Nasib Iba Darman Silaban, Buruh Water Park Yang Diabaikan si Pengusaha

Nasib Iba Darman Silaban, Buruh Water Park Yang Diabaikan si Pengusaha

Darman Silaban dan Putrinya (ist)

CYBER88 | Pekanbaru  –Malang betul nasib yang diderita buruh /pekerja Darman Silaban, sudah mengalami kecelakaan kerja di lokasi kerja dan diabaikan pengusaha Water Park Panam. Senin, (20/09/21).

Dihadapan awak media Darman Silaban berkisah awal mulai ia bekerja di kolam renang  Water Park yang berada di jalan HR Soebrantas ujung (Panam ujung) kecamatan Bina Widya kota Pekanbaru .

Dijelaskan nya, Januari 2016 awal ia bekerja sebagai buruh kebun di tanah milik seorang pengusaha sukses dan ternama yang berinisial (S), dilahan yang kurang lebih dengan 2 hektar Darman Silaban bersama 1 orang rekannya dipercaya pengusaha untuk menjaga dan merawat tanaman mangga. Diakuinya awal bekerja ia mendapatkan jatah tempat tinggal serta diberikan upah pertama Rp 2.000.000.00.

Sabar hanya mendapatkan fasilitas mes tempat tinggal dan upah 2 juta rupiah, Darman Silaban berharap bos nya dapat lebih memperhatikan kebutuhan lainnya yaitu mendapatkan kartu BPJS kesehatan dan BPJS ketenaga kerjaan.

Selama 3 tahun bekerja menjadi tukang kebun mangga, pengusaha merubah bisnis kebun mangga nya menjadi kolam renang umum pada tahun 2019 dan diberi label "Water Park".

Ketika awak media bertanya berapa besaran upah yang ia terima mulai bekerja dari tahun 2016 hingga tahun 2021, Darman Silaban dengan tegas menyampaikan ‘ kenaikan upah / gaji yang pernah ia terima selama ini adalah Rp 2juta.

"Kenaikan gaji yang saya terima dari 2 juta per bulan mengalami kenaikan bertahap sehingga terakhir diterima sebesar 2, 3 juta rupiah," ucapnya.

Disinggung mengenai mata kiri nya yang kini terancam akan mengalami kebutaan akibat insiden kecelakaan kerja yang ia alami, Darman Silaban mengisahkan awal kejadian dimana tepatnya pada tanggal 09 Juli tahun 2021 ia mendapatkan tugas untuk memotong rumput.

"Mulai pukul 08 : 00 WIB, saya mulai memotong rumput mengunakan mesin pemotong rumput, sekitar pukul 15:00 WIB mesin pemotong rumput kandas ketanah dengan kondisi tanah berpasir hingga pasir yang mengenai mata kiri saya dan saya berhenti memotong rumputnya," tutur Darman.

Saat insiden terjadi, ia mengakui orang yang pertama sekali mengetahui insiden tersebut adalah (S) tidak lain adalah diduga bos pemilik tempat usaha ‘Water Park', melihat anggotanya yang sedang kesakitan si bos (S) bertanya ”kenapa pak Silaban," lalu Darman Silaban mengatakan ” mata kiri saya kemasukan pasir pak ….. lalu si bos (S) menyarankan agar mencuci mata nya dengan air bersih, namun Darman Silaban masih mengerang kesakitan selang lima menit usai si bos (S) bertanya lalu si bos pergi begitu saja meninggalkan Darman Silaban dengan kondisi menahan rasa sakit dibola matanya .

Beberapa hari menahan rasa sakit di bola matanya , Darman Silaban berupaya meminta pertolongan kepada pengawas dan manager , namun upaya permintaan nya tidak terkabulkan . Tak tahan menahan rasa sakit Darman Silaban pergi berobat ke salah satu Rumah Sakit mata yang beralamat di jalan Arifin Ahmad kota Pekanbaru dan pihak rumah sakit menganjurkan untuk melakukan scan kemudian mendapatkan jahitan di seputaran bola mata lalu menyarankan agar dalam waktu dekat ini untuk melakukan operasi untuk terhadap mata kirinya .

Mengigat keuangannya yang tidak memadai ia pun berkordinasi kepada pengawas , dihadapan pengawas ia menyampaikan hasil pemeriksaan rumah sakit ‘ SMEC ‘ dan anjuran pihak rumah sakit agar mata kirinya segera dioperasi , usai mendengarkan penyampaian pengawas berjanji akan menyampaikan nya kepada pimpinannya yaitu ke manager .

Kurang lebih dua bulan menahan rasa sakit di bola matanya Darman Silaban tidak kunjung mendapatkan perhatian dari pemilik usaha , ironisnya malah pengawas bertanya kepada nya kapan ia mulai bekerja lagi . Merasa dirugikan dan diabaikan oleh pemilik usaha Darman Silaban diskusi bersama keluarganya.

Dengan kuasa yang diterima pengacara pihak kuasa hukum melakukan upaya hukum dan melaporkan kejadian tersebut ke Dinas Tenaga Kerja ( Disnaker ) kota Pekanbaru ter tanggal 08 September 2021 .satu Minggu menanti kabar dari pihak Disnaker tepatnya tanggal 15 September 2021 ia mendapatkan panggilan dari pihak Disnaker .

Sesampai di Disnaker atas saran dari pihak Disnaker ia dan si bos (S) diberikan 20 menit untuk berembuk, namun 20 menit waktu yang diberikan Disnaker kepada mereka tidak membuahkan hasil, tegas nya . Lagi asik mediasi, tiba- tiba Darman Silaban mendapatkan telpon dari adik perempuannya yang kebetulan berkunjung , lalu adik perempuannya menyampaikan "bang….rumah sudah digembok oleh security dan beberapa pekerja disana" .

Mendengar rumah telah digembok oleh orang suruhan si bos, ia bertanya kepada si bos ‘ kenapa mes saya digembok bos……? Lalu si bos mengatakan ‘itukan rumah saya, suka- suka saya dengan rumah saya ….ucap si bos.

Usai mediasi di Disnaker ia pun kembali ke mes tempat ia bekerja sesampai disana ia melihat mes sudah digembok dan seluruh jendela dipalang kayu, bahkan saat eksekusi terjadi anak dan adik tidak diperbolehkan mengambil apapun dari dalam rumah termasuk baju sekolah anak , buku pelajaran serta tas, dompet dan perhiasan adik Darman Silaban ikut berada di dalam mes tersebut.

Usai memberikan keterangan kepada media dan sampai berita ini di publikasikan si bos pemilik usaha ‘ Water Park ‘ masih tidak mengizinkan Darman Silaban untuk masuk kerumah bahkan si bos enggan untuk memberikan upah / gajinya , menahan semua penderitaan yang ia alami , sampai anak Darman Silaban tidak bisa pergi kesekolah akibat baju , buku dan keperluan sekolah anaknya berada dalam mes, bahkan mereka sampai saat ini tidur di halaman rumah dengan beralaskan tikar dan kardus .

Darman Silaban berharap kepada dinas Disnaker untuk segera memberikan solusi yang terbaik atas perlakuan yang ia terima dari si bos tempat ia bekerja bahkan ia berharap ini agar Walikota Pekanbaru Dr H Firdaus ST MT untuk memperhatikan nasib mereka dan nasib anak nya yang tidak bisa pergi ke sekolah.

”Saya Mohon bapak Walikota, perhatikan nasib saya masyarakat bapak. Saya dan anak saya sudah tidak tahan lagi pak dengan kondisi mata saya yang akan mengalami kebutaan jika saya tidak cepat di operasi dan saya mohon bapak Walikota Pekanbaru agar anak saya dapat sekoalh kembali. Kami sudah tak tahan lagi pak tidur di tanah beralaskan tikar dan beratapkan langit," ucap Darman Silaban nanar. *

Komentar Via Facebook :