DKPP Kota Bandung Gelar Gerakan Pangan Murah Jelang Nataru

DKPP Kota Bandung Gelar Gerakan Pangan Murah Jelang Nataru

CYBER88 | Bandung, -- Pemerintah Kota Bandung melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) menggelar Gerakan Pangan Murah (GPM) sebagai antisipasi lonjakan harga bahan pokok menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru). Program ini juga bertujuan menjaga stabilitas harga, memastikan ketersediaan pangan, dan melindungi daya beli masyarakat. 

Pelaksanaan GPM dimulai Sabtu, 14 Desember 2025, di area Kantor DKPP Kota Bandung. Kegiatan digelar bekerja sama dengan Badan Pangan Nasional (BPN), Perum Bulog, ID Food, serta sejumlah distributor pangan, dan berlangsung sejak pagi hingga seluruh stok habis. Pemerintah kota juga mempertimbangkan pelaksanaan GPM lanjutan di titik lain sesuai tren harga dan kebutuhan masyarakat.

Harga Lebih Murah dari Pasar

Beberapa komoditas utama yang dijual lebih rendah dibanding pasar antara lain:

Beras SPHP: Rp 60.000 per 5 kg (kuota 1 ton)

Telur ayam: Rp 27.000 per kg (kuota 500 kg)

Daging ayam: Rp 36.000 per kg

Selain itu, tersedia bawang merah, bawang putih, minyak goreng, gula, dan cabai merah yang belakangan mengalami kenaikan harga.

“Prinsip GPM adalah menjual lebih murah dari harga pasar. Telur dijual Rp 27.000 per kilogram, sementara di pasaran sudah di atas Rp 30.000,” tegas Ahmad Wahyudin, Analis Ketahanan Pangan Ahli Madya DKPP Kota Bandung.

Ahmad menambahkan, pasokan pangan Kota Bandung masih aman. “Beras sebagian besar dipasok dari Cianjur, Indramayu, Subang, Garut, dan Tasikmalaya, serta sebagian dari Jawa Tengah. Telur ayam didominasi pasokan dari Blitar, Jawa Timur, sedangkan Majalaya, Jawa Barat, masih terbatas,” ujarnya.

Pemkot Bandung Perluas Operasi Pasar

Selain GPM, Pemkot Bandung memperkuat operasi pasar di sejumlah kecamatan untuk menekan inflasi daerah menjelang Nataru. Fokus operasi pasar adalah komoditas yang mengalami kenaikan harga, seperti beras, cabai, telur, dan minyak goreng.

Kepala DKPP Kota Bandung mengatakan, peningkatan konsumsi masyarakat akhir tahun menjadi faktor utama kenaikan harga. Intervensi pasar dilakukan untuk menjaga ketersediaan sekaligus menstabilkan harga di tingkat konsumen.

“Langkah ini bagian dari strategi pengendalian inflasi daerah agar masyarakat tetap memperoleh pangan pokok dengan harga wajar,” kata kepala DKPP.

Pemkot Bandung juga berkoordinasi dengan pemerintah pusat dan daerah penghasil untuk memastikan distribusi pangan lancar hingga awal 2026.

Komentar Via Facebook :