Sudah Tepatkah Kebijakan Lockdown Untuk Pencegahan Covid 19 Saat Ini?

Sudah Tepatkah Kebijakan Lockdown Untuk Pencegahan Covid 19 Saat Ini?

CYBER88.CO.ID | Tasikmalaya - Coronavirus Disease (Covid-19) sudah menginfeksi ribuan jiwa, tidak mengenal usia. Keadaan ini tentunya berdampak terhadap psikologi masyarakat yang mulai ketakutan. Pasalnya, virus yang datang di tahun 2019 itu penyebarannya begitu dasyat dan dapat bersembunyi dan bertahan di tubuh manusia selama 14 hari, dimana awal seseorang tekena virus itu tidak menunjukan gejala sakit dan baru setelah melewati masa inkubasi gejala itu timbul.

Berbagai upaya dilakukan oleh pemerintah untuk mengantisipasi dasyatnya penyebaran virus corona tersebut. Presiden Jokowi sudah menyatakan perang terhadap Covid-19 ini dan telah ditayangkan beberapa media. Namun pada kenyataannya, perang ini seperti perang melawan hantu. Perang dengan sesuatu yang tidak kelihatan dan terkesan hanya membabi buta.

Irjen. Pol. (Purn.) Dr. Drs. H. Anton Charliyan, M.P.K.N. atau biasa disapa Abah Anton mengatakan, bahwa pencegahan covid-19 saat ini, kalau kita perhatikan dengan seksama sepertinya lebih mengutamakan kepada antisipasi dampak penyebaran sekundernya, bukan kepada aspek primer inti dari penyebab adanya virus tersebut.

Kenapa hal tersebut bisa menyebar sehingga membuat suasana jadi panik. Terbukti dengan maraknya masker dan hand sanitizer untuk pencuci tangan serta adanya kebijakan lockdown.

"Bukan pencegahan melokalisir titik sumber penyebar utama dari penyakitnya tersebut, karena kalau titik sumber penyakitnya sudah bisa dikunci dan dilokalisir, otomatis penyebarannya pun bisa ditekan seminimal mungkin. Karena sudah jelas dari awal sumber penyebar tersebut melalui batuk, bersin, berdahak, meludah dan kontak langsung (B3MK), bukan melalui udara dan masyarakat yang harus disosialisasikan. Hal ini harus tersosialisasikan dengan benar sehingga tidak salah faham yang akhirnya masyarakat jadi panik," ujarnya.

"Sebetulnya kunci utama dari semua ini, ya, harus lokalisir maksimal sumber primernya dulu, yakni disiplin dalam tata cara B3MK tersebut (batuk, bersin, berdahak, meludah dan kontak langsung). Jika perlu saat ini dibuat aturan keras. Selain wajib menggunakan masker, dilarang berkumpul. Sterilisasi-sterilisasi yang sudah dilakukan supaya bisa lebih ditekankan kepada hal Primer penyebab penyakitnya misal:

  1. Dilarang B3MK ditempat umum dan di hadapan orang lain, tapi harus di tempat tertentu yang aman seperti di toilet
  2. Setiap batuk, dahak, ludah, dan bersin, harus ditutup pakai tisu atau saputangan dan sampahnya tidak dibuang sembarangan, tapi wajib dibakar. Dengan demikian setiap orang wajib bawa tisu dan saputangan
  3. Setiap habis batuk, bersin, dahak, dan meludah, wajib cuci tangan dengan antiseptik atau sabun higienis
  4. Yang Kedapatan B3MK tidak pakai penutup dan tidak cuci tangan, diberi sanksi diumumkan di medsos-medsos dan didenda misal Rp.10.000.000,- 
  5. Tata cara salaman sementara cukup dari jarak jauh
  6. Pelayanan-pelayanan ditempat umum wajib pakai Kaos tangan.
  7. Tempat-tempat umum wajib menyediakan sabun cuci dan antiseptik, dan upaya lainnya untuk menjaga kesehatan.

"Insya Allah akan lebih efektif dan tidak perlu adanya lockdown yang akibatnya pasti akan mematikan perekonomian rakyat dan negara. Jadi, kalau menurut kami, pemerintah dan kita semua harus mampu melakukan upaya pencegahan secara maksimal dulu, jangan langsung membuat keputusan dan kebijakan lockdown.

Keputusan lockdown adalah "keputusan frustasi" yang sangat berbahaya, karena jelas-jelas akan mematikan dan melumpuhkan mata pencaharian langsung masyarakat yang akan sangat berdampak pada rakyat kecil yang memang harus mencari sesuap nasi untuk kehidupan sehari-hari anak istri di rumah.

"Masalah ini perut yang tidak bisa ditawar-tawar lagi, dimana hal tersebut tidak mungkin bisa diganti atau ditanggulangi oleh negara saat ini. Makanya keputusan Lockdown ini jangan sampai seperti di Italia yang rakyatnya notabene lebih maju dan disiplin dari negara kita, tapi akhirnya hal itu menyebabkan kerusuhan dan penjarahan masal. Karena hal tersebut berdampak langsung kepada masalah perut rakyatnya yang lapar," jelas Abah Anton.

"Semoga hal ini bisa menjadi renungan dan pembelajaran bagi kita semua, Amin Ya Robbal Alamin," tutupnya.

[Den's/Red]

Komentar Via Facebook :