Harga Minyak Dunia Masih Jadi Sorotan, Selat Hormuz Beri Tekanan ke Pasar

Harga Minyak Dunia Masih Jadi Sorotan, Selat Hormuz Beri Tekanan ke Pasar

Aktivitas kapal tanker pengangkut minyak di kawasan perairan. Pergerakan harga minyak dunia masih dipengaruhi kondisi pasokan dan ketidakpastian di sekitar Selat Hormuz.

CYBER88 | Jakarta – Pergerakan harga minyak dunia kembali menjadi perhatian pasar global pada Kamis, 13 Agustus 2026. Meskipun harga minyak mengalami penurunan setelah sebelumnya mencatat kenaikan dalam beberapa sesi perdagangan, level harga masih berada cukup tinggi di tengah ketidakpastian pasokan global.

Harga minyak mentah Brent pada perdagangan 13 Agustus berada di kisaran US$87,8 per barel. Sementara minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) berada di sekitar US$82,13 per barel.

Pergerakan harga minyak dipengaruhi oleh sejumlah sentimen, mulai dari prospek permintaan global hingga kondisi pasokan. Pasar juga masih memperhatikan perkembangan di kawasan Timur Tengah, khususnya situasi yang berkaitan dengan Selat Hormuz.

Selat Hormuz menjadi salah satu jalur strategis bagi perdagangan energi dunia. Ketidakpastian mengenai kelancaran lalu lintas kapal tanker melalui kawasan tersebut dapat memberikan tambahan premi risiko terhadap harga minyak.

Pada perdagangan Kamis, harga minyak memang mengalami tekanan setelah investor mencermati prospek permintaan global yang berpotensi melemah. Namun, kondisi geopolitik masih menjadi faktor yang membuat pasar berhati-hati.

Perubahan harga minyak dunia menjadi perhatian bagi banyak negara karena dapat berdampak terhadap biaya energi, transportasi hingga inflasi.

Bagi Indonesia, pergerakan harga minyak global juga penting untuk dicermati karena harga minyak dapat memengaruhi berbagai komponen ekonomi, termasuk biaya distribusi dan harga sejumlah produk energi.

Pasar minyak saat ini masih menghadapi dua sentimen yang berlawanan. Di satu sisi terdapat kekhawatiran mengenai pasokan dan risiko geopolitik. Di sisi lain, meningkatnya persediaan minyak serta proyeksi permintaan yang lebih lemah dapat menahan kenaikan harga.

Dengan kondisi tersebut, perkembangan Selat Hormuz dan data pasokan minyak global masih akan menjadi perhatian pelaku pasar dalam beberapa waktu ke depan.

Komentar Via Facebook :