Dosen Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor (IPB), drh Supratikno : Anjing bukanlah hewan konsumsi melainkan hewan kesayangan, pemburu, dan penjaga.
Berhenti Konsumsi Daging Anjing, Karena Bisa Sebarkan Penyakit dan Virus
Dua anak kecil yang sedang menggendong anak anjing sebagai hewan peliharaannya (ist/int)
CYBER88 | Jakarta - Apakah anda salah satu penikmat dan pemakan daging anjing?! Jika ya, sebaiknya mulai saat ini anda berhenti mengkonsumsi daging anjing. Selasa, (01/03/22).
Anjing (Canis Lupus) adalah salah satu hewan domestik yang telah lama menjadi sahabat setia manusia, baik untuk berburu, menjaga rumah bahkan yang sedang viral menjadi hewan peliharaan.
Namun dewasa ini, perburuan hewan anjing menjadi sangat kontras bahkan dengan terang terangan pemburu mencuri anjing untuk dikonsumsi / dijadikan tambul (makanan selingan) di kedai minuman keras tradisional.
Di tengah masyarakat, konsumsi daging anjing diyakini dapat menjadi obat bagi penyakit tertentu atau menambah stamina bagi yang memerlukan.
Belum lama ini, Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi melarang peredaran dan perdagangan daging anjing untuk konsumsi di wilayah Kota Semarang.

Larangan ini tertuang dalam Surat Edaran Nomor B/ 426/ 524/ I/ 2022 tentang Pengawasan Terhadap Peredaran/Perdagangan Daging Anjing yang mulai diberlakukan sejak 21 Februari lalu.
Menurutnya, konsumsi daging hewan seperti anjing dapat berisiko menyebarkan penyakit dan virus.
Hal pertama yang perlu diketahui adalah anjing tidak masuk dalam kelompok binatang ternak atau konsumsi.
Dosen Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor (IPB), drh Supratikno menjelaskan, anjing sesungguhnya binatang yang memiliki fungsi lain.
"Anjing adalah bukan hewan konsumsi melainkan hewan kesayangan, pemburu, dan penjaga," kata Supratikno kepada salah satu kru media pada Minggu (27/2/2022).
Hal serupa juga disampaikan oleh Guru Besar Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada, Prof Ali Agus.
"Anjing tidak termasuk kategori sebagai hewan ternak penghasil daging, sehingga tidak layak secara etis dan moral dijadikan sebagai sumber daging," katanya terpisah, Minggu (27/2/2022).
"Dengan demikian tidak seharusnya dagingnya untuk dikonsumsi. Masih banyak jenis hewan ternak lain yang memang dipelihara sebagai sumber daging untuk konsumsi," sambung dia.
Selain itu keduanya menggarisbawahi, dari sisi agama, khususnya agama Islam, konsumsi daging anjing ini hukumnya haram atau makruh jika dalam kondisi terpaksa.
"Namun sebaiknya kita mengambil dalil yang berhati-hati, yaitu yang mengharamkannya," sebut Supratikno.
Menurut Supratikno maupun Prof Ali, sejauh ini belum banyak riset atau penelitian yang mengungkapkan kebaikan dari konsumsi daging anjing.
"Kebaikan bagi tubuh secara ilmiah belum banyak yang meneliti atau belum banyak penelitian yang menyatakan seperti itu. Informasi kebaikan daging anjing yang beredar di masyarakat sebagai obat, penambah stamina, sebagian besar hanya didasarkan pada kepercayaan dan mitos," ujar Supratikno.
"Tidak banyak kajian dan penelitian terkait manfaat konsumsi anjing, baik bagi kesehatan. Manfaat kebaikan bagi tubuh tidak ada kelebihannya kecuali sebagai sumber energi dan protein sebagaimana daging ternak lainnya, sedangkan mudorot-nya saya kira lebih besar," kata Prof Ali.
Bukannya mendatangkan manfaat, mengonsumsi daging anjing justru disebut banyak menyimpan risiko bahaya.
Salah satu yang paling nyata adalah risiko terkena penyakit zoonosis, atau penyakit yang menular dari binatang ke manusia.
"Bahaya mengonsumsi daging anjing banyak, dari penyakit zoonosis, seperti rabies, cholera, dan trichinellosis yang bisa menular ke manusia," jelas Supratikno.
Selain itu, cara transportasi dan penyembelihan anjing di Indonesia juga ilegal. Artinya dari segi keamanan dan kesehatan tidak terjamin, proses penyembelihan juga bisa dikatakan melanggar kesejahteraan hewan.
"Beberapa oknum tidak menyembelih anjingnya (sebelum mati dan dikonsumsi), ada yang dipukul atau ditusuk leher atau dadanya, sehingga darah tidak keluar sempurna, ditambah dengan sifat darah anjing yang sangat mudah menggumpal, maka darah banyak teringgal di dalam daging," jelas Supratikno.
Padahal darah itu berfungsi sebagai media pertumbuhan bakteri yang bisa saja berbahaya bagi kesehatan.
Setali tiga uang, Prof Ali juga menjelaskan hal yang sama dan menyebutkan risiko apa saja yang ada di balik proses pembunuhan anjing semacam itu yang banyak menyisakan darah di dalam tubuhnya.
"Darah mengandung berbagai penyakit atau setidaknya menjadi media bagus bagi tumbuh kembangnya bibit-bibit penyakit yang sangat mungkin menular pada manusia yang mengkonsumsinya. Ada salah satu penyakit dari anjing yang dapat menular pada manusia yaitu rabies.
Untuk itu, dengan alasan apa pun, konsumsi daging anjing lebih baik untuk dihindari," jelas Prof Ali
Selain menyimpan banyak risiko kesehatan, daging anjing juga tidak terbukti membawa kebaikan bagi kesehatan manusia.
"Jadi mudorot-nya lebih jelas daripada manfaatnya," ujar Prof Ali.
"Jadi sebaiknya hindari dan jangan mengkonsumsi daging anjing. Masih ada sumber daging lainnya yang lebih baik (halal dan thoyib) untuk kesehatan dan kebugaran manusia," pungkasnya.**


Komentar Via Facebook :