Diduga Lemahnya Pengawasan dari Pihak Pertamina, Membuat Warga Sumedang Tak Merasakan Subsidi Gas Elpiji 3 Kg
CYBER88 | Sumedang -- Pemerintah terus melakukan persiapan pemberlakuan Program LPG 3 Kg Tepat Sasaran. Namun, Pemerintah belum juga menetapkan skema penyaluran elpiji bersubsidi yang tepat sasaran. Meskipun, wacana penyaluran elpiji bersubsidi yang tepat sasaran telah menjadi kajian dalam beberapa waktu silam.
Terkait penyaluran elpiji subsidi yang tepat sasaran sampai saat ini masih dalam pembahasan dengan Kemenko. Untuk anggaran 2021, Pemerintah masih akan menggunakan pola subsidi yang lama. Begitu pula dengan formula harga elpiji 3 kilogram, sampai saat ini tidak ada perubahan dari tahun sebelumnya.
Sementara, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menemukan sejumlah permasalahan pada program subsidi gas LPG 3 kilogram. Permasalahan itu diketahui dari hasil Kajian Sistem Tata Kelola Program LPG 3 Kg yang dilakukan pada 2019 lalu. Subsidi harga LPG 3 kg bermasalah mulai dari perencanaan, operasional, pengendalian, dan pengawasan.
KPK menilai kriteria spesifik atau definisi masyarakat miskin penerima subsidi serta jenis-jenis usaha mikro yang bisa menerima subsdi belum jelas. KPK juga menilai lemahnya sistem pengawasan distribusi serta lemahnya kendali dalam impelementasi penetapan harga eceran tertinggi.
Sehingga beberapa permasalahan timbul antara lain kurangnya sosialisasi dari Pertamina dan agen kepada pangkalan yang menyebabkan banyak pangkalan tidak mengisi logbook dengan benar
Sayangnya lagi, Sanksi bagi pangkalan yang menjual gas subsidi di atas harga eceran tertinggi (HET) juga dinilai masih minim. Dinas Perdagangan Kabupaten/Kota pun tidak mempunyai wewenang untuk menindak, hanya dapat memberi imbauan.
Disatu sisi, adanya Program LPG 3 Kg atau gas melon ini, oleh sebagian masyarakat, dianggap sebagai peluang untuk mencari keuntungan. Sehingga banyak bermunculan agen-agen dan pangkalan-pangkalan penjual gas elpiji subsidi ini, termasuk warung-warung pengecer, bagaikan tumbuhnya jamur dimusim Hujan.
Sebelumnya, Cyber88.co.id telah melakukan penelusuran di wilayah Kabupaten Sumedang terkait maraknya penjualan LPG 3 Kg seperti telah diberitakan sebelumnya. Bahkan Tim penelusuran juga menemukan sejumlah fakta yang mengarah terhadap dugaan adanya jual beli pangkalan.
Dari hasil penelusuran Cyber88.co.id, hampir disemua daerah yang ada di Sumedang, harga Gas Elpiji Bersubsidi ini, kalau membelinya di pengecer, seperti di warung-warung harganya bisa mencapai Rp.22 Ribu hingga Rp.24 ribu per tabung.
Selasa 23 Pebruari 2021 Cyber88.co.id, mencoba mendatangi kantor Pertamina bagian pemasaran Gas subsidi tersebut, yang berada di jalan Wirayudha Kota Bandung - Jawabarat
Didin, Koordinator Security di kantor Pemasaran tersebut, mengatakan, " sebenarnya kalau tentang kelalaian Agen dan pangkalan dalam menjual Gas tersebut Diatas HET, itu saya rasa tidak mungkin, karena selalu diadakan penyuluhan tentang penjualan Gas subsidi tersebut, " Ungkapnya"
Lanjutnya, "saya ucapkan terimakasih kepada bapak, karena sudah bisa membantu memantau dan kalaupun ada kejadian Agen dan pangkalan yang menjual Gas tersebut diatas HET, itu karena kami kekurangan Tenaga.
"Saya rasa lebih baik bapak datangi dulu kantor Hiswana Migas sebelum perapatan Antapani, karena semua Agen berada dibawah naungan Hiswana Migas, "terangnya.
Tim pun mencoba mendatangi kantor Hiswana Migas. Namun, kantor tersebut dalam keadaan kosong, yang ada hanya penjaga kantin, padahal pada saat itu, waktu menunjukan Jam 10.30.Wib.
Rabu (24/02/21) Tim kembali melakukan penelusuran ke lapangan dan menemukan hal yang sama seperti sebelumnya.
Euis, warga Mekar Bhakti tanjungsari mengatakan, " Saya membeli Gas Subsidi ini, dengan harga 25 ribu dari warung sebelah, karena sewaktu kepangkalan Gas, katanya sudah habis tadi siang juga, "Terangnya.
Sama halnya dengan yang dikatakan DG warga Citali, "yang menjadi persoalan untuk masyarakat kecil, ketika mau membeli Gas tersebut kepangkalan langsung, selalu kehabisan barang, hal ini dikarenakan pangkalan terlalu mementingkan warung warung pengecer, " Jelasnya.
"Saya rasa seharusnya pihak Pertamina cepat benahi permasalahan ini, Tong meungpeun wae (Jangan tutup mata terus), " Cetusnya. (Uje/Sona)


Komentar Via Facebook :