Dugaan Pelecehan Seksual "Bibir Mana Bibir" Dekan Fisip HI SH Unri Kepada Salah Satu Mahasiswi Saat Lakukan Bimbingan Proposal Skripsi
Presma Unri Marah dan Minta Kawal Oknum Dekan Pelecehan Seksual Diproses Hukum
Konferensi Pers Presma Unri, Komahi_ur, LBH Pekanbaru Terkait Pelecehan Seksual Mahasiswi Fisip HI Universitas Riau (ist)
CYBER88 | Pekanbaru - Hari ini Minggu siang sekira pukul 14.00 WIB hingga pukul 16.00 WIB, dibawah naungan YLBH-LBH Pekanbaru, Voppi Rosea Bulki (Vice Mayor KOMAHI Fisip UR), Kaharuddin (Presiden Mahasiswa UR), Rian Sibarani (LBH Pekanbaru), Noval Setiawan (LBH Pekanbaru) adakan konferensi pers di kantor YLBH- LBH Jalan Kuda Laut Pekanbaru dengan Tema "Hentikan Kekerasan Seksual di Kampus" juga untuk menyampaikan pokok yang di ajukan korban Korban pelecehan seksual di kampus Universitas Riau (Unri). Minggu, (07/11/21).
Baca juga : Oknum Dosen HI FISIPol Unri, Diduga Lecehkan Mahasiswi
Dihadiri beberapa rekan media baik media lokal dan nasional, pernyataan korban pelecehan seksual yang dilakukan oleh oknum dosen pembimbing disampaikan melalui Komahi_ur ungkapkan kronologis terjadinya pelecehan seksual di dalam kampus Unri di kantor LBH.
"Kami meminta tim rektor mengikut sertakan mahasiswa untuk ikut andil dalam tim Mencari Fakta yang dibentuk dan menegaskan mahasiswa Unri khususnya BEM Unri ikut serta mengkawal dan kami membuka aduan untuk siapa mahasiswi yang pernah alami kekerasan seksual baik verbal maupun fisik segera melaporkan kepada kami.
Karena ini bukan pertama kali terjadi di kampus ini, pernah ada kejadian tapi keep Silent hingga bagaimana nasib korban sebelumnya bertahan tidak ada yang tahu, pelakunya mahasiswa dan mahasiswi dan sekarang kasus sama dengan pelaku yang berbeda.
Dan saya berharap, bagi korban pelecehan seksual yang pernah melapor namun tidak ada di follow up, sekarang saatnya berbicara," ucap Kharuddin.
Menimpali ucapan Presma Unri, Komahi_ ur yaang diwakili Voppi menyampaikan bahwa Komahi_ur akan tetap maju sekalipun ada pihak tertentu yang mencoba mengintimidasi.
"Laporan si Korban akan tetap kita kawal, sekalipun ada intimidasi baik ke Komahi_ur dan korban, namun kami tidak gentar karena jika berbicara kebenaran, hal itu (intimidasi) tetap ada. Si Korban saat ini butuh pendamping moral. Komahi_ur sejak awal mendengar pelecehan ini sangat marah, pelakunya SH dosen pembimbing yang notabene sebagai Dekan yang seharusnya berperilaku mendidik, namun malah mencoreng dunia pendidikan.
Berita sebelumnya sudah kita paparkan, saat ini ada beberapa tuntutan dari si Korban, tapi yang utama bagaimana pihak kampus khususnya Rektor bertanggung jawab terhadap beban psikologi mahasiswi yang alamai pelecehan seksual.
Dan untuk si korban, identitas nya tetap dirahasiakan karena permintaan keluarga juga," tukas Voppi.
Saat kru bertanya langkah apa yang telah dilakukan LBH dan Komahi_ur, Rian Sibarani selaku ketua LBH sampaikan bahwa LBH akan tetap kawal sekalipun Terlapor sudah melaporkan ke pihak berwajib.
"Kita tim LBH support si Korban dan jangan takut, karena hal ini sudah di ketahui seluruh Indonesia, terkait laporan yang dibuat Terlapor, Tim LBH akan dampingi si Korban hingga Terlapor di dakwa bersalah.
Dia (Terlapor) juga sudah mengakui di depan publik bahwa dia ada memegang dan mencium pipi korban, dalam konteks apa seorang pembimbing memegang wajah anak didiknya dan video yang di share ke medsos itu sudah kita lihat, disana tidak ada editan dan murni suara Korban dan Terlapor.
Dan kami akan buat laporan ke Polresta Pekanbaru hingga Terlapor di proses," tukas Sibarani.
Saat kru media ini bertanya lebih lanjut ke Persema Unri bagaimana pemulihan psikis ke korban, Kaharuddin sampaikan akan mencari psikolog yang ikhlas membantu korban.
Diakhir sesi konpers, Kohami_ur, Presma Unri dan LBH meminta kepada masyarakat Indonesia khususnya BEM se Indonesia, mahasiswa dan mahasiswi serta media lokal dan nasional kawal kasus ini agar tidak ada lagi oknum yang melakukan kekerasan seksual baik di kampus atau di sekolah sekolah Indonesia.
"Saya marah, malu kesal tak terkatakan. Ini terjadi di kampus saya, oleh Dekan yang terkenal, dilakukan di dalam kampus juga.
Dan saya minta ke pihak berwajib untuk segera memproses kasus ini jangan sampai berlarut-larut dan menghilang seperti kasus sebelumnya.
Kedepannya, saya sebagai Ketua Presma Unri akan mengusulkan ke Rektorat bahwa setiap pembimbingan harus dilakukan secara terbuka yang artinya setiap pembimbing dan anak bimbingan jika melakukan pembimbingan makalah/skripsi harus dengan keadaan pintu yang terbuka, karena selama ini pembimbingan dilakukan dengan pintu tertutup.
Hal itu yang membuat sebagian predator seksual memanfaatkan peluang itu sehingga terjadilah yang sekarang ini," tutup Kaharuddin di akhir sesi konferensi pers. (A. Rambe)


Komentar Via Facebook :