Ribuan Ikan Milik Nelayan Keramba Mati, Diduga Tercemar Limbah PT.TBB
CYBER88 | Bintan, Kepri - Ribuan ekor ikan Keramba mati milik Nelayan warga Desa Pengujan dan Selat Bintan, Kecamatan Teluk Bintan, Kabupaten Bintan diduga tercemar oleh limbah pengerukan lahan milik PT.Terminal Budidaya Bintan (PT.TBB).
Mati ribuan ekor ikan keramba milik dari 17 kelompok Nelayan yang berada di desa ini, sudah mulai dari Bulan Januari sampai April dalam tahun 2023, masih menunggu tindak lanjut dari Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kepri.
Saat ditemui awak media, kelompok nelayan dibarengi sedikit luapan emosi lantaran banyaknya kerugian yang dialami, dan merencanakan untuk melakukan aksi demo terhadap pemerintah.
Ahok sebagai koordinator Nelayan yang dipercayakan berusaha mendinginkan suasana, "kita percayakan dulu sama instansi terkait, harap kita menunggu kepastian dari dinas yang menangani," ujarnya.
"Kalau memang tidak ada respon dari pihak Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kepri terkait apa yang kita alami maka jalan satu-satunya dilakukan aksi di depan kantor DKP Provinsi, sebab kita sudah terlalu lama menunggunya, bahkan sampai hari belum ada kejelasan," sebut Ahok.
Ahok menjelaskan, sebelumnya saya tidak tau kalau ikan mati tersebut disebabkan limbah yang dibuang oleh perusahaan PT. Terminal Budidaya Bintan (PT.TBB), Saya ketahui setelah dijelaskan oleh teman saya bernama Chandra, Dia (Chandra-red) pernah bekerja di perusahaan tersebut dan mengatakan ikan mati akibat limbah Anyau yang dibuang PT. Terminal Budidaya Bintan dan limbahnya berwarna kuning," beber Ahok.
Begitu mendapat informasi tersebut, saya langsung croscek ke lokasi perusahaan itu dan sekaligus menanyakan permasalahan terkait limbah ke pihak perusahaan, namun pihak perusahaan tidak mengakui kalau limbah Anyau itu berasal dari mereka.
Besoknya, saya langsung menyurati dinas-dinas yang terkait kematian ikan di lokasi usaha tambak ke DKP Kepri, DLHK Kepri serta dinas lainnya.
"Beberapa hari kemudian, pihak DKP dan DLHK Kepri mendatangi kami guna melihat kondisi Kerambah dan selanjutnya Tim tersebut mengambil Sampel air untuk dibawa ke Laboratorium. Herannya, sampai sekarang belum juga ada jawaban dari kedua dinas itu," paparnya penuh tanda tanya.
Di hari yang sama, media ini menyambangi lokasi PT. Terminal Budidaya Bintan (PT. TBB) dan ditemui seorang lelaki lanjut usia sedang beristirahat, saat di konfirmasi terkait ribuan ekor ikan yang mati yang di duga limbah dari perusahaan itu, Lelaki yang biasa disapa Apek ini justru lebih banyak menyangkal dan mangatakan tidak tahu.
"Saya tidak tau nama pemilik usaha ini dan hanya seorang pekerja, terkait limbah yang katanya dari sini, itu tidak benar sebab limbah yang kami buang sudah melalui prosedur IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah-red)," tutur Apek.
Bahkan, lanjut Apek., sudah banyak instansi yang datang ke tempat ini, baik itu dari Polsek, DKP Provinsi dan DLH Provinsi juga sudah datang ke sini juga dari Kecamatan pun sudah datang, buktinya sampai sekarang tidak ada masalah," ujar Apek.
Banyaknya kerugian yang dialami para Nelayan Kerambah itu, membuat Marlis Markan Sekretaris Lembaga Kelautan dan Perikanan Indonesia (LKPI) Provinsi Kepri tertarik untuk mengomentarinya serta menanggapi kasus tersebut.
"Akibat dari kejadian ini, kami dari LKPI Provinsi Kepri sangat berharap tindaklanjut dari dinas terkait, karena LKPI juga punya tanggungjawab moral terhadap kejadian ini. Bila diperlukan, Pak Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia datang ke tempat ini," ujar Marlis geram.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan ,(DKP) Provinsi Kepri Said Sudrajat belum berhasil dikonfirmasi.


Komentar Via Facebook :