Proyek Jembatan Margaluyu II Cipeundeuy Disorot: Diduga Asal-asalan, Abaikan K3 dan Tak Libatkan Warga Lokal

Proyek Jembatan Margaluyu II Cipeundeuy Disorot: Diduga Asal-asalan, Abaikan K3 dan Tak Libatkan Warga Lokal

CYBER88 | Bandung Barat – Pekerjaan rehabilitasi Jembatan Margaluyu II di Kecamatan Cipeundeuy, Kabupaten Bandung Barat, kembali menjadi sorotan. Setelah sebelumnya dikeluhkan soal dugaan penggunaan material pasir tidak sesuai spek, kini proyek senilai Rp199.151.625 yang dikerjakan PT Hafuza Hazrina Nusantara itu dinilai dikerjakan asal-asalan.

Hasil pantauan di lapangan pada kamis, (30/07), sejumlah pekerja terlihat tidak menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) sesuai standar K3. Beberapa pekerja bahkan bekerja tanpa helm proyek, rompi, dan sepatu safety saat berada di area proyek. 

"Bahayanya itu. Di atas jembatan, cor-coran, tapi tidak ada yang pakai helm. Kalau ada apa-apa siapa yang tanggung jawab?" ujar salah seorang warga yang melintas.

Selain persoalan K3, warga juga menyoroti tenaga kerja yang digunakan. Berdasarkan informasi di lapangan, seluruh pekerja yang diterjunkan berasal dari luar daerah. Tidak ada satupun warga sekitar yang dilibatkan dalam pekerjaan tersebut.

"Padahal di sini banyak juga yang butuh kerja. Ini jembatan di kampung kita, tapi yang kerja orang luar semua. Kan harusnya ada pemberdayaan warga sekitar juga," kata Dadan, tokoh pemuda setempat.

Proyek rehabilitasi Jembatan Margaluyu II ini dibiayai dengan anggaran Rp199.151.625. Jembatan tersebut merupakan akses utama warga untuk aktivitas ekonomi, sekolah, dan distribusi hasil pertanian.

Undang-Undang No. 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja dan Permen PUPR No. 10 Tahun 2021 mewajibkan setiap proyek konstruksi menerapkan standar K3 secara penuh. Sementara itu, prinsip pemberdayaan masyarakat lokal juga menjadi bagian dari kebijakan pemerintah dalam setiap proyek pembangunan.

Hingga berita ini diturunkan, pihak PT Hafuza Hazrina Nusantara selaku pelaksana, PPK, dan Dinas PUPR Kabupaten Bandung Barat belum memberikan keterangan resmi terkait dugaan pelanggaran K3 dan minimnya pemberdayaan tenaga lokal.

Warga berharap instansi terkait segera melakukan sidak dan evaluasi. "Kami minta proyek ini diawasi ketat. Jangan sampai kualitasnya jelek dan membahayakan. Kalau bisa pekerjakan juga warga sini," tegas Dadan.(yus').

Komentar Via Facebook :