Sejarah Penahanan James Silaban, Elisabet Oktavia Sirait dan Victor Harianja Oleh Lisbon Sirait

Pertanyakan Keabsahan Surat Partuppolan di GPDI dan Uang 300 Juta

Pertanyakan Keabsahan Surat Partuppolan di GPDI dan Uang 300 Juta

CYBER88 | Pekanbaru - Cinta tak direstui hingga bayi lahir 3 hari yang dibawa kakeknya tanpa seizin orang tuanya bak cerita sinetron cinta di televisi swasta yang dialami oleh James Silaban dan istri Elisabet Oktavia Sirait.

Kepada kru media CYBER88 melalui kuasa hukumnya Darwis Sinaga menceritakan awal sejarah mereka (James dan istri) ditahan Polda Riau.

James Silaban dan Elisabeth Oktavia Sirait yang hingga berita ini terbit mendekam di balik tembok dan jeruji karena laporan pihak Elisabeth terkait nama dan tanda tangan yang berbeda di surat partupolon dan proses yang begitu cepat di lakukan penegak hukum di pekanbaru. Kamis, (18/11/21).

Bermula saudara sepupu dari pihak istri (Nurbeti Siburian) Lisbon Sirait yang kebetulan juga marga Sirait bernama Tua Abel Sirait warga kota medan menerima surat kuasa dari Lisbon Sirait di kota pekanbaru, melaporkan seorang warga pekanbaru bernama Victor Harianja yang menandatangani kolom orang tua di surat partupolon yang disediakan pihak GPDI Samuel jalan Mangkubumi pada acara pernikahan pasangan yang cukup umur.

Akibat dari tanda tangan Victor Harianja yang bersedia menjadi wali atas permintaan dan surat pernyataan Elisabeth Oktavia Sirait, sang wali dan James Silaban langsung di tahan pihak POLDA RIAU setelah selesai pemeriksaan pada hari yang sama serta saat ini sedang menjalani sidang di PN Pekanbaru.
 
Meskipun terlebih dahulu dilakukan penahanan terhadap Victor Harianja dan James Silaban oleh pihak POLDA Riau, penasehat hukum Syahban Siregar SH.MH dan Darwin Natalis SH selaku kuasa hukum terdakwa mempertanyakan sedari awal beberapa proses yang dilakukan penegak hukum yang mana Elisabeth dijemput dari tempat tinggal mertuanya (Tebing Tinggi) dan ditahan pada saat hamil tua hingga proses lahirnya bayi serta pelapor membawa bayi terlapor.

Kuasa Hukum ke tiga terdakwa mengatakan terlalu banyak pertanyaan kita selaku penasehat hukum ketiga klien kami yang menunggu antrian untuk di jawab;
1. Menurut surat dakwaan, Lisbon sirait melapor ke Polda Riau.
2. Menurut surat panggilan Ditreskrimum Polda Riau dengan nomor S.pgl/652/VI/RESI.9/2021, menyebutkan bahwa pelapor terdakwa itu Tual Abel Sirait.
3. Setelah perkara di limpahkan ke Kejaksaan Tinggi (Kejati) Riau, nama pelapor berubah menjadi Nurbetti.

Uang 300 Juta Disebut Oleh Ketua Ormas di Riau.

Persidangan pada Selasa (16/11/2021) di PN Pekanbaru yang  menghadirkan 4 saksi dari Kuasa Hukum terdakwa yakni Afrizal, Lisbon Sitohang, Marta dan Ompu Dantas Sabastian Boru Sinaga (ibu dari James Silaban).

Pada persidangan, saksi pertama bernama Afrizal mengungkapkan, terdakwa Victor Harianja memiliki kepribadian yang baik di lingkungan kediamannya dan aktif dalam kegiatan sosial. 

“Baik dalam musyawarah dan menolong,” katanya di hadapan Majelis Hakim.
Kemudian saksi ke-2 Lisbon Sitohang yang juga aktif dalam kegiatan Gereja Pentakosta selaku jemaat GPDI Immanuel Jalan Rawa Sari, Rumbai memberi keterangan perihal perkara yang menimpa Victor Harianja.

Dia menjelaskan, “Saya 9 tahun aktif dan penulis di Gereja GPDI Jalan Rawa Sari, Rumbai,” sebut Lisbon Sitohang.
Dia melanjutkan, terkait pembatalan Akta Nikah yang sudah disahkan, di dalam agama Kristen ada tertulis di salah satu ayat Alkitab.

“Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu apa yang telah dipersatukan Allah tidak boleh diceraikan manusia,” apapun alasannya. Dan biasanya sebelum melakukan pernikahan, pasangan yang mau menikah mengikuti pranikah atau konseling sebagai salah satu syarat dari pernikahan,” ucapnya.

Penasihat Hukum terdakwa Darwin Natalis Sinaga kemudian bertanya, syarat untuk menjadi jemaat di GPDI, apakah sudah “dibaptis selam” seperti yang dilakukan terdakwa James Silaban di GPDI Samuel dan sudah diberkati oleh Pendeta, sudah bisa dikatakan sebagai jemaat di Gereja GPDI? Kemudian, apakah lazim seorang pendeta mengeluarkan Surat Pembatalan Akta Nikah tersebut di kemudian hari?

Lisbon Sitohang dengan tegas menjawab, untuk yang menikah wajib melakukan “baptis selam.” Kemudian, menurut Lisbon Sitohang, salah satu ayat Alkitab mengatakan, “Tentang pengudusan dan supaya menjauhi pencabulan dan hidup menjadi suami-istri serta hidup di dalam pengudusan dan penghormatan, bukan dalam keinginan hawa nafsu,” kata Lisbon Sitohang. 

Dirinya menyatakan, kurang mengingat secara detil ayat tersebut. “Kurang lebih seperti itu bunyinya," ucapnya.

Selanjutnya saksi ke-3 bernama Martha yang juga selaku istri terdakwa Vintor Harianja mengatakan, Vintor Harianja melakukan tanda tangan sebagai Wali di surat yang katanya Surat Partupolon itu dengan dasar Surat Pernyataan Elisabet sendiri dan minta tolong, kata Martha.

“James Silaban menelepon suami (Victor Harianja, red) saya dan menceritakan dirinya mau menikah karena terlanjur salah pergaulan,” ujar Martha di depan Majelis Hakim.

"Perlu saya tegaskan, suami saya murni menolong James Silaban dan Elisabet Oktavia Sirait agar pernikahan mereka disahkan secara gereja. Tidak ada maksud lain, seperti yang dikatakan salah satu petinggi Ormas di Riau, bahwa suami saya menerima uang Rp 300 juta dari Elisabet Oktavia Sirait untuk jadi Wali-nya di pernikahan dengan James Silaban,” ungkapnya. 

Untuk saksi ke -4  penasehat hukum Syahban Siregar SH.MH meminta kapada hakim untuk di hadirkannya ibu James Silaban yang pada Selasa, (16/11/2021) berada di ruang sidang saat itu.

"Ijin yang mulia saksi ibu James mohon di hadirkan karena beliau hadir juga pada acara pernikahan," ucap Syahban Siregar dari layar zoom.

Darwin Sinaga bertanya kepada ibu James Silaban bagaimana cara mereka beri tanda tangan, beri penjelasan. 

"Oo gini sewaktu selesai pemberkatan diserahkan surat nikah baru tanda tangan yang di antar dan ditunjuk oleh pihak gereja yang pada saat tanda tangan tidak tertulis nama setelah itu karena tadi lupa untuk tukar cincin maka setelah tanda tangan melakukan tukar cincin" jawab br sinaga (ibu James Silaban). (A. Rambe).

Komentar Via Facebook :