Dari Mereka Seharusnya Kami Belajar, Mereka yang Selalu Terlupakan
Oleh: Irjen. Pol. (Purn.) Dr. Drs. H. Anton Charliyan, M.P.K.N
CYBER88 | Tasikmalaya – Salah satu tolak ukur prestasi sebuah Negara atau Pemerintah Daerah di suatu Kewilayahan adalah bila mampu menyajikan laporan tentang Index Prestasi Kesejahteraan dan Keamanan dengan baik.
Namun khusus untuk masa sekarang ini, tentunya harus ditambah dengan tingkat kesehatan masyarakat di pandemi covid-19. Berdasarkan hasil analisis, ternyata tidak ada satupun wilayah yang tidak terkena pandemi tersebut.
Demikian juga dengan masalah Kesejahteraan dan Keamanan, justru tingkat kriminalitas sebagai salah satu indikator stabilitas keamanan malah semakin tinggi, demikian juga tingkat kesejahteraan masyarakat indeksnya sangat memperihatinkan.
Sampai-sampai negara harus mensubsidi khusus untuk masyarakatnya, hal ini sebagaimana kita ketahui bersama sudah berlangsung hampir 2 tahun ini, yang mana hal tersebut dilakukan dimanapun di setiap penjuru Dunia tanpa terkecuali.
Tidak ada satu negara atau wilayahpun yang tidak terkena dampak Covid-19 ini, yang otomatis berdampak pada tingkat keamanan dan kesejahtraan masyarakatnya, yang tidak perlu kita bahas secara angka dan Statistik diforum ini. Karena kenyataanya kita alami bersama disaat ini sungguh merupakan musibah dunia yang luar biasa.
Lalu kira-kira adakah satu wilayah yang tingkat kesejahtraanya tetap stabil, Kriminalitasnya tetap terjaga aman dam tentram, demikian juga kesehatanya terpelihara tidak terdampak???, Bila ada satu kampung atau wilayah yg seperti itu disaat ini, bukankah itu merupakan sebuah prestasi yang luar biasa???
Yang perlu diberi Penghargaan khusus dan patut diberi acungan jempol tidak hanya satu, tapi full 2 jari, agar kita semua bisa meniru menjadikan sebagai acuan untuk bisa Bercermin dari mereka. Dan Ternyata wilayah tempat tersebut Ada!!!, real benar-benar ada dan berhasil kita Indentifikasi, dimana kira-kira kampung tersebut???
Yang berhasil kami Sisir dan kami temukan ternyata ada di suatu kawasan di kampung yang dikenal sebagai Kanekes di Kab. Pandeglang, Banten. Yang ternyata tidak jauh dari kita, yakni suatu kawasan yang merupakan Kampung Adat yang juga dikenal sebagai Urang Baduy.
Ketika kami tanyakan kepada salah satu Puun di Kampung Baduy tersebut, berapa angka Kriminalitas di tahun ini?? Jawabanya sangat mencengangkan, yakni 0% alias Nihil.
Berapa orang yg terdampak Covid? Jawabanya juga sama, yakni Nihil alias 0%.
Kemudian ketika ditanya berapa orang yang kelaparan tidak bisa makan, jawabanya lebih spektaculer, di Leuit kami moal beak keur dahar 2 tauneun (di Gudang beras kami masih cukup cadangan persediaan untuk makan 2 tahun lagi)
Setelah itu kami coba telusuri di Kampung-kampung adat yang lain, yakni di Kp. Naga Tasikmalaya, Kp. Dukuh Garut, Kp. Kuta Ciamis, ternyata jawabanya cukup mencengangkan persis sama dengan Puun yang ada di Kanekes Baduy Pandeglang Banten.
Maka di Tahun Baru 2022 ini, saya sengaja memakai Baju Pangsi, Bajunya masyarakat Adat Sunda, sebagai bentuk penghargaan saya yang setinggi-tingginya dan yang setulus-tulusnya terhadap masyarakat adat Baduy dan masyarakat adat lainya di Nusantara khususnya.
Masyarakat adat yang ada di Jawa Barat-Banten, yang tidak bisa saya ungkapkan dengan kata-kata lagi, karena saya malu dengan diri saya sendiri, yang kadang sok merasa paling pintar, yang sok merasa paling modern, yang sok merasa paling jago, paling tahu, paling bisa, paling kuasa, paling segalanya.
Ternyata hari ini saya harus banyak belajar dari mereka, yang ada di depan mata kita, yang tidak jauh dari kita, yang sering kita lupakan dan kita anggap biasa-biasa saja, padahal mereka punya Adat tradisi ajaran yang kita anggap kuno, ketinggalan jaman, yang ternyata saat ini terbukti, tidak tergoyahkan oleh Resesi Ekonomi bahkan pandemi covid-19 sekalipun.
Sehingga baru saya tersadar, sesungguhnya kita harus belajar banyak dari mereka, kampus hanyalah tempat menggali sebuah Teori, tapi Universitas yang sesungguhnya ada dalam kehidupan nyata, dan hari ini kita harus belajar banyak dari kearifan dan tradisi masyarakat adat yang ada di sekeliling kita.
Masih terngiang ucapan dari mereka kenapa sampai saat ini, malah merekalah yang tidak terdampak oleh Resesi, kriminalitas bahkan Covid sekalipun, ketika berdialog di Kp. Kanekes,
"Kajeun kami mah Rek Ngajaga Alam bae, kusabab geuning ayeuna loba manusa anu palinter tapi naha ari Alam malah beuki loba nu ruksak. Ngajaga alam mah geuning teu cukup ku pinter. Boro-boro kami bisa ngarewong, angot ngahuhuruwan mah, da nu sok ngahuhuruan mah lain agama. Agama mah ayana di Kahadean, Agama nu kudu milaku jeung lampah, anu bakal jadi kahadean urang sakabeh,
Leuweung ulah dibukbak, Gunung ulah dilebur, Sagara ulah di rempag, Mipit kudu amit ngala kudu menta, Jaga tina panyakit, Kudu apik jeung berseka.”
“(Pesan untuk menjaga alam, biarkanlah Kami yang akan menjaga alam, karena saat ini ternyata banyak Orang Pandai, tapi kenapa alam malah semakin rusak. Ternyata untuk menjaga alam itu tidak cukup dengab hanya sebuah Kepintaran,
Pesan Keamananpun bisa terjaga karena berdasar pada perilaku yang baik. Ajaran kami mah bukan tidak berani mengoreksi orang lain apalagi sampai memprovokasi, itu tidak ada dakam kamusnya. Karena Ajaran agama itu, bagi kami hanya mengajarkan tentang Kebaikan.
Agama yang harus selaras dengan adab sopan santun, dan ujungnya harus bermuara sebagai perilaku yang baik, karena jika tidak berprilaku baik itu bukan lagi sebagai ajaran agama, makanya kareba berdasar adab perilaku yang baiklah yang menyebabkan kami jadi aman.
Dan sebagai penguatan untuk menjaga alam dan kesehatan mereka juga berpesan agar Hutan jangan ditebang, Gunung jangan digali, Danau jangan sampai kering. Jika ingin memulai sesuatu harus tertib, harus kulo nuwun, pamitan dan minta izin, Jaga kebersihan agar kita tetap sehat)
Selamat tahun Baru 2022, semoga di tahun 2022 kita semua mendapat Rahmat dan Keberkahan serta bisa menjadi lebih baik dari tahun 2021, aamiin yra.


Komentar Via Facebook :