Bima Agung Purnomo, Anak Yatim Miskin Bercita - cita Jadi Atlit Sambo Internasional

Bima Agung Purnomo, Anak Yatim Miskin Bercita - cita Jadi Atlit Sambo Internasional

CYBER88 | Pekanbaru - Sambo, olahraga yang berasal dari negara Rusia bukan lagi olahraga hanya milik negara tersebut. Saat ini Sambo sudah menjalar ke negara Indonesia dan sudah menjadi olahraga favorit di beberapa daerah bahkan sampai ke Riau. Rabu, (13/10/21).

Salah satu atlet Sambo yang mengharumkan nama Riau melalu ajang Eksibisi PON XX Papua dan membawa 1 perak pulang ke Riau ialah Bima Agung Purnomo, kelahiran 11 Mei 1994 seorang anak yatim dari Alm. Joko Edy Susilo dan Ibu  Dewi Eka Pertiwi.

"Saya adalah seorang atlet dengan banyak latar belakang. Saya dibesarkan dengan keluarga yang sederhana. Dengan didikan ala militer oleh almarhum ayah saya dan kasih seorang ibu. Tapi  ayah saya baru meninggal 5 bulan lalu, tepatnya pada bulan Ramadhan 2021 ini.

Saya menempuh pendidikan selama 3 tahun setingkat SMP di pondok pesantren Al-Kautsar, Pekanbaru, kemudian sekolah di SMKN 1 Pekanbaru. Setelah itu melanjutkan kuliah di UIR jurusan psikologi hingga semester 3 pada tahun 2012.

Pada tahun 2013 saya berhenti kuliah, saya melanjutkan bekerja sebagai tukang cuci mobil, tukang bangunan, tukang salon mobil, supir, tukang cuci piring di cafe/restaurant dan ojek makanan. Karena keadaan saat itu berubah drastis. Usaha kayu ayah saya jatuh bangkrut.

Lalu pada 2014 saya melanjutkan kuliah malam jurusan sastra inggris di Persada Bunda sembari bekerja sebagai supir di Agung Toyota dan akhirnya menjadi staff operasional di gudang Toyota, dan diwisuda pada tahun 2020 sebagai Sarjana sastra dengan segala lika likunya.

Saya menekuni beladiri taekwondo sejak SD, lalu saat di pesantren saya melanjutkan silat dan ketika di SMK saya kembali berlatih taekwondo.

Untuk beladiri Sambo ini sendiri saya fokus menekuninya 2 tahun lebih ini. Karena combat Sambo menyerupai MMA, oleh karena itu saya berlatih banyak beladiri. Diantaranya boxing, muaythai, gulat, judo , jiujitsu untuk melengkapi kemampuan Sambo saya.

Persiapan kami untuk PON ini bukan main main, kami berlatih sangat keras tiap hari. Cuma hari minggu saja yg libur. Untuk fokus PON ini kami berlatih 3 bulan lamanya di Impact.

Tapi sebenarnya persiapan kita sudah hampir 2 tahun, itu adalah persiapan kita untuk kejurnas. Namun kejurnas berulang kali ditunda karena pandemi," tuturnya di sela latihan.

Saat ditanya motivasi menjadi atlit Sambo, kembali ia menuturkan bahwa yang menjadi tolak ukurnya ialah doa keluarga.

"Motivasi saya menjadi juara ialah doa keluarga dan orang orang terdekat saya. Beberapa kali saya jatuh mereka selalu membantu saya dalam segi apapun.

Terutama almarhum ayah saya, bahkan satu jam sebelum ke bandara untuk terbang ke Papua saya sempatkan berziarah.

Di sana saya sendirian, lalu menangis seorang diri sambil berjanji di nisan ayah saya bahwa saya akan kembali ke Pekanbaru menjadi juara.

Dan alhamdulillah kita mendapat juara 2 , medali perak. Di final kita kalah melawan kontingen Kaltim," tutupnya.

Hidup dari keluarga yang miskin tidak serta merta membuat mental dan asa seseorang harus hilang, contoh nyata dari atlit Sambo Riau yang boyong 4 emas dan 1 perak adalah contoh nyata keluarga miskin yang menjadi pahlawan olahraga di Eksibisi PON XX Papua 2021.

Komentar Via Facebook :