Polemik Penghentian Pemeliharaan Jembatan di Jl KH Halimi Desa Cipelang, Masyarakat Dituding Penyebabnya, Ini Kata Warga

Polemik Penghentian Pemeliharaan Jembatan di Jl KH Halimi Desa Cipelang, Masyarakat Dituding Penyebabnya, Ini Kata Warga

CYBER88 | Bogor – Terkait pekerjaan pemeliharaan jembatan di Jl KH Halimi Desa Cipelang yang belum selesai ditinggalkan, Pihak UPT PUTR mengungkapkan bahwa dihentikannya karena permintaan warga.

“Berdasarkan laporan hasil monitoring, pengawasan dan investigasi, penghentian pemeliharaan rutin jembatan karena adanya permintaan atau pemaksaan sekelompok warga/RT/RW di Desa Cipelang dan membawa kembali material  karena dianggap belum berkoordinasi atau lapor ke RT/Rw/ desa setempat, padahal mandor lapangan sudah memberitahu pada aparat desa sebelum bekerja,” “Kata Andri UPT PUTR saat dikonfirmasi Cyber88.co.id melalui pesan WhatsApp Rabu (3/8/2022).

“Ini dilakukan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, jika kita paksakan, maka kita hentikan pekerjaan tersebut,” Lanjut Andri.

Andri sangat menyayangkan dengan adanya kejadian tersebut karena sebelumnya tidak pernah terjadi. Padahal, jembatan tersebut adalah milik pemerintah yang perlu dipelihara namun ada beberapa oknum yang sudah menghambat/menghalang - halangi program kegiatan pemerintah untuk masyarakat.

Menurut Kiki, Kades Cipelang yang sebelumnya mengaku pihak pelaksana tak berkoordinasi dengannya, saat menghubungi pihak pelaksana katanya koordinasi dengan aparat Desa.

Baca Juga : Diduga Belum Selesai, Pekerjaan Pemeliharaan Jembatan di Jl KH Halimi Desa Cipelang Sudah Ditinggalkan

Menanggapi pernyataan dari pihak PUTR, warga mengatakan memang pihak pelaksana tidak koordinasi sama RT dan warga dan tidak ada yang menghalang halangi proyek pemerintah selama mengedepankan kearipan lokal. Sambung dia, supaya tidak menjadi polemic sebaiknya duduk bersama tidak usah berdebat di WhatsApp.

Warga merasa kecewa dengan tuduhan pihak UPT PUTR yang menyebut nyebut paguyuban yang punya pokal untuk menghentikan proyek. Menurutnya, warga hanya menanyakan kepada yang kerja, kenapa materialnya diangkut kembali?

Warga hanya berharap, pihak pelaksana menggunakan adab ketimuran dengan berbahasa yang baik. Seperti contohnya, menyimpan material di lahan warga mestinya izin dulu.

“Mereka simpan material di depan lahan warga ga ada bahasa, tolong digaris bawahi, " BAHASA BUKAN MATERI, ETIKA BUKAN UANG " Itu ja pegangan kami warga, RT, RW disini, “Tandasnya, pada Cyber88.co.id Sabtu (6/8/2022).

“Dokumentasi warga lengkap, dari mulai datang barang dan barang dibawa lagi, warga nunggu yang punya kerjaan turun kelapangan, Kalau masalah pengerjaan akan dilanjut atau tidak, kan RT sdh kordinasi sama pihak kecamatan,” Imbuh dia.

Warga kembali menandaskan, kalau ada yang nyetop proyek Pemerintah itu cuma orag-orang bodoh. Tapi proyeknya yang seperti apa dulu, kan acuannya jelas. Presiden perintahkan keterlibatan SDM dan SDA Masyarakat di sekitaran proyek pemerintah.

“Yaa kalau proyek pemerintah tidak dilanjutkan itu mah hak mereka, wargamah bisa apa atuh. Tapi kan ada institusi  atau organisasi yang memang tupoksinya untuk mengawasi atau Sosial Kontrol, kitamah warga ga bisa gimana gimana. Cuma itu jadi catatan kalau kami dibilang oknum, coba dibuktikann didefenisikan apa arti oknum?, 

Bilangin juga Proyek pemerintah di Cipelang juga banyak tapi baru proyek itu saja yang tidak merangkul warga, rt dan RW,” Tukas dia.

Sementara, tokoh masyarakat Desa Cipaelang menyesalkan adanya polemik ini. Menurutnya, masyarakat harusnya bersyukur adanya proyek pemelihataan jembatan. Kalaupun ada yang dianggap sebuah permasalahan, baiknya berkoordinasi dengan Pemerintah Desa supaya mendapat keterangan.

Tokoh yang tak mau disebut namanya ini berharap, janganlah ada kepentingan – kepentingan pribadi yang dapat menghambat proyek pemerintah.

Terkait materian yang diangkut lagi, menurut dia, mungkin karena barang yang ada di lokasi proyek ditakutkan ada yang mencuri, jadi sementara diamankan dulu. (Alip Waedi)

Komentar Via Facebook :