Diduga Ada Ketidaktransfaranan Dalam Pencairan Bansos Kemiskinan Ekstrim di Kartu BPNT oleh Oknum

Diduga Ada Ketidaktransfaranan Dalam Pencairan Bansos Kemiskinan Ekstrim di Kartu BPNT oleh Oknum

CYBER88 | Karawang - Adanya pengumpulan kartu BPNT yang diduga oleh oknum Ketua kelompok dan PSM secara door to door kepada KPM (Keluarga Penerima Manfaat) dengan dalih untuk pengecekan, hingga diduga tidak adanya ketransfaranan dan adanya upaya pembodohan terhadap KPM serta diduga adanya pemotongan.

Pasalnya, setelah oknum tersebut mencairkan uang tunai yang ada di kartu BPNT dalam program kemiskinan ekstrim. Oknum tersebut langsung memberikan uangnya kepada KPM tanpa disertai struck transaksi pengambilan uang yang ada di kartu BPNT, bahkan pada saat melaksanakan transaksi pengambilan uangnya pun, tanpa diketahui oleh KPM selaku pemilik kartu.

Hal tersebut dibenarkan oleh KPM warga Dusun Bengle, Desa Dewisari, Kecamatan Rengasdengklok, Karawang - Jawabarat kepada CYBER88, Senin Malam (20/12)

Dalam keterangannya, Nenek S mengatakan kebenarannya kalau dia (S.red) dapat program BPNT, dan setiap pengambilannya di e warung Bapak Wasta alias bapak Manyin. Adapun untuk mengambil uang yang ada dikartu BPNT, tidak mengambil di e warung Bapak Manyin.

Karena saat itu, Ibu Tarsih (Ketua Kelompok.red) datang kerumah untuk mengambil kartu, tanpa tahu alasannya, yang kemudian saya kasihkan saja, karena saya tidak tahu ini itunya, yang kemudian Ibu Tarsih memberikan uang Rp 800.000 tanpa disertai struck. Ungkapnya

Wasta alias Manyin selaku pemilik e warung yang ada di Dusun Bengle pun membenarkan, pasalnya pada saat Nenek S akan menggambil beras BPNT melalui anaknya, ketika dicek saldo berasnya ada 2 paket, namun pada saat dicek saldo uang, tersisa saldo uangnya kalau tidak salah Rp 7500 yang kemudian saya pertanyakan keanaknya Nenek S, untuk uangnya sudah digesekkan ditempat lain atau gimana?

Anaknya Nenek S pun membenarkan kalau untuk saldo uang yang ada di Kartu BPNT tersebut, sudah diambilkan oleh orang yang mengambil kartu ke Nenek S, yang kemudian orang tersebut memberikan uang sebesar Rp 800.000 kepada Nenek S, namun ketika dipertanyakan perihal ada tidaknya struck pengambilan atau transaksi, dan anaknya Nenek S pun menjawab tidak ada strucknya.

Sehingga, saya sarankan untuk mempertanyakan strucknya kepada orang yang mengambilnya atau yang melakukan transaksinya.

Ditempat dan waktu yang berbeda dengan permasalahan yang berbeda, salahsatu putri dari Nenek O warga Dusun Bengle lainnya pun mengungkapkan bahwa saat itu, awalnya oknum ini datang ke rumah dan mempertanyakan ke saya

"Neng dulu Nenek O mendapatkan bantuan untuk Lansia kan, saya jawab "iya" , lalu ia memintanya dengan alasan mau dicek, siapa tahu ada saldonya dan setelah itu, oknum tersebut datang lagi dengan memberikan uang Rp 500.000 beserta Kartu BPNT yang Nenek O miliki."

"Berhubung ramai perbincangan bahwa yang mendapatkan uang tunai yang ada di Kartu BPNT tersebut sebanyak Rp 800.000, ke esokan harinya, oknum tersebut memberikan lagi uang sebesar Rp 300.000 dengan dalih kemarin kehabisan uang."

Sementara saat awal memberikan uang yang pertama yaitu Rp 500.000 beserta kartu BPNT nya, tanpa ada keterangan kalau ada uang sisa yang belum bisa diambil karena kehabisan uang, yang dikatakannya hanya JANGAN BERISIK ya. " Janggalnya.

Menyikapi adanya hal tersebut, yang akrab disapa Bunda Ros, selaku TKSK Kecamatan Rengasdengklok mengatakan bahwa saya akan mengumpulkan semuanya hari ini, Selasa (21/12) setelah acara rapat di Desa Karyasari selesai, agar ketahuan dimana letak kesalahannya, pasalnya, dalam WhatsApp group sudah dihimbau 

"Untuk penggesekan kartu harus disertai dengan 2 bukti struck transaksi yaitu 1 untuk pegangan KPM dan 1 lagi untuk e-warong agar mudah mendatanya dan mengakuratkannya." Ungkapnya,

Pada kesempatan tersebutpun, Bunda Ros menjelaskan untuk program kemiskinan ekstrim dari Kemensos ini nilainya bervariatif, ada yg mendapatkan Rp 300.000, bahkan ada yang mendapatkan 2 juta lebih, dan permasalahan ini bukan hanya di Desa Dewisari saja, namun di Desa Rengasdengklok Selatan pun ada. Ketusnya

Adapun perihal temuan di Desa Dewisari ini, selanjutnya akan saya informasikan kebenaran yang sesungguhnya setelah saya lakukan pertemuan di rumah Wasta selaku pemilik e warung hari ini, Selasa (21/12). Pungkasnya (Hys)

Komentar Via Facebook :