Warga Watu Nyodong Gerem Keluhkan Ancaman Longsor, Tak Bisa Tidur Saat Hujan Turun
CYBER88 | Cilegon — Warga Lingkungan Watu Nyodong, RT 05 RW 08, Kelurahan Gerem, Kecamatan Grogol, mengeluhkan kondisi rumah yang terancam longsor akibat tebing yang terus terkikis aliran kali setiap kali hujan turun. Salah satu warga, Ibu Marjana, mengungkapkan rasa takut dan kegelisahannya setiap musim hujan tiba.
“Saya tidak bisa tidur kalau hujan turun, Pak. Takut longsor. Anak-anak masih kecil, takut kejeblos ke kali. Rumah sudah dekat sekali dengan bibir kali, sementara saya tidak mampu membangun pengaman sendiri,” ujar Ibu Marjana memohon bantuan kepada Wali Kota Cilegon.
Rumah yang ditempati Ibu Marjana merupakan milik almarhum orang tuanya, dan kini kondisinya semakin mengkhawatirkan setelah beberapa kali terjadi longsor.
Ketua RW 08, Hadari, turut membenarkan kondisi kritis tersebut. Ia menegaskan bahwa longsor telah terjadi berulang kali dan kini tebing hanya tersisa sekitar setengah meter dari rumah warga.
“Ini rumah almarhum Dimyati dan Ibu Marjana. Sudah beberapa kali longsor. Tinggal sedikit lagi. Kami sudah mengajukan ke kelurahan dan disampaikan ke dewan saat reses, tapi belum ada realisasi. Kami mohon bantuan Pak Wali Kota,” ujarnya.
Hadari berharap pemerintah segera menjadikan kasus ini sebagai prioritas karena menyangkut keselamatan warga.
PLT Lurah Gerem, Hikmatul Qismat, yang meninjau langsung lokasi mengatakan bahwa kondisi tebing memang sangat rawan, terlebih di musim hujan dengan intensitas tinggi.
“Kita khawatir karena posisi rumah ini sangat dekat dengan kali dan rawan terkikis saat hujan deras. Kita akan bersurat ke TNSPU dan berharap bisa segera direalisasikan. Semoga masuk perencanaan tahun depan atau ada kegiatan yang bisa diprioritaskan,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa curah hujan pada akhir tahun diprediksi meningkat sehingga potensi longsor tambahan harus diantisipasi segera.
Sementara itu, staf bagian terkait, Iding, mengaku telah menerima laporan serupa dari wilayah Gerem, namun belum disertai detail lokasi. Ia menjelaskan bahwa pengajuan reguler untuk tahun 2026 sudah ditutup pada Oktober lalu.
“Walaupun tidak bisa tahun ini, kalau masuk skala prioritas nanti akan saya sampaikan saat pembahasan. Dengan urgensi seperti ini, semoga bisa dipertimbangkan lebih cepat,” ujarnya.
Warga berharap pemerintah segera memberikan solusi berupa pembangunan turap atau pengaman tebing sebelum kejadian yang lebih buruk menimpa.
“Kami khawatir setiap hari. Mohon bantuannya sebelum ada korban,” ujar warga setempat.


Komentar Via Facebook :