Kendaraan Harus Lewati Tol Bocimi, Wisata dan Penginapan Terancam Lumpuh

Kendaraan Harus Lewati Tol Bocimi, Wisata dan Penginapan Terancam Lumpuh

CYBER88 | Bogor -- Pasca bencana longsor di ruas jalan raya Ciawi -sukabumi, tepatnya di jembatan Cikereteg Kacamatan Caringin Kabupaten Bogor yang terjadi pada Sabtu 3 Desember 2022 lalu, Kendaraan roda empat atau lebih terpaksa harus melewati jalan tol Bogor Ciawi Sukabumi (Bocimi).

Hal itu tentu saja menimbulkan kerugian bagi masyarakat lantaran untuk melewati jalan tol tidaklah gratis. Masyarakat pengguna angkutan umum harus membayar tarip yang lebih mahal dari biasanya, sementara pengusaha dan para petani harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk membawa dagangan keluar Caringin karena mau tak mau harus lewat jalur tol.

Ahyar salah satu Bandar sayuran yang biasa melewati jalan raya Ciawi -sukabumi, melalui jembatan Cikereteg, mengaku terbebani dengan biaya tambahan yang harud dia keluarkan untuk membayar jalan tol.

“Kami setiap hari minimal harus mengeluarkan biaya tambahan Rp.30 ribu untuk Tol. Sementara, keuntungan tidak sepadan,” kata Ahyar, Senin (5/6/2023) 

Keluhan yang sama terlontar dari sejumlah orang tua siswa yang anak anaknya sekolah di wilayah Ciawi dan kota Bogor. Mereka mengaku harus menambah uang transpor anak anaknya hingga 2 kali lipat. 

“Biasanya cukup 25 sapai 30 ribu tapi sekatang harus 60 ribu satu hari, karena anak saya sekolah dikota Bogor,” kata Yahya salah satu orang tua siswa. 

Ditanya terkait mengapa tak menggunakan kendaraan roda dua, Yahya mengatakan bahwa dengan adanya penutupan jalan tersebut berdampak kepada kemacetan dan jalur yang harus ditempuh lebih jauh karena harus lewat Jalur tikus. 

“Memang menggunakan toda dua bisa, tapi jarak lebih jauh dan memakan waktu, makanya dengan lebih lamanya pengerjaan jembatan kami lebih menderita,” Keluhnya.

Tak hanya itu, berdasarkan penelusuran awak media, hal ini pun berdampak pada bidang pariwisata dan penginapan seperti di Desa Pancawati yang mengandalkan akses jalan tersebut dan usaha mereka terancam lumpuh. 

Seperti diungkapkan sejumlah pengusha hotel, restoran dan penginapan  di wilayah Caringin. Mereka mengaku mengalami penurunan pendapatan yang drastis. Sebab menurut mereka, sejak akhir 2022 pengunjung yang datang ke sehumlah café, hotel dan restauran di wilayah Caringin mengalami penurunan mencapai 90 persen sehingga untuk membayar gaji karyawan cukup kesulittan. 

“Sejak terjadinya bencana tersebut dampaknya cukup serius bagi warga kuhusnya pengusaha karena hilangnya pengunjung. Karena hampir 90 persen pengunjung kami, dari Jakarta dan sekitarnya,” tutur salah satu pengusaha. 

Karena demikian, dia berharap, pemerintah dalam hal ini kementrian PU agar lebih cepat menyelesaikan perbaikan jembatat Cikereteg agar semua bisar jalan normal seperti biasanya. 

“Jika masih lama, kami semua bisa gulung tikar. Jangankan untung, buat bayar karyawan saja kami sulit,” Ujarnya. 

Diketahui, pihak pelaksana proyek kementrian PUPR, akan menutup total ruas jalan Ciawi -sukabumi hingga 8 juni mendatang. (APIP)

Komentar Via Facebook :