Refleksi 75 Tahun Indonesia Merdeka : Semoga Bangsa Indonesia Tersesat Di Jalan Yang Benar
Ilustrasi
CYBER88 | Opini menyentak muncul di Cyber 88 (Senin, 17/08/2020) sebagai sebuah refleksi keprihatinan memasuki periode 75 Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia.
Penulisnya, Andika Perdana Putra yang juga Redpel (Redaktur Pelaksana) Media Cyber 88 -- sosok "orang dalam" yang dikenal dengan metode berpikir analitis dan dimensional -- "Merdeka Bukan Hanya Slogan !!! Pembodohan merupakan tanda bahwa negeri ini belum merdeka sepenuhnya," begitu judul tulisan opininya dan narasi yang tertera pada caption-nya.
Cyber 88 tidak berhenti sebatas itu dan mencoba menelusuri perspektif berpikir lain terkait makna kemerdekaan lewat polling di beberapa grup WA dan juga akun media sosial Facebook.
Perempuan cantik bernama Ayu Maryanto berceloteh ringan di akun Facebooknya, "Merdeka itu.... Bebas mengeluarkan pendapat tanpa takut di-UF/di-block temen, tanpa takut di-bully, tanpa takut di-SS, tanpa takut di-maping dan dipersekusi. Yang penting bertanggung jawab atas apa yang diucapkannya sendiri," begitu katanya mewakili kemerdekaan individunya.
Masih di laman Facebook, Neng Haji Yulia yang juga berparas cantik bertutur dalam perspektif dan dimensi yang meluas : "Merdeka itu kalau jalan udah bagus semua dan nggak ada lagi jalan berbayar (jalan tol bebas dan tidak harus bayar). Merdeka itu kalau rakyat sudah tidak perlu bayar pajak lagi. Merdeka itu kalau penguasa tidak lagi mengambil hak rakyatnya dan justru (seharusnya) membuat rakyatnya merasa aman tentram di tanah kelahirannya," begitu celotehnya dalam dimensi 'gemah ripah loh jinawi' yang ditutup dengan pekik "Merdeka !!!"
Sementara itu, beberapa saat setelah Presiden Republik Indonesia Ir. H. Joko Widodo menyampaikan Pidato Kenegaraannya, seorang seniman yang juga mantan jurnalis, Marlin Dinamikanto, berkicau riang tanpa beban di beranda Facebook-nya, "Silakan bapak pidato apa saja. Saya manut. Asal setiap bangun tidur bisa beli rokok Marlboro 2 bungkus dan ngopi. Iya, to? Setidaknya seperti itulah makna kemerdekaan dalam perspektif yang tidak terlalu serius sehingga cukup dilihat secara faktual lewat indikator 2 bungkus rokok dan beberapa gelas kopi.
Disaat bersamaan, memasuki usia 75 Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia, suka atau tidak dan diakui atau tidak, masih begitu banyak jumlah orang Indonesia yang gamang dan bingung memaknai kemerdekaan : sebagian besar dari mereka malah berpendapat bahwa makna kemerdekaan tidak lebih dari upacara menaikan bendera, repot mempersiapkan lomba agustusan, dan bikin panitia untuk minta sumbangan.
Jika dihitung dan dijumlah dalam skala nasional : berapa banyak jumlah masyarakat yang menyelenggarakan acara seremonial 17 Agustusan di seluruh Indonesia? Berapa trilyun jumlah uang yang sudah dikeluarkan hanya untuk acara seremonial belaka tanpa memahami makna kemerdekaan yang sesungguhnya?
Semoga bangsa Indonesia tersesat di jalan yang benar memasuki usia 75 Tahun Indonesia Merdeka.
------------------------------------
Penulis : Chairudin.


Komentar Via Facebook :