Abah H Anton Charliyan : Mari Kita Jadikan Pembelajaran Untuk Lebih Saling Menghormati Adat Istiadat, Tradisi, Agama dan Kepercayaan
CYBER88 | Tasikmalaya -- Sebagai manusia kita harus mengikuti belajar untuk saling menghormati adat istiadat, tradisi dan kepercayaan di tempat tinggal. “Dimana bumi dipijak, di sana langit dijunjung”. Hal itu disampaikan Irjen. Pol. (Purn) Dr. Drs. H. Anton Charliyan, M.P.K.N.
Manta Kapolda Jabar dan juga mantan Kadiv Humas Polri yang kerap disapa Abah Anton ini, mengajak untuk belajar dari sebuah peristiwa yang terjadi saat ini. Hal ini sangat berkesinambungan untuk lebih menggali lagi dari arti Bhineka Tunggal Ika dengan seksama.
Tidak hanya sekedar sebuah pemahanan sempit tentang arti : Berbeda - beda tetapi tetap satu. Karena menurut Abah Anton, kita hidup di Nusantara ini memang ditakdirkan sebagai bangsa yang multy Cultur, Multy Etnis dan Multy Agamis.
Dikatakan Abah Anton, “kita boleh berbeda Agama, Bahasa daerah, etnik, keturunan budaya tradisi, adat istiadat bahkan Kepercayaan. Tapi, sebagai mana kita sepakati bersama dari awal pembentukan bangsa dan negara ini, kita harus saling menghargai, saling Menghormati, saling toleransi segala perbedaan - perbedaan tadi, kalau tidak ingin disebut tidak tahu adat, tidak tahu etika atau bahkan bisa saja dilabeli sebagai sebuah sikap yang Intoleran.

Lanjutnya, disini Intoleransi bukan hanya terhadap Agama saja. Tetapi, terhadap segala perbedaan. Intinya kita harus lebih mengedepankan sikap - sikap Tepi Seliro, Toleransi dalam setiap perbedaan. Makanya, ada pepatah “Dimana Bumi Di Pijak Disana Langit Dijunjung”.
Kacai jadi saleuwi kadarat jadi Salebak (ke air jadi satu sungai, ke darat jadi satu satu sawah) artinya selalu kompak dalam satu visi bersama-sama untuk mencapai satu tujuan/gotong-royong
Ciri Sabumi, Cara Sadesa (Beda tempat Beda Kebiasaan), mari kita jadikan perbedaan ini sebagai sebuah keindahan yang harus kita jaga bersama. Apalagi yang menyangkut adat tradisi agama dan kepercayaan, ”Ajak Abah Anton yang merupakan salah satu Budayawan di Jawa barat.
Hal tersebut sangat -sangat sensitip karena akan menyakiti bukan hanya satu Individu. Tapi, bisa menyakiti dan menyulut emosi satu Komunitas, suku bangsa, bahkan satu Negara. Karena didalamnya ada terkandung nilai - nilai luhur.
Kesucian, Sakralisme Kepercayaan, bahkan kebanggan, kehormatan harga diri dll. Sekali lagi kita ingatkan, akan sangat sensitf bila hal tersebut terganggu dan ternodai. Mari kita jadikan Pembelajaran utk lebih saling Menghormati Adat istiadat, Tutup Abah H Anton Charliyan.


Komentar Via Facebook :