Anton Charliyan: “Jelang Pelantikan Presiden-Wakil Presiden, Perlu Diwaspadai Aksi Kelompok Radikalis”

Anton Charliyan: “Jelang Pelantikan Presiden-Wakil Presiden, Perlu Diwaspadai Aksi Kelompok Radikalis”

Tasikmalaya, Cyber88 Mantan Kapolda Jawa Barat Irjen Pol (Purn) Dr.H.Anton Charliyan,MPKN  bicara soal radikalisme menanggapi insiden penusukan terhadap  Menko Polhukam Wiranto yang  diserang dua orang tidak dikena di Alun-alun Menes usai meresmikan Universitas Mathla'ul Awal di Pandeglang, Banten, pada Kamis (10/10) sekitar pukul 11.55 WIB.Wiranto yang mengalami dua luka tusukan di bagian perut sempat menjalani perawatan di RSUD Berkah Pandeglang, sebelum dirujuk ke RSPAD Gatot Soebroto. Selain Wiranto, pelaku penyerangan juga melukai seorang aparat kepolisian.    Anton Charliyan mengamati, bahwa insiden “penusukan” serangan terhadap Menko Polhukam Wiranton dikhawatirkan menjadi pemanasan kelompok kelompok radikal, terutama menjelang pelantikan Presiden Jokowi dan Wakil Presiden KH Ma’ruf Amin pada 20 Oktober 2019, yang tinggal beberapa hari lagi. “Kalau saya amati dari sisi lain dari insiden penyerangan teradap Pak Wiranto itu sebagai awalan atau pemanasan  saja, karena target mereka adalah menjadikan Indonesia sebagai Suriah, Sungguh mengerikan....!” ungkapnya.    Bahkan menurutnya, kelompok radikal kini sedang meempersiapkan aksi amaliyah menjelang pelantikan Presiden-Wakil Presiden terpilih hasil Pemilu 2019 yang lalu. “Jadi moment pelantikan Presiden Pak Jokowi dan Wakil Presiden Pak KH Ma’ruf Amin dianggap kelompok radikal itu sebagai kesempatan emas, karena di situ akan banyak pula kelompok yang berseberangan dengan pemerintah akan turun ke jalan melakukan aksi yang berusaha menjegal dan menggagalkan pelantikan kepala negara. Ini yang patut diwaspadai terutama oleh aparat keamanan baik Polri maupun TNI,”jelasnya.  Anton Charliyan yang berpengalaman di reserse hingga pernah menjadi Kanit III Direktorat Keamanan dan Kejahatan Transnasional Bareskrim Polri ini menilai, bahwa pelantikan Presiden dan Wakil Presiden RI meenjadi kesempatan emas bagi kelompok kelompok radikal  untuk melakukan aksi. Hal ini lantaran menjelang pelantikan kepala negara, sejumlah kelompok akan menggelar aksi pula. Tidak hanya keompok yang anti pemerintah  atau anti Jokowi saja, karena aksi juga bakal dilakukan oleh kelompok kelompok yang anti Pancasila atau pro Khilafah, mereka berusaha menjegal dan menggagalkan pelantikan.” Ini yang berbahaya, jika ada bom meledak di satu kerumunan massa, maka Indonesia akan dalam kondisi darurat karena target kelompok radikalis memang demikian.Ketika chaosm maka itulah peluang yang sangat bagus untuk revolusi, menjadikan Indonesia seperti di negara Suriah. Dalam hal ini, potensi Indonesia seperti Suriah bisa saja terjadi, apabila pemerintah lemah dan salah dalam menangani para radikalis. Hal ini mengingat banyaknya jaringan dan sel sel aktif para radikalis yang memiliki keterampilan amaliyah. Jika mereka mau, maka mereka bisa melakukan aksi dimanapun mereka berada.Apalagi sekarang tidak perlu komando untuk melakukan aksi amaliyah, pokoknya sudah benci pemerintah dan menganggap Pancasila taghut atau berkala, maka itu sudah merupakan modal dasar menjadi pelaku terorisme.”paparnya.         Karena itu, Anton Charliyan meminta pemerintah tidak menoleransi lagi kelompok radikal terorisme.” Pintu gerbang radikalisme dan terorisme adalah intoleransi, katika orang sudah tidak menerima perbedaan. Kepada masyarakat di seluruh Indonesia, saya berharap dan meminta agar kritis terhadap informasi yang kini beredar. Sebaiknya, masyarakat melakukan tabbayun (cek) dan konfirmasi suatu informasi menjadi hal yang penting.Sebab, para radikalis kini menyebar propaganda, baik melalui dunia maya (medsos) maupun dunia nyata. Lihat saja, kini bnyak konten medsos yang provokatif dan menimbulkan kebencian menyebar di tengah tengah masyarakat, terkadang masyarakat kurang kritis sehingga turut menyebarkan konten tersebut. Jika situasi dan kondisi dianggap sudah membahayakan ke depan, maka saya mengusulkan kepada pemerintah agar internet di-down-kan saja, agar situasi dan kondisi yang kondusif tetap terjaga, tidak menimbulkan keresahan di masyarakat. Hari ini saja, berita hoax sudah sedemikian berseliweran di sekitar kita terutama melalui medsos, apalagi menjelang pelantikan Presiden Jokowi dan Wakil Presiden KH Ma’ruf Amin pada 20 Oktober 2019 yang tinggal beberapa hari lagi,” pungkas Anton Charliyan. (RED) Cyber88

Komentar Via Facebook :