Tamparan di Lebak: Dilema Pendidikan antara Disiplin dan Kekerasan
CYBER88 | CILEGON – Dunia pendidikan kembali diguncang oleh insiden penamparan siswa oleh kepala sekolah di Cimarga, Kabupaten Lebak, Banten. Peristiwa ini viral di media sosial dan memunculkan perdebatan nasional antara pembelaan terhadap guru dan kecaman atas tindak kekerasan di sekolah.
Kasus tamparan kepala sekolah di Lebak jadi sorotan nasional. Ketua PC Pergunu Cilegon, Suroj Albantani, sebut ini cermin tekanan guru dan krisis kemitraan pendidikan di Indonesia.
Kejadian bermula ketika seorang siswa kelas XII kedapatan merokok di lingkungan sekolah dan diduga berbohong. Kepala sekolah yang menegur siswa tersebut kehilangan kendali hingga menamparnya di hadapan siswa lain. Insiden itu memicu laporan ke polisi, aksi protes siswa, dan perpecahan opini publik.
Ketua PC Pergunu Cilegon, Suroj Albantani, menilai kasus ini mencerminkan dilema besar dunia pendidikan di Indonesia.
“Guru menghadapi tekanan berat. Mereka bukan hanya pengajar, tapi juga pembina karakter. Namun tanpa dukungan emosional dan pelatihan yang cukup, stres bisa meledak menjadi tindakan spontan seperti ini,” ujarnya, Rabu (15/10/2025).
Menurut Suroj , tindakan kepala sekolah memang tidak bisa dibenarkan secara hukum, tetapi harus dilihat sebagai sinyal bahaya dari kelelahan mental pendidik.
“Menampar tetap salah, tapi ini menunjukkan guru kita banyak yang berjuang sendirian tanpa pendampingan psikologis,” tambahnya.
Sementara itu, dari sisi siswa, tindakan kekerasan fisik jelas melanggar Undang-Undang Perlindungan Anak, yang melarang segala bentuk kekerasan di lingkungan pendidikan. Hukuman fisik juga dinilai meninggalkan luka psikologis dan rasa malu yang bisa berdampak jangka panjang.
Suroj menegaskan bahwa kejadian ini harus menjadi momentum perbaikan sistem pendidikan. Ia mendorong penerapan keadilan restoratif (restorative justice) untuk memperbaiki hubungan antara guru, siswa, dan orang tua melalui dialog.
Ia juga meminta pemerintah memperkuat pelatihan manajemen emosi dan disiplin positif bagi tenaga pendidik, serta mengajak orang tua membangun kembali kepercayaan terhadap sekolah.
“Satu tamparan di Cimarga bukan hanya masalah individu. Ini tamparan bagi kita semua agar lebih serius memperbaiki sistem pendidikan dan melindungi guru serta siswa,” tutupnya.


Komentar Via Facebook :