250 Chef Unjuk Keahlian Olah Menu MBG Dari Dana Minimalis Menjadi Makanan Berkualitas dan Bergizi

250 Chef Unjuk Keahlian Olah Menu MBG Dari Dana Minimalis Menjadi Makanan Berkualitas dan Bergizi

CYBER88 | Bandung Barat - Memanfaatkan momen halal bihalal pasca hari raya Idul fitri sebanyak 250 chef nasional dan Internasional hadir dalam kegiatan memperkuat standar penyusunan menu makanan bergizi gratis(MBG) untuk lebih terukur dari segi kualitas, higienis, kandungan gizi cukup dan efisiensi anggaran, jum'at (27/03). 

Kegiatan ini digagas oleh Ketua Yayasan Yayasan Azura Berkah Rejeki, Hendrik Irawan dan Lisda di SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi) Pangauban Batujajar Kabupaten Bandung Barat, dengan peserta perwakilan chef dari seluruh Indonesia dan Mr David chef dari Prancis. 

Hendrik Irawan, menegaskan bahwa penyusunan menu MBG harus dilakukan secara serius, terukur, dan tidak boleh dipandang sebagai pekerjaan rutin semata.

“Kami ingin menegaskan bahwa menu MBG tidak bisa disusun secara asal, harus ada ukuran yang jelas, mulai dari kualitas bahan, kebersihan, teknik pengolahan, rasa, hingga nilai gizinya. Karena yang disiapkan bukan sekadar makanan, tetapi konsumsi yang harus benar-benar bermanfaat dan layak,” tegas Hendrik.

Menurut dia, salah satu tantangan terbesar di lapangan adalah bagaimana menghadirkan menu yang tetap layak, sehat, dan berkualitas, meski berada dalam keterbatasan anggaran, karena itu forum ini juga diarahkan untuk membangun pola pikir yang lebih solutif dan profesional di kalangan para chef.

“Kami ingin memotivasi bahwa dengan anggaran yang minimal, tetap bisa menghasilkan makanan yang berkualitas, higienis, aman dikonsumsi, enak, dan memenuhi standar gizi yang baik. Di sinilah kualitas seorang chef diuji—bukan hanya pada kemampuan memasak, tetapi juga pada kemampuan menyusun menu yang efisien dan tetap bernilai,” ujarnya.

Ia menambahkan, standar makanan yang baik tidak cukup hanya diukur dari tampilan atau rasa, tetapi juga dari ketepatan komposisi bahan, keamanan pangan, serta konsistensi mutu dalam setiap proses penyajian.

Sementara itu, Lisda menilai kegiatan tersebut penting sebagai wadah untuk membangun budaya sharing, evaluasi, dan pembelajaran bersama antar chef dari berbagai daerah.

Menurutnya, peningkatan kualitas menu MBG tidak akan berjalan maksimal jika tidak dibarengi dengan keterbukaan untuk saling bertukar pengalaman dan praktik terbaik. 

“Kegiatan ini kami laksanakan agar para chef memiliki ruang untuk berbagi pengalaman, bertukar gagasan, dan saling memberi masukan dengan harapan menu MBG ke depan bisa terus diperbaiki secara menyeluruh, baik dari sisi rasa, penyajian, kebersihan, efisiensi bahan, hingga kandungan gizi,” kata Lisda.

Ia menegaskan bahwa kualitas makanan tidak selalu ditentukan oleh mahalnya bahan baku, tetapi lebih pada ketepatan perencanaan, kecermatan pengolahan, dan disiplin dalam menjaga standar.

Rangkaian kegiatan tidak hanya diisi dengan sesi halal bihalal, tetapi juga pemaparan materi terkait standar penyusunan menu MBG, diskusi teknis, serta demo masak yang diperagakan langsung oleh para chef profesional.

Forum ini menjadi ruang penting bagi peserta untuk memperkaya wawasan sekaligus menyamakan persepsi dalam penyajian makanan yang lebih baik.

Kegiatan tersebut juga mendapat perhatian khusus dengan hadirnya chef asal Prancis, Mr. David yang turut berbagi pengalaman dan teknik memasak kepada para peserta, kehadirannya dinilai memberikan sudut pandang baru, terutama dalam aspek efisiensi pengolahan, inovasi dapur, dan peningkatan mutu penyajian makanan.

Dari forum ini, para chef yang hadir menyatakan komitmennya untuk terus menjaga kualitas, higienitas, keamanan pangan, dan nilai gizi makanan, terutama dalam penyajian makanan bagi anak-anak Indonesia.

Mereka sepakat bahwa peran chef tidak lagi sekadar berada di dapur, tetapi juga menjadi bagian penting dalam memastikan makanan yang disajikan benar-benar mendukung tumbuh kembang generasi bangsa.

Melalui kegiatan ini, SPPG Pangauban diharapkan tidak hanya menjadi tempat pelaksanaan kegiatan kuliner, tetapi juga berkembang menjadi ruang penguatan standar dan kolaborasi chef nasional dalam mendorong lahirnya menu MBG yang lebih baik, lebih tepat sasaran, dan lebih berkualitas dalam segala aspek. (yus).

Komentar Via Facebook :