak. Ikatan sejarah tersebut menjadi alasan kuat baginya untuk terus melestarikan tradisi Pulung Langse sebagai bentuk bakti kepada leluhur sekaligus menjaga warisan budaya agar tidak tergerus perkembangan zaman.

Dalam cerita tutur yang berkembang di masyarakat, Ki Ageng Balak dikenal sebagai salah satu tokoh sepuh yang memiliki hubungan dengan trah Kesultanan Pajang. Sosok yang bernama Raden Sujono itu disebut sebagai putra Prabu Brawijaya V. Di Keraton Majapahit, Raden Sujono dipercaya menjabat sebagai Pradot Agung atau hakim agung yang bertugas menegakkan hukum.

Selain dikenal sebagai tokoh yang bijaksana, Ki Ageng Balak juga diyakini berperan dalam membuka kawasan permukiman serta menyebarkan ajaran agama dan nilai-nilai kehidupan kepada masyarakat di wilayah yang kini menjadi Kabupaten Sukoharjo.

Hingga saat ini, kompleks Makam Ki Ageng Balak masih menjadi salah satu tujuan ziarah masyarakat, terutama pada bulan Sura. Banyak peziarah datang untuk mengenang jasa para leluhur sekaligus memanjatkan doa. Di kawasan yang sama juga dimakamkan Kyai Simbarjo, tokoh yang turut dihormati masyarakat karena kiprahnya dalam membangun kehidupan sosial dan spiritual.

Bagi masyarakat Jawa, penghormatan kepada tokoh-tokoh leluhur seperti Ki Ageng Balak bukan dimaksudkan untuk mengagungkan sosoknya, melainkan sebagai bentuk penghargaan atas jasa, keteladanan, dan nilai-nilai luhur yang telah diwariskan. Semangat gotong royong, kebijaksanaan, kerukunan, serta kedekatan kepada Tuhan menjadi pesan yang terus dijaga melalui tradisi Tutupan Suro.

Raden Bambang Sridaya berharap warisan budaya dan sejarah lokal tidak berhenti sebagai cerita lisan semata, tetapi dapat terus dikenalkan kepada generasi muda. Menurutnya, menjaga tradisi berarti merawat identitas budaya bangsa sekaligus menghormati perjuangan para leluhur yang telah meletakkan dasar kehidupan masyarakat hingga saat ini.

Komentar Via Facebook :