Pembentukan Opini Publik Perlu Diwaspadai Intelijen Gunakan Pendekatan Berbasis Data
Cyber88 |•| Jakarta — Pengamat intelijen dan kebangsaan, Stepi Anriani, menilai bahwa dinamika pembentukan opini publik di era digital saat ini perlu dicermati secara serius, terutama jika terdapat indikasi pola penyebaran narasi yang terkoordinasi dan berdampak pada persepsi publik terhadap institusi negara.
Menurut Stepi, pernyataan Presiden terkait isu-isu strategis nasional tidak disampaikan secara sembarangan, melainkan telah melalui proses analisis serta masukan dari berbagai sumber, termasuk informasi intelijen yang bekerja berdasarkan data dan indikator faktual, bukan sekadar asumsi.
"Ia menjelaskan bahwa dalam kajian intelijen, terdapat sejumlah indikator yang dapat menjadi perhatian ketika muncul opini publik yang masif dan cenderung seragam. Di antaranya adalah kemungkinan adanya pendanaan berulang kepada pihak-pihak tertentu, konsistensi narasi yang disebarkan dalam beberapa periode, serta keterkaitan antar akun atau aktor yang menyebarkan pesan serupa.
Selain itu, indikasi lain dapat terlihat dari tujuan strategis yang dibangun dalam narasi tersebut, misalnya jika opini yang berkembang diarahkan untuk menurunkan kepercayaan publik terhadap kebijakan atau legitimasi institusi negara.
“Biasanya pola narasi yang terkoordinasi memiliki diksi yang seragam, muncul hampir bersamaan, serta mengangkat isu yang sama pada waktu yang relatif berdekatan,” ujarnya.
Stepi juga menilai bahwa dalam praktiknya, pembentukan opini publik sering kali diawali dengan pemicu emosi masyarakat, kemudian diperkuat melalui jaringan buzzer atau influencer sebagai penggerak opini di ruang digital.
Ia menambahkan bahwa fenomena serupa tidak hanya terjadi di Indonesia, melainkan juga di berbagai negara lain, bahkan telah berkembang menjadi industri global dengan nilai ekonomi yang besar, khususnya dalam praktik kampanye opini digital.
Meski demikian, Stepi menekankan bahwa kritik dan perbedaan pandangan tetap merupakan bagian dari demokrasi. Namun, masyarakat diharapkan tetap kritis dalam menyaring informasi serta memahami perbedaan antara kritik konstruktif dengan narasi yang berpotensi memecah belah atau memanipulasi opini publik.
Para pengamat pun mengingatkan pentingnya literasi digital agar masyarakat tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang belum tentu memiliki dasar fakta yang jelas.


Komentar Via Facebook :