Ratusan Peserta Turun ke Jalan, DLH Klaten Kobarkan Perang Sampah dari Rumah

Ratusan Peserta Turun ke Jalan, DLH Klaten Kobarkan Perang Sampah dari Rumah

CYBER88. I. Klaten,  Hampir 900 peserta memadati halaman Pemerintah Kabupaten Klaten mengikuti Run For Zero Waste dalam rangka memeriahkan Hari Jadi Kabupaten Klaten dan gerakan menjaga lingkungan melalui kampanye pengurangan dan pemilahan sampah dari rumah.

Kegiatan yang digelar Pemerintah Kabupaten Klaten melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Klaten tersebut membawa pesan kuat bahwa kepedulian terhadap lingkungan harus menjadi bagian dari aktivitas dan kebiasaan masyarakat sehari-hari.

Kepala DLH Kabupaten Klaten, Srihadi, mengatakan Fun Run 5K sengaja dikemas tidak hanya sebagai kegiatan olahraga dan hiburan, tetapi sekaligus menjadi sarana kampanye kepedulian lingkungan.

“Melalui kegiatan ini kami mengampanyekan bahwa setiap gerak dan setiap langkah kita harus selalu peduli terhadap lingkungan,” ujar Srihadi di sela-sela kegiatan.

Menurutnya, antusiasme masyarakat terlihat dari jumlah peserta yang mencapai hampir 900 orang. Momentum tersebut dimanfaatkan DLH untuk mengajak masyarakat semakin sadar bahwa persoalan sampah tidak dapat hanya dibebankan kepada pemerintah.

Sebaliknya, pengelolaan sampah harus dimulai dari sumbernya, yakni rumah tangga.

Srihadi menegaskan, salah satu langkah paling sederhana yang dapat dilakukan masyarakat adalah memilah sampah sejak dari rumah. 

Sampah organik diupayakan dapat diselesaikan atau dimanfaatkan di tingkat rumah tangga, sedangkan sampah anorganik yang masih memiliki nilai ekonomi dapat disalurkan melalui bank sampah.

“Artinya, sampah itu kita pilah dari rumah. Sampah organik diselesaikan di rumah masing-masing. Dengan begitu, sampah yang masuk ke TPA nantinya benar-benar hanya sampah residu,” jelasnya.

Kejar Target Pengurangan Sampah hingga 2029

DLH Kabupaten Klaten kini mendorong perubahan pola pengelolaan sampah dari sistem yang bertumpu pada tempat pembuangan akhir menjadi sistem yang dimulai dari hulu.

Target tersebut menjadi penting mengingat persoalan sampah akan terus berkembang seiring pertumbuhan penduduk dan aktivitas masyarakat. Dokumen perencanaan Kabupaten Klaten juga memproyeksikan timbulan sampah terus meningkat dalam beberapa tahun mendatang.

Srihadi mengatakan, pemerintah menargetkan pada 2029 pengelolaan sampah di Klaten semakin terintegrasi. Pengurangan sampah dilakukan sejak tingkat masyarakat, sementara sampah yang sampai ke TPA sudah melalui proses pemilahan dan pengolahan.

“Target kita tahun 2029, sampah benar-benar sudah ada pengolahan. Di masyarakat juga ada pengurangan sampah organik,” kata Srihadi, Sabtu (8/8/2026) pagi.

Konsep tersebut dilakukan secara berjenjang. Pada tingkat hulu, masyarakat didorong memilah dan mengolah sampah dari rumah. 

Di tingkat tengah, pengelolaan diperkuat melalui bank sampah maupun tempat pengolahan sampah. Sedangkan di bagian hilir, DLH melakukan pengelolaan terhadap residu yang akhirnya masuk ke TPA.

Langkah tersebut bukan tanpa alasan. DLH Klaten sebelumnya juga mendorong gerakan pilah sampah dari rumah menuju konsep zero waste, termasuk penguatan bank sampah dan sarana pengelolaan sampah berbasis masyarakat.

Bahkan pada 2026, DLH Klaten telah merancang Gerakan Pilah Sampah (GPS) dengan Desa Wangen, Kecamatan Polanharjo, sebagai salah satu pilot project pengelolaan sampah berbasis masyarakat. 

Program tersebut diarahkan agar kebiasaan memilah sampah dari rumah tidak berhenti sebagai slogan, tetapi menjadi budaya masyarakat.

TPA Tak Lagi Menjadi Satu-satunya Tumpuan

Srihadi menambahkan, DLH juga terus melakukan pembenahan di tingkat TPA. Salah satu perhatian yang tengah ditangani adalah persoalan bau yang muncul dari timbunan sampah.

“Di TPA kita berproses untuk mengurangi bau yang ada di sana,” ungkapnya.

Selain pengurangan bau, DLH juga tengah mendorong proses pengolahan sampah sehingga sampah tidak sekadar ditimbun. Srihadi menyebut terdapat proses untuk mengembangkan pemanfaatan sampah menjadi sumber energi listrik.

“Ini sudah berproses untuk mengubah sampah menjadi listrik," terangnya.

Upaya tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan sampah Klaten diarahkan menuju modern dengan mengurangi beban TPA sekaligus memberikan nilai manfaat dari sampah.

Namun, Srihadi menegaskan bahwa keberhasilan program tersebut tetap sangat bergantung pada kesadaran masyarakat. "Semua harus berperan, bersama-sama peduli terhadap lingkungan dan sampah," tegasnya.

Komentar Via Facebook :