Bela Negara di Era Digital: Ambon Perkuat Benteng Kognitif Generasi Muda Indonesia
CYBER88 | Ambon – Di tengah derasnya arus informasi digital dan semakin kompleksnya ancaman nonmiliter terhadap bangsa, semangat bela negara kini memasuki babak baru. Bela negara tidak lagi dimaknai semata sebagai kesiapan menghadapi ancaman fisik atau agresi militer, tetapi juga kemampuan menjaga cara berpikir, karakter kebangsaan, serta persatuan bangsa dari ancaman perang kognitif (cognitive warfare) yang semakin nyata di era digital.
Kesadaran itulah yang menjadi semangat dalam pelaksanaan Sosialisasi dan Diseminasi Pembinaan Kesadaran Bela Negara (PKBN) Lingkup Pemerintah Kota Ambon Tahun Anggaran 2026 yang resmi dibuka di Hotel Santika Premiere Ambon, Kamis. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Kementerian Pertahanan Republik Indonesia melalui Badan Cadangan Nasional (Bacadnas) ini mengusung tema “Generasi Muda Penjaga Benteng Kognitif NKRI untuk Indonesia Emas 2045”.
Rangkaian kegiatan diawali dengan registrasi peserta dan pelaksanaan pre-test, dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, doa bersama, serta penyampaian materi dari sejumlah narasumber yang membahas kebijakan bela negara, wawasan kebangsaan, dan implementasi nilai-nilai bela negara di era digital.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Wali Kota Ambon, Drs. Bodewin Melkias Wattimena, M.Si., unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kota Ambon, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Maluku, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Maluku, unsur TNI dan Polri, para guru dan dosen, pelajar dan mahasiswa se-Kota Ambon, serta tamu undangan lainnya.
Dalam sambutannya, Wali Kota Ambon Bodewin Wattimena menegaskan bahwa ancaman terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia saat ini tidak lagi berbentuk agresi militer semata. Perang modern, menurutnya, telah memasuki ruang kognitif masyarakat melalui manipulasi informasi, ujaran kebencian, radikalisme, hingga disinformasi yang beredar tanpa batas di ruang digital.
"Saat ini kita menghadapi perang multidimensi, termasuk perang kognitif, yaitu upaya sistematis memengaruhi cara berpikir, persepsi, emosi, bahkan ideologi masyarakat melalui berbagai platform digital. Ancaman ini menjadi semakin serius karena generasi muda merupakan kelompok yang paling aktif memanfaatkan teknologi informasi," ujar Bodewin.
Ia mengingatkan bahwa derasnya informasi yang tidak terverifikasi dapat menggerus identitas kebangsaan, rasa cinta tanah air, hingga kepercayaan terhadap negara apabila tidak disikapi secara kritis. Oleh sebab itu, penguatan karakter, mental, dan spiritual generasi muda menjadi investasi penting dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045.
"Pemerintah Kota Ambon berkomitmen mendukung seluruh program pembinaan kesadaran bela negara. Generasi muda Ambon harus dipersiapkan menjadi pelaku utama pembangunan Indonesia Emas, bukan hanya menjadi penonton di negeri sendiri," tegasnya.
Bodewin juga mengajak masyarakat Kota Ambon untuk terus menjaga persatuan serta tidak mudah terprovokasi oleh berbagai isu yang mengatasnamakan identitas suku, agama, maupun ras.
"Kalau ada persoalan hukum, serahkan kepada aparat penegak hukum. Jangan kita memperuncing keadaan dan mudah terprovokasi. Nilai bela negara hari ini salah satunya adalah menjaga persatuan dan kesatuan," pesannya.
Sementara itu, Kepala Badan Cadangan Nasional Kementerian Pertahanan RI, Letjen TNI Gabriel Lema, yang sambutannya dibacakan oleh Kepala Pusat Bela Negara Bacadnas Kemhan RI, Brigjen TNI Parluhutan Marpaung, S.I.P., M.Han., menyampaikan bahwa ancaman terbesar bangsa saat ini justru datang dari ruang informasi yang secara perlahan mampu mengubah cara berpikir masyarakat.
Menurutnya, perang kognitif merupakan ancaman nonmiliter yang bergerak melalui manipulasi opini publik, disinformasi, eksploitasi algoritma media sosial, hingga polarisasi sosial yang menyasar generasi muda.
"Bela negara hari ini bukan hanya soal kesiapan menghadapi ancaman fisik, tetapi bagaimana kita memiliki ketahanan berpikir, tidak mudah percaya terhadap hoaks, tidak mudah terpecah, serta mampu menjaga akal sehat publik di tengah derasnya arus informasi," ungkapnya.
Ia menjelaskan, pembinaan kesadaran bela negara merupakan langkah strategis untuk menyiapkan sumber daya manusia Indonesia yang berkarakter kebangsaan, tangguh, adaptif, dan mampu menghadapi tantangan multidimensi di masa depan.
Lima nilai dasar bela negara yang harus diinternalisasikan meliputi cinta tanah air, sadar berbangsa dan bernegara, setia kepada Pancasila sebagai ideologi negara, rela berkorban untuk bangsa dan negara, serta memiliki kemampuan awal bela negara.
"Kita harus membangun generasi yang tidak mudah terombang-ambing informasi, tidak mudah diadu domba, tetap menjaga jati diri kebangsaan, dan menjadi penjaga akal sehat publik di masa depan," ujarnya.
Brigjen TNI Parluhutan Marpaung juga menilai Kota Ambon memiliki modal sosial dan sejarah kebangsaan yang kuat untuk menjadi teladan kader bela negara di Indonesia. Keberagaman yang hidup berdampingan di Ambon menjadi modal penting dalam memperkuat nilai toleransi dan persatuan bangsa.
"Pelajar dan mahasiswa yang hadir hari ini bukan sekadar peserta kegiatan, tetapi calon penggerak yang akan menyebarluaskan nilai-nilai bela negara di sekolah, kampus, keluarga, lingkungan sosial, bahkan ruang digital," katanya.
Ia pun mengajak generasi muda untuk memanfaatkan media sosial secara produktif sebagai sarana menyebarkan nilai-nilai bela negara.
"Kegiatan ini silakan direkam dan dibagikan melalui TikTok, Instagram, maupun media sosial lainnya. Jadikan ruang digital sebagai sarana menyebarkan nilai-nilai bela negara," pesannya.
Selain itu, Kementerian Pertahanan juga telah berkoordinasi dengan Kementerian Pendidikan terkait penguatan pendidikan karakter melalui program Korps Kadet Republik Indonesia (KKRI) yang telah masuk dalam kegiatan ekstrakurikuler berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 136 Tahun 2026. Program tersebut diharapkan menjadi instrumen strategis dalam menanamkan karakter kebangsaan sejak usia dini.
Pelaksanaan Sosialisasi dan Diseminasi PKBN Tahun Anggaran 2026 menjadi pengingat bahwa bela negara pada hakikatnya dimulai dari hal-hal sederhana, yakni menjaga persatuan, bersikap kritis terhadap informasi, menghormati perbedaan, serta menempatkan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi maupun golongan.
Di tengah tantangan era digital yang semakin kompleks, benteng pertahanan bangsa tidak hanya dibangun melalui kekuatan militer, tetapi juga melalui kekuatan karakter, literasi, dan integritas generasi mudanya. Dari Ambon, pesan itu kembali ditegaskan: menjaga Indonesia tidak selalu dilakukan dengan mengangkat senjata, tetapi juga dengan menjaga akal sehat, merawat persatuan, dan menanamkan nilai-nilai bela negara dalam setiap ruang kehidupan menuju Indonesia Emas 2045.


Komentar Via Facebook :