Kapitra Ampera : Teror dan Sekelumit Polemik di Tanah Papua

Kapitra Ampera : Teror dan Sekelumit Polemik di Tanah Papua

CYBER88 I Jakarta - Konflik bersenjata yang dilakukan oleh sekelompok orang di Papua belum mereda. Meskipun Pemerintahan Joko Widodo telah memberi perhatian khusus, jauh lebih besar dari pada pemerintah sebelumnya, dan itu ditunjukkan oleh beliau dengan melakukan 12 kali kunjungan dalam 5 tahun ke tanah Papua

Melalui sambungan telpon Sabtu, (3/10/20) kali ini jurnalis CYBER88 melakukan wawancara dengan seorang pengamat dari Politisi PDI Perjuangan, Dr Kapitra Ampera SH MH, terkait konflik yang telah terjadi di tanah Papua

Kapitra mengatakan, kepada tanah Papua saat ini pemerintah Jokowi juga telah memberikan otonomi khusus, dan pemberian dana khusus yang dikeluarkan pemerintah khusus untuk mensejahteraan masyarakat Papua, namun konflik bersenjata/separatis tak kunjung jua reda.

Seperti baru-baru ini terjadi peristiwa penembakan-penembakan yang mengakibatkan dua orang prajurit TNI juga seorang sipil, dan seorang Pendeta bernama Yeremia Zanambani tewas di Distrik Hitadipa, Kabupaten Intan Jaya, Papua.

Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) menuduh Pendeta Yeremia tewas ditembak oleh anggota TNI. Namun hal ini dibantah oleh Tentara Nasional Indonesia (TNI) melalui Kapen Kogabwihan III, Kol. Czi IGN Suriastawa, yang menyebut tuduhan tersebut sebagai fitnah KKB untuk mencari momen menarik perhatian dunia semasa Sidang Majelis Umum PBB.

Padahal, realitasnya penembakan tersebut dilakukan oleh KKSB yang kemudian diputarbalikkan dengan menuduh TNI sebagai pelaku. TNI memang tidak memiliki keuntungan strategis atau taktis untuk menembak pendeta yang dikenal sangat cinta ketenangan dan keamanan di kawasannya tersebut.

Peristiwa tersebut tentu berpotensi dieksploitasi agar menjadi isu nasional dan internasional, oleh karena dentuman aksi KKB telah ditenggelamkan oleh pemberitaan-pemberitaan Pandemi Covid-19.

Dan pada Sidang Majelis Umum PBB yang lalu, PM Vanuatu dalam pidatonya ikut menyorot HAM di Papua tersebut, yang kemudian langsung dibantah oleh diplomat Indonesia, karena tidak sesuai dengan kenyataan dilapangan.

Faktanya selain menyebabkan tewasnya Pendeta Yeremia Zanambani,  sebelumnya seorang warga sipil meninggal dunia setelah diserang dengan cara dibacok senjata tajam oleh KKB di kabupaten yang sama, serta dua anggota TNI juga gugur ditembak oleh KKB.

Penembakan kedua anggota TNI tersebut  di benarkan oleh Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB).

Pendeta Yeremia dikenal sebagai Ketua Klasis Hitadipa Intan Jaya yang merupakan penginjil yang setia dan berintegritas serta penerjemah Alkitab ke bahasa Moni, bahasa penduduk asli di Paniai Papua.

"Selama ini Pendeta Yeremia sangat membantu pemerintah dalam menjaga kondusifitas keamanan, dan memberi kedamaian kepada masyarakat Intan Jaya. Dapat dipahami, apa urgensinya TNI/Polri membunuh Pendeta Yeremia? " Ujar kapitra.

Tewasnya tokoh lokal ini justru menyebabkan TNI/Polri kehilangan tokoh lokal, yang ikut menjaga keamanan dan ketentraman di tanah Papua.

Ataukah memang peristiwa ini merupakan upaya propaganda KKB agar mendapatkan perhatian dunia internasional dengan memanipulasi isu pelanggaran HAM?

Untuk mencari kebenarannya, pemerintah saat ini telah membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) guna mengusut kasus penembakan terhadap Pendeta Yeremia Zanambani tersebut. Tindakan kekerasan ini mendapatkan perhatian serius dari pemerintah.

Diharapkan TPGF dapat melaksanakan tugasnya secara tuntas dan transparan, memenuhi komitmen Presiden Jokowi untuk memberikan keadilan bagi para korban insiden di kawasan Intan Jaya tersebut,” tutup kapitra.

Komentar Via Facebook :