Proyek Pembangunan Sarana Olah Raga di Taman Bukit Gelanggang Dumai 2021 Diduga Asal Jadi
Papan Proyek dan Sarana Olah Raga di Taman Bukit Gelanggang Dumai (ist)
CYBER88 | Dumai - Menjelang akhir tahun 2021, pelbagai pembangunan di Kota Dumai terus di gesa, tidak terkecuali dengan pembangunan berbagai macam sarana olah raga yang sedang berlangsung di dalam area Taman Bukit Gelanggang Kota Dumai. Minggu, (21/11/21).
Namun sepertinya pembangunan tersebut dikerjakan tanpa perencanaan yang matang oleh Konsultan Perencana, sehingga terkesan asal jadi dan tidak diawasi maksimal oleh Konsultan Pengwas yang telah ditunjuk, seperti kegiatan yang saat ini dikerjakan, diantaranya proyek Pemeliharaan Panggung Bukit Gelanggang Kota Dumai dengan nilai proyek Rp. 149.878.000,. Sesuai informasi yang tertera dari plang proyek tersebut, pekerjaan tersebut dikerjakan oleh kontraktor pelaksana CV. Fatih Bersaudara dan Konsultan Pengawas CV. Radha Consultant dengan waktu pelaksanaan 58 hari kalender, dimana pekerjaan utama proyek ini adalah pengecatan bangunan panggung Bukit Gelanggang.

Secara kasat mata, ketika awak media ini mengamati hasil pekerjaan tersebut, kelihatan asal jadi dan tidak mempunyai standar hasil yang jelas dari pekerjaan tersebut, seperti bahan cat yang digunakan asal asalan dan tanpa standar kualitas yang jelas dari pemberi pekerjaan, dalam hal ini Dinas Kepemudaan, olahraga dan Pariwisata Kota Dumai, hasil pengecatan juga sangat tipis dan banyak berserakan bekas tempat wadah cat tanpa merk disekiling panggung bukit gelanggang, sehingga patut diduga menggunakan bahan murahan dan tidak bertahan lama.
Baca juga : Brantas Kontraktor Nakal Polres Mesuji Turunkan Tenaga Ahli
Kemudian ketika awak media ini bergerak ke sisi belakang Panggung Taman Bukit Gelanggang, juga terdapat Proyek Pembangunan Lapangan Takraw dengan nilai proyek Rp. 102.255.000, sesuai dengan informasi yang tertera dalam plang proyek tersebut, pekerjaan ini merupakan Proyek dari Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata yang dilaksanakan oleh CV. Kirana Jaya Berkah dan konsultan Pengawas CV. Bisyarah Kencana Consultan, namun di plang proyek tersebut tidak tertera berapa lama waktu pekerjaan.
Namun sangat disayangkan pekerjaan tersebut dikerjakan tanpa perencanaan yang matang oleh Konsultan Perencanaan, karena untuk pembangunan lapangan takraw yang lumayan luas, dikerjakan tanpa proses pemadatan tanah dan cenderung dikerjakan saat kontur tanah seperti bubur dan dengan kondisi tanah Dumai yang didominasi tanah gambut, sangat beresiko tidak akan bertahan lama dan retak retak, apalagi sesuai informasi yang didapat awak media ini, pengecoran lapangan takraw tersebut tidak menggunakan besi tikar sebagai penguatan, apalagi pekerjaan tersebut dikerjakan menggunakan pengecoran manual menggunakan mesin molen konvensional sehingga tidak bisa dipastikan berapa standar mutu beton yang dihasilkan dari proses pengecoran tersebut, apalagi pekerjaan tersebut dilaksanaka dalam kondisi musim hujan dan dilokasi tanah gambut, bisa dipastikan hasil pekerjaan tersebut tidak maksimal dan asal jadi, contoh nyata dari pekerjaan asal jadi tersebut yaitu proyek pengecoran lapangan bukit gelanggang yang dilaksanakan tahun lalu (2020) dimana hasil pengecoran tersebut sekarang sudah retak retak disana sini.
Selanjutnya awak media ini bergeser kesisi kanan panggung Taman Bukit Gelanggang, terdapat sebuah pekerjaan pembangunan lapangan yang dikerjakan tanpa plang proyek, sehingga tidak diketahui kegiatan tersebut membangun apa.
Ketika awak media ini bertanya kepada seseorang yang mengaku memiliki salah satu proyek disekitar Taman Bukit Gelanggang, bahwa proyek tesebut merupakan pekerjaan pembangunan lapangan volly yang dananya bersumber dari dana CSR (Corporate Social Responsibelity) salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang berada di kota Dumai, hampir sama dengan pekerjaan yang sedang berlangsung di samping Taman Bukit Gelanggang, pekerjaan tersebut asal jadi dan tanpa perencanaan yang matang serta tanpa informasi yang jelas berapa nilainya siapa pelaksana pekerjaan tersebut.
Hasanul Arifin, seorang Aktivis Lingkungan Riau angkat bicara terkait proyek miliaran ini.
"Patut di duga ada upaya kongkalikong antara pemberi pekerjaan dengan kontraktor pelaksana serta Konsultan Pengawas sehingga pekerjaan tersebut hasilnya tidak maksimal dan asal jadi, sehingga diharapkan aparat penegak hukum terkait agar mengawasi pekerjaan tersebut sehingga uang yang bersumber dari masyarakat tersebut tidak sia sia.
Besi tikar (wiremhes), pekerjaan lapangan itu terkesan terburu-buru di duga tampa perencanaan yg matang, karena jika perencanaan yg matang tentunya diawali dengan pekerjaan pemadatan dan setelah itu baru di adakan pekerjaan pengecoran.
Dan melihat kultur tanah kota dumai yg cenderung gambut kering tentunya pengecoran semestinya memakai besi tikar atau whermes agar beton tidak mudah patah dan bobot beton pun tentunya dgn kwalitas yang jelas pula kwalitas k 250 ..jika pengecoran di lakukan secara manual di khawatirkan kwalitas bobot beton tidaklah dpt di pertanggung jawabkan alias bobot k 250nya tidak akan ketemu," tutupnya.(Red/Noy).


Komentar Via Facebook :