Periksa 5 Saksi Terkait Penjarahan di PT Langgam, Polisi Akan Tetapkan Tersangka

Periksa 5 Saksi Terkait Penjarahan di PT Langgam, Polisi Akan Tetapkan Tersangka

CYBER88 | Kampar -- Karyawan PT Langgam Harmuni diancam sekumpulan massa untuk segera meninggalkan rumah mereka di Desa Pangkalan Baru, Kecamatan Siak Hulu, Kabupaten Kampar, Riau, selain diusir rumah karyawan juga dijarah ratusan orang tak dikenal.

Kondisi rumah karyawan PT. Langgam Harmoni yang dijarah (Foto Istimewa)

Peristiwa itu telah dilaporkan ke Polres Kampar dan telah dilakukan pemeriksaan sejumlah saksi untuk penetapan tersangka.

"Sudah 5 orang diperiksa, semuanya dari karyawan PT Langgam Harmoni dan masih ada beberapa pihak lagi yang akan diperiksa, setelah itu gelar perkara untuk menentukan kasus ini naik ke penyidikan atau tidak," ujar Kasat Reskrim Polres Kampar, AKP Berry Juana, Senin (2/11).

Yusri Erwin Kepala Desa Pangkalan Baru meminta agar tidak ada pengalihan isu dari kejadian penjarahan itu dan mengatakan terdapat segelintir orang mencoba mengalihkan isu dengan mengeluarkan pernyataan yang berbeda dari kejadian.

"Memang benar, karyawan PT Langgam yang menjadi korban kejadian beberapa waktu lalu itu adalah warga Desa Pangkalan Baru, mereka telah memiliki KTP serta KK dari desa kita," ujar Yusri.

Sebelum terjadi peristiwa tersebut pada Kamis (15/10) lalu, Yusri ada melihat sekitar belasan orang yang diduga preman dan memang bukan merupakan warga desanya ketika sedang duduk-duduk di persimpangan jalan desa.

"Saya melihat mereka sepertinya ada  yang ditunggu, lalu saya hampiri dan bertanya mau kemana mereka menjawab gak ada pak hanya menunggu kawan kata mereka," jelas Yusri.

Karena melihat semakin banyak kerumunan dan berkumpul orang, takut akan terjadi sesuatu, saya mengimbau agar sekelompok orang itu untuk membubarkan diri agar tidak berbuat ulah di desanya. 

"Namun ternyata yang saya temui itu adalah bagian dari kelompok yang melakukan penjarahan di rumah karyawan PT Langgam Harmoni," ujarnya.

Tidak berapa lama Yusri mengaku mendapat laporan adanya kejadian keributan di perumahan karyawan PT Langgam itu, dengan tidak menunggu lama dia langsung menuju lokasi dan melihat pimpinan kebun bernama Basken Manalu sudah diapit oleh beberapa preman, sementara karyawan lain sudah di bawah ancaman serta diusir dalam tempo 15 menit untuk meninggalkan lokasi perumahan.

"Saya berusaha untuk melerai namun tak diindahkan malah mendapat kata kasar dari mereka, saat itu saya mencoba untuk berkomunikasi dengan pak Basken, namun mereka menghalangi sehinga saya tidak bisa jumpa," imbuh Yusri.

"Saya pastikan mereka yang melakukan penjarahan dan pengusiran adalah bukan penduduk desa saya, dugaan saya mereka preman bayaran yang dipimpin oleh HST, saat kejadian itu mereka membawa senjata tajam, senapan dan sebagainya," ujarnya.

Pasca kejadian tersebut, saat ini kondisi di perumahan karyawan dan Desa Pangkalan Baru sudah kondusif dan masyarakat beraktivitas seperti biasa, akan tetapi belakangan ini saya mendapat informasi terdapatnya sejumlah orang yang mengalihkan isu tentang kejadian itu dikaitkan dengan sengketa lahan.

"Pihak- pihak yang mencoba mengalihkan isu penjarahan ini kepada sengketa lahan, menurut saya mereka tidak manusiawi dan tidak punya perasaan, mereka tidak melihat bagaimana waktu itu anak-anak dan ibu-ibu sangat ketakutan dan trauma, apalagi saat kejadian kondisi cuaca hujan dimana mereka dipaksa meninggalkan tempat tinggal sehingga mereka mengungsi ke balai desa sembari menunggu pihak kepolisian, disaat setelah  meninggalkan rumah teradi perusakan dan penjarahan," jelasnya.

Kepala desa mengaku telah mengetahui beberapa oknum yang mencoba untuk melakukan pengalihan isu tersebut, diantaranya ada seseorang oknum dosen yang mengaku bahwa oknum dosen tersebut pernah ditawari beberapa puluh miliar atas sengketa lahan di desanya.

“Janganlah jadi provokator dam bermanuver yang akan membuat resah dan gaduh di desa kami, jelas semua dusta dan bohong besar, kami sudah tahu kalau oknum dosen tersebut ada meminta uang damai saat itu di RM Koki Sunda dan ditolak, saya hadir dan menjadi saksinya waktu itu," tegas Kades.

Dia berharap agar orang-orang di luar Desa Pangkalan Baru berhenti mencampuri urusan di desanya, sebab menurutnya peristiwa pengusiran, pengancaman dan penjarahan itu murni dugaan tindak pidana.

"Tidak ada sengketa lahan masyarakat di sana, saya harap pihak kepolisian bertindak tegas untuk mengungkap pelaku, penanggung jawab serta otak peristiwa ini agar segera di bawa ke pengadilan dan diproses hukum sesuai ketentuan yang berlaku," ujarnya.

Akibat peristiwa itu, kata Yusri, 3 Desa yakni Desa Baru, Desa Buluh Cina, dan Desa Pangkalan Baru Kecamatan Siak Hulu, Kabupaten Kampar, sangat terganggu.

"Jika pihak kepolisian tidak cepat menyelesaikan kasus ini, kita khawatirkan lain waktu bisa saja desa kami diserang dan dijarah seperti perumahan Karyawan PT Langgam Harmoni ini, jadi harus ada penegakan hukum untuk ini, agar masyarakat tidak resah dan khawatir nantinya," ucapnya.

Dia menjelaskan, polemik antara KOPSA-M dan PTPN V, menurutnya dapat diselesaikan secara baik- baik dan bermusyawarah.

"Kecuali ada niat buruk dari pihak tertentu yang berkeinginan menjadikan koperasi ini bermasalah dan diperalat sebagai sumber pemasukan pribadi, mudah- mudahan tidak ada oknumnya yang begitu," tutup Kades yang selalu aktif mengawal permasalahan warganya.

Kuasa Hukum PT Langgam Harmoni, Patar Pangasian membenarkan adanya tindakan sekelompok orang tersebut, Ia mengatakan, peristiwa pengusiran itu terjadi disertai dengan pengancaman, penjarahan dan perusakan.

"Sebanyak 210 orang karyawan yang menjadi korban dalam aksi yang dilakukan oleh sekitar 400 orang itu," ujar Patar.

Menurutnya, ratusan orang yang melakukan pengusiran dan penjarahan harta serta aset perusahaan itu dikoordinatori oleh seseorang bernama Hendra dan Marvel,  Patar menduga bahwa mereka adalah preman bayaran.

"Saat datang ke lokasi mereka langsung menarik pimpinan kebun Basken R. Manalu dan mengancam dengan menggunakan senjata tajam serta benda tumpul dan meminta agar mesin genset listrik perumahan dimatikan," jelas Patar. (san/red)

Komentar Via Facebook :