Menguak Sedikit Sejarah Pendiri Vibers Persib Fans (Alm) Abah Didin Bulle

Menguak Sedikit Sejarah Pendiri Vibers Persib Fans (Alm) Abah Didin Bulle

( Alm Abah Didin Bulle )

CYBER88 | Bandung -- Seorang warga Rancaekek yang biasa dipanggil Didin Bulle (Alm) merupakan salah satu supporter Persib dari daerah Karapiak Desa Nanjung Mekar Kec Rancaekek Kabupaten Bandung.Sabtu,(12/12/2020.

Pada tahun 90 an dia (Didin Bulle) Alm selalu mengajak seluruh Bobotoh Persib yang berada di Rancaekek untuk datang langsung "ngabobotohan" Persib kestadion, dan untuk mewadahi Bobotoh yang ada di wilayah Rancaekek,Cicalengka,Nagreg, Cimanggung dan Kadungora Garut, maka pada tahun 1995 Didin Bulle pada saat itu berusia (35 tahun) mengajak para pentolan Bobotoh Persib yang ada di kawasan Bandung Timur untuk membuat wadah Supporter Persib.

Maka pada tanggal 18 Agustus 1995 sepulang shalat Jum'at,10 pentolan Bobotoh dari berbagai daerah berkumpul dan didirikanlah satu wadah Bobotoh Persib yang diberi nama "Dedemit Persib" dan para pendirinya adalah, Didin Bule (Alm),Bah Gatan (42), Anas Nasrulloh (43), Paul Panhur (40), Aan Bo'ol (40), Baliung (Alm),Herru (45),Dede Silet (35),Bona (45).Ujang Bemo (40).

Seiring dengan berjalanya waktu hingga menginjak usia yang ke 2 tahun pada hari Senin,18 Agustus 1997 "Dedemit Persib" bergabung dengan 'Viking Persib Fans Club" pada saat itu sekretariat pusatnya berada di jalan Gurame.

Mulai saat itu "Dedemit Persib" pun berganti nama menjadi VIBERS Singkatan dari "Viking Bersatu" dan ketua umum masih dipegang oleh Didin Bulle (Alm) hingga tahun 2003.

Singkat cerita Vibers semakin besar dan makin bertambah banyak anggotanya sampai sekarang, Vibers selalu mengumandangkan salam perdamaian, selalu menyampaikan pesan persaudaraan, always menyebarkan virus perdamaian kepada semua supporter Persib,yang pada masa itu banyak sekali nama dan komunitas supporter Persib. 

Vibers tidak suka dengan permusuhan, Vibers lebih senang dengan suasana damai, karena dengan begitu hakekat adanya supporter sepak bola sebagai pendukung tim sepak bola akan betul-betul dalam koridor yang benar, yaitu selalu mendukung dan mensupport tim Persib Bandung. 

Vibers itu didirikan untuk mendukung Persib Bandung, sesuai dengan arti kata supporter/Bobotoh yaitu sebagai pendukung Persib Bandung, jadi apabila supporter itu kerjaanya adalah membikin kerusuhan, melakukan tindakan kriminalitas seperti yang sering kita lihat pada hakekatnya mereka itu bukan supporter, tapi penjahat yang berbaju suporrter. Oleh karena itu, Vibers selalu ingin jadi terdepan jika menyampaikan pesan perdamaian.

Munculnya sebuah ungkapan/slogan baru Vibers yakni "Sieun Lain Budaya Aing" (Takut Bukan Budaya Kami) yang artinya Tidak takut bentrok dikandang maupun tandang dengan supporter lawan,kata tersebut muncul pertama kali dari salah seorang pentolan Vibers yaitu Bah Gatan, arti dari kalimat tersebut, yang menandakan bahwa Vibers pun siap di ajak Damai namun tak akan menolak jika di ajak ribut.

Slogan ( Takut Bukan Budaya Kami) yang selalu diusung oleh seluruh anggota Vibers dalam mengiringi pesan perdamaian yang ada. Sedangkan bagaimana dan apa  maksud dari "Takut Bukan Budaya Kami" itu sendiri?

Seperti dari bentuk kalimat "Takut Bukan Budaya Kami" itu sendiri, ada kata damai boleh. Dalam hal ini Vibers selalu terbuka untuk mendapatkan tawaran damai dari kelompok supporter lain, dan juga Vibers akan selalu aktif untuk menawarkan perdamaian dengan kelompok supporter lain yang mungkin bisa diajak damai. Karena kalau memang tidak bisa diajak damai ngapain.

Akan tetapi Vibers bukanlah supporter yang cemen, yang bermental bencong, yang cuman berani main belakang. apabila ada kelompok supporter lawan yang mengajak ribut, Vibers tidak akan mundur dan akan tetap melawan, karena selain pentingnya perdamaian itu sendiri, harga diri adalah mutlak dan tidak bisa ditawar-tawar. 

Jiwa dan darah "Maung" dalam tubuh seluruh anggota Vibers yang akan keluar jika ada musuh yang menantang. Musuh supporter lawan yang menantang akan kami lawan. Tapi sekali lagi, Vibers tidak mau dan tidak suka permusuhan. 

Hal ini dilakukan tentu jika salam dan pesan perdamaian sudah disampaikan tapi tidak dibalas, baru pertempuran akan selalu dilayani oleh Vibers.

Vibers seringkali melihat ungkapan kata-kata tersebut menjadi polemik bagi pendukung lain, seakan-akan mencari permusuhan dengan ungkapan yang “sedikit” mengandung kata-kata nakal, rusuh. yang memang sebenarnya siapa yang akan mengajak ribut kalian jika memang tidak ada kesalahan. 

Masih segar dalam ingatan kita dengan kasus Viking vs Jak Mania Nuansa permusuhan kembali muncul dan cenderung semakin parah jika tidak segera di klarifikasi, yakni hubungan antara Jak mania dan Viking tersebut.

Vibers semakin membenci mereka "Jak Mania” karena ulah beberapa oknum dari Jak Mania yang kala itu melakukan serangan dan lemparan kepada seluruh Bobotoh Persib kala mendukung Persib di lebakbulus pada lanjutan liga Indonesia di Jakarta.

 Lemparan terjadi di tiap daerah yang dilewati bis bobotoh dan korban pun banyak dari Bobotoh Persib.

seorang anggota Vibers dari Kadungora Garut (tepatnya dari daerah cihuni) ia menjadi korban akibat ulah tidak simpatiknya Jak mania.

 Vibers menganggap hal itu adalah hal yang biasa dalam dunia supporter, Vibers pun sebenarnya sudahlah ingin mengakhiri segera dendam itu, sebelum ini berlanjut lebih tragis lagi.

Segala sesuatu juga tergantung masing-masing individu saudara-saudara Vibers. Atas kejadian dilebakbulus itu kalau bisa jangan sampai terjadi lagi, cukup dengan satu korban, jangan ada korban-korban yang lainnya.

Komentar Via Facebook :