Sejak 1945 hingga 2020, Kasus Pelecehan Seksual Oleh Oknum Imam Katolik Klerus Jerman Belum Selesai

Sejak 1945 hingga 2020, Kasus Pelecehan Seksual Oleh Oknum Imam Katolik Klerus Jerman Belum Selesai

Ilustrasi Internet

CYBER88 | Jakarta - "Sayangnya jumlahnya cukup banyak. Saya ingin mengungkapkan kepada para korban kesedihan dan rasa sakit saya atas trauma yang mereka derita," tutur Paus Fransiskus, dikutip AP News pada Rabu (6/10/21) lalu.

"Ini juga merupakan rasa malu saya, rasa malu kami. Rasa malu saya karena ketidakmampuan gereja terlalu lama untuk menempatkan mereka (para korban) di pusat perhatiannya." Pernyataan penyesalan resmi dari Pemimpin umat Katolik Paus Fransiskus setahun lalu saat konferensi terkait pelecehan seksual oleh oknum para Imam Katolik Perancis terhadap 300.000 ribu anak laki laki.

Kini, kasus pelecehan yang dilakukan oleh oknum Imam Katolik kembali terjadi.
Setidaknya 610 anak terdokumentasi menjadi korban pelecehan seksual yang dilakukan sejumlah pastor Katolik di Kota Munster, Jerman, sejak 1945 hingga 2020.
Informasi tersebut dimuat dalam laporan Universitas Munster yang dirilis pada Senin (13/6).

Sebagaimana diberitakan CNN, laporan itu menemukan hampir 200 anggota klerus melakukan hampir 6.000 kasus pelecehan dalam periode yang ditentukan.

Meski demikian, para peneliti percaya angka sebenarnya dari korban pelecehan bisa saja lebih tinggi, bisa saja bertambah 5.000 hingga 6.000 korban. Penambahan tersebut kemungkinan diakibatkan karena ada beberapa kasus yang tak dilaporkan.

Sejarawan Natalie Powroznik, yang terlibat dalam studi tersebut, mencatat sejumlah pastor melakukan rata-rata dua aksi pelecehan individu terhadap korban dalam waktu sepekan. Namun, angka ini bisa saja lebih tinggi.

"Tiga perempat korban adalah laki-laki 10 sampai 14 tahun," kata Powroznik. Ia juga menyampaikan para korban terlibat dalam kegiatan gereja, seperti pelayanan altar, kamp muda gereja, atau penerimaan sakramen suci.

Selain itu, para peneliti menduga uskup menyadari masalah ini dalam beberapa dekade terakhir. Namun, mereka gagal menangani masalah tersebut dan tetap mempekerjakan oknum pastor dalam pelayanan gereja, membuat kejahatan ini semakin marak.

Studi itu mengungkap hanya 12 persen dari tertuduh pelaku yang dicabut dari pekerjaannya.

Pihak gereja juga dikatakan menangani kasus pelecehan dengan mengirim terduga pelaku untuk tinggal di biara dalam waktu singkat, atau sekadar menegur mereka. Kebanyakan terduga pelaku juga dikirim ke paroki lain, membuat mereka masih bisa melakukan pelecehan seksual.

Selain itu, peneliti mengatakan 50 pastor yang dituduh melakukan pelecehan seksual masih hidup saat ini.

Dari sisi korban, penelitian ini mengungkapkan 43 persen korban yang diwawancara melaporkan menerima kekerasan fisik yang kuat dan harus berhadapan dengan trauma psikologi, seperti gangguan kecemasan dan depresi.

Para peneliti juga menyampaikan beberapa korban mencoba bunuh diri imbas pelecehan ini.

Sementara itu, Uskup Munster Felix Genn mengatakan bakal membuat pernyataan publik pada Jumat (17/6), setelah menerima laporan tersebut.

Sebagaimana dilansir CNN, laporan ini merupakan yang terbaru atas tuduhan pelecehan seksual pada anak di Gereja Katolik Jerman beberapa tahun terakhir.

Pada Januari, laporan Gereja menemukan bahwa mantan Paus Benedict XVI mengetahui masalah pelecehan seksual dalam pastor saat ia menjabat, yakni 1977 sampai 1982, tetapi ia gagal bertindak.

Sebulan setelah laporan itu diterbitkan, Benedict meminta maaf tapi membantah ia melakukan kesalahan. Hingga berita ini publish, pihak Vatikan untuk dimintai tanggapan, namun belum merespons. **
 

Komentar Via Facebook :